Pertarungan Sengit di Kandang Sendiri: Siasat Nissan dan Honda Menangkis Invasi BYD Racco di Jepang
Alih-alih berperang di segmen SUV bongsor, persaingan mobil listrik di Jepang justru memanas di kelas kendaraan kompak (Kei Car) dengan kehadiran BYD Racco asal China yang memaksa Nissan dan Honda memutar otak dan membanting harga.
China memang agresif. Di mana-mana mereka jualan SUV listrik berbadan besar. Namun, untuk menembus pasar Jepang, mereka harus membuang ego itu. Mereka harus mengikuti "kultur" jalanan Jepang.
Jepang punya cara sendiri mengadopsi kendaraan elektrifikasi. Bukan lewat SUV mewah yang memakan tempat. Tapi lewat Kei Car. Mobil ringkas, kotak, dan lincah di jalanan sempit.
China, lewat raksasa BYD-nya, paham betul soal ini. Maka, musim panas tahun ini, mereka akan meluncurkan BYD Racco. Ini bukan sekadar mobil listrik biasa. Ini adalah model BYD pertama yang dirancang eksklusif, khusus hanya untuk pasar Jepang.
Bentuknya disesuaikan: sedikit lebih tinggi dari minivehicle standar agar kabinnya lega. Desainnya sangat "Jepang". Harganya? Diperkirakan sekitar 2 juta Yen (sekitar Rp 209 juta). Harga yang dihitung cermat untuk memukul mundur pabrikan lokal. Tapi Jepang tentu tidak mau rumahnya dijajah begitu saja. Mereka bereaksi. Cepat dan rasional.
Nissan, misalnya. Mereka sudah punya mobil listrik mungil bernama Sakura yang rilis 2022 lalu. Melihat ancaman Racco, Nissan memutuskan untuk "banting harga".
Musim panas ini, Nissan akan merilis versi murah dari Sakura. Harganya dipotong 150.000 Yen (Rp 15,6 juta). Ditambah lagi subsidi negara sebesar 580.000 Yen (Rp 60,7 juta). Maka, harga bersih sebuah Nissan Sakura kini menjadi 1.868.600 Yen (sekitar Rp 195,6 juta).
Strategi ini langsung membalikkan keadaan. Nissan Sakura tiba-tiba menjadi lebih murah dari BYD Racco dengan jarak tempuh yang setara. (Meskipun Racco unggul di kecepatan charging).
"Kami harap mobil ini akan dipilih oleh orang-orang yang awalnya berniat membeli minivehicle bermesin bensin," ujar pejabat Nissan.Bagaimana dengan Honda? Mereka juga tidak diam. Musim gugur lalu mereka sudah merilis N-One e: yang dibanderol antara 2.699.400 - 3.198.800 Yen (sekitar Rp 282,5 juta - Rp 334,8 juta). Harganya memang lebih mahal, tapi jarak tempuhnya lebih jauh dari Racco maupun Sakura.
Bahkan, akhir bulan Mei nanti, Honda akan meluncurkan senjata baru yang lebih emosional: Honda Super One. Mobil listrik kompak yang bukan hanya soal jarak tempuh, tapi soal sensasi fun to drive.
Super One diklaim sebagai salah satu EV teringan di Jepang, dirancang untuk pengendaraan yang sangat presisi dan lincah.
Persaingan ini membuat para petinggi otomotif bereaksi. Presiden Suzuki Motor, Toshihiro Suzuki, secara terbuka menyebut kehadiran BYD sebagai perkembangan penting.
"Ada banyak standar mobil kecil di dunia, dan BYD memilih standar K-Car Jepang. Saya senang," ujarnya. Tapi ia juga tak menampik: "BYD adalah ancaman signifikan." Mengingat konsumen Jepang kini mulai terbuka pada produk buatan Tiongkok.Di sisi lain, General Manager BYD Asia-Pasifik, Liu Xueliang, merendah dengan elegan. "Kami tidak datang untuk bersaing dengan pembuat mobil Jepang. Tujuan kami memberi konsumen Jepang lebih banyak pilihan."Kategori Kei Car ini bukan pasar main-main. Ia menyumbang 40 persen dari total pasar mobil Jepang dengan nilai sekitar 18 miliar USD (sekitar Rp306 triliun) per tahun.
Ketika penjualan mobil listrik (EV) di Amerika Serikat sedang stagnan, pasar Jepang yang sebelumnya tertinggal justru sedang mekar-mekarnya.
Apalagi harga bensin di sana kian meroket akibat krisis Timur Tengah. Pertarungan di jalanan sempit Jepang musim panas ini, sungguh, akan sangat seru disaksikan









