ITB Naik Peringkat di THE Asia University Rankings 2026, Unggul di Riset dan Industri
Institut Teknologi Bandung (ITB) mencatat capaian signifikan berdasarkan Times Higher Education (THE) Asia University Rankings 2026. ITB meraih skor tertinggi pada kategori Research Environment dan Industry.
Selain itu, peringkat ITB pun naik dari klaster 501–600 Asia pada 2025 menjadi 351–400 Asia pada 2026.
Kenaikan ini menunjukkan penguatan posisi ITB di tingkat Asia, terutama pada aspek lingkungan riset dan keterhubungan dengan dunia industri.
Baca juga: 8 PTS Terbaik Indonesia Masuk THE Asia University Rankings 2026, Ini Daftar dan Peringkatnya
ITB mencatat skor 29,9 pada kategori Research Environment dan 68,9 pada kategori Industry. Kedua nilai tersebut menjadi yang tertinggi di Indonesia. Selain itu, skor total ITB meningkat dari 30,0 pada 2025 menjadi 37,1 pada 2026, yang turut mendorong kenaikan peringkat ITB secara keseluruhan.Kenaikan posisi ITB dalam THE Asia University Rankings 2026 turut ditopang oleh peningkatan pada hampir seluruh indikator utama.
Pada aspek teaching, skor ITB meningkat dari 25,7 menjadi 27,2. Research Environment naik dari 20,0 menjadi 29,9, sedangkan Research Quality meningkat dari 37,6 menjadi 42,9. Peningkatan paling besar terlihat pada Industry, yang melonjak dari 39,4 menjadi 68,9. Adapun International Outlook tercatat 31,0.
Baca juga: 10 Universitas Terbaik di Indonesia Versi THE Asia University Rankings 2026, Ada Kampusmu?
Ketua Satuan Penjaminan Mutu ITB, Prof. Dr.Eng. Suprijadi mengatakan bahwa peningkatan ini menjadi momentum penting bagi ITB untuk terus memperkuat berbagai aspek strategis.
“Untuk tahun ini terjadi peningkatan yang signifikan. Hal ini jadi bahan bakar kita untuk lebih semangat, terutama di kerja sama internasional, teaching, dan research. Khususnya kita akan diperkuat dari SDGs, yang berefek langsung terhadap jumlah mahasiswa asing, partner, researcher, publikasi, dan sitasi,” ujarnya, dikutip dari laman ITB, Jumat (25/4/2026).
Ia juga menekankan pentingnya peran kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dalam arah pengembangan ke depan. Menurutnya, saat ini pusat gravitasi pengembangan keilmuan, riset, maupun dampak semakin mengarah pada AI.
“Tidak hanya untuk pembelajaran dan kurikulum, namun juga melibatkan AI sebagai problem solver dan untuk mendorong critical thinking. Kita juga dalam tata kelola riset dapat menggunakan AI sebaik mungkin,” tambahnya.










