Roda Nasib Berputar Cepat: Dulu Jerman Merajai China, Kini Mereka Cuma Jadi Mobil Bapak-Bapak
Empat puluh tahun lalu, Volkswagen (VW) adalah raja di Tiongkok.
Tahun 1985, saat pameran mobil pertama di Shanghai, brosur VW ludes diserbu warga lokal. "Bagi orang-orang saat itu, mengagumi kualitas kertas dan cetakannya saja sudah cukup untuk bermimpi memiliki mobil," kenang Carl Hahn, mantan CEO VW. Label "Made in Germany" adalah kasta tertinggi.
Tapi itu dulu. Sekarang, roda nasib berputar begitu cepat. Sangat kejam.
Di Beijing Auto Show 2026 yang dibuka Jumat ini, pabrikan Jerman butuh lebih dari sekadar brosur mengkilap untuk bertahan hidup. Warisan kebesaran mesin pembakaran dalam (combustion engine) Jerman sudah tak laku di mata anak muda China.
"Mungkin beberapa pelanggan yang lebih muda menganggap kami sebagai merek untuk orang tua mereka (bapak-bapak)," aku Robert Cisek, CEO Volkswagen China, terus terang kepada Reuters.Pasar otomotif terbesar di dunia itu kini dikuasai merek lokal. Mereka memproduksi kendaraan listrik (EV) yang murah, mencolok, dan canggih. Mobil-mobil itu bukan lagi sekadar alat transportasi, melainkan ponsel pintar berjalan.
Pabrikan Jerman benar-benar buta melihat kebangkitan ini. Penjualan VW, Porsche, Audi, BMW, hingga Mercedes-Benz anjlok berjamaah. Padahal, dulu sepertiga penjualan global mereka berasal dari pasar gemuk China.
Data S&P Global Mobility mencatat sejarah pahit ini. Secara kolektif, penjualan mobil Jerman di Tiongkok merosot seperempatnya dalam lima tahun terakhir, tersisa 3,9 juta kendaraan pada 2025.
Setelah seperempat abad duduk manis sebagai produsen nomor satu di China, VW akhirnya ditendang oleh raksasa EV lokal, BYD, pada 2024. Setahun kemudian, 2025, posisi VW kembali merosot ke peringkat ketiga, disalip Geely.
Transformasi pasar dari mesin pertumbuhan menjadi medan pertempuran berdarah ini disebut Cisek "di luar imajinasi."Kini, tantangannya bukan lagi sekadar bertahan di pasar lokal Tiongkok. Ada ancaman yang lebih besar. Peran telah berbalik total.
Dulu, Eropa mengincar Tiongkok karena pasarnya yang luar biasa besar dan gemuk. Semua pabrikan berlomba-lomba jualan di sana. Sekarang, justru sebaliknya. Mobil-mobil listrik Tiongkok yang unjuk gigi di Beijing Auto Show 2026 ini dipamerkan untuk menargetkan pasar Eropa!
Lebih dari satu dari empat mobil baru di Tiongkok kini sepenuhnya listrik. Pabrikan Tiongkok sudah menang di kandang, dan kini mereka mulai merangsek ke segmen premium, membidik dompet orang-orang kaya yang dulu mendewakan kualitas Jerman. Eropa tak lagi aman.
Pabrikan Barat harus cepat sadar bahwa mereka bukan lagi penentu arah masa depan otomotif. Arah itu kini ditentukan di Beijing Auto Show 2026.








