Kisah Jenderal Sjafrie Kawal Soeharto yang Tolak Pakai Rompi Anti Peluru saat Kunjungan ke Bosnia

Kisah Jenderal Sjafrie Kawal Soeharto yang Tolak Pakai Rompi Anti Peluru saat Kunjungan ke Bosnia

Nasional | sindonews | Sabtu, 25 April 2026 - 07:14
share

Menteri Pertahanan Jenderal TNI (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin menceritakan pengalaman mengawal Presiden Ke-2 RI Soeharto saat kunjungan ke negara perang Bosnia Herzegovina, 13 Maret 1995. Dia harus memutar otak bagaimana menjaga Soeharto yang menolak memakai rompi antipeluru dan helm pengamanan.

Kunjungan Soeharto ke Bosnia tergolong nekat dan sudah bulat. Buktinya, Soeharto langsung menandatangani surat pernyataan yang berisi PBB tidak bertanggung jawab jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan selama berkunjung ke Bosnia.

Baca juga: TNI Latihan Gabungan di Karimun Jawa, Tembakkan Rudal dan Bom secara Presisi

Dengan pesawat sewaan buatan Rusia, Soeharto terbang dari Zagreb, Kroasia ke Bosnia. Ikut mendampingi Komandan Grup A Paspampres Kolonel Inf Sjafrie Sjamsoeddin, Komandan Detasemen Pengawal Pribadi Presiden Mayor Cpm Unggul K Yudhoyono, Menlu Ali Alatas, Mensesneg Moerdiono, Panglima ABRI Jenderal TNI Feisal Tanjung, Kepala Badan Intelijen ABRI (BIA) Mayjen TNI Syamsir Siregar, Danpaspampres Mayjen TNI Jasril Jakub, serta Ajudan Presiden Kolonel Inf Sugiono.

Jarak waktu Zagreb ke Bosnia sekitar 1,5 jam perjalanan. Di tengah perjalanan, terdengar instruksi semua penumpang wajib memakai helm dan rompi pengamanan."Ini tempat duduk, di bawahnya sudah dikasih antipeluru belum?" tanya Soeharto.

"Sudah Pak. Kami tutup semua dengan bulletproof untuk mengantisipasi tembakan dari bawah," jawab Sjafrie.

"Sampingnya?" tanya Soeharto lagi.

"Juga sudah, Pak," kata Sjafrie sambil memegang rompi dan helm pengamanan untuk Soeharto.

"Helmnya nanti masukkan ke Taman Mini ya. Nanti helmnya masukkan ke Museum Purna Bhakti," kata Soeharto."Eh, Sjafrie, itu rompi kamu cangking (tenteng) saja. Kamu cangking saja," sambung Soeharto yang menandakan enggan memakai rompi antipeluru seberat 12 kg yang mampu menahan tembakan M-16.

Soeharto hanya mengenakan jas dan kopiah dalam lawatan ke negeri perang Bosnia. Padahal, pengamatan Sjafrie dari balik jendela pesawat menjelang turun di Sarajevo, dia melihat senjata 12,7 mm yang biasa digunakan untuk menembak jatuh pesawat berputar-putar mengikuti pesawat yang ditumpangi Pak Harto.

Dalam situasi itu, jenderal lulusan Akademi Militer (Akmil) 1974 ini langsung memutar otak untuk melindungi Soeharto yang enggan mengenakan rompi dan helm pengamanan. Sjafrie yang memiliki kemampuan di bidang intelijen kemudian meminjam jas dan peci hitam sama persis dengan yang dipakai Soeharto. "Ini untuk menghindari sniper mengenali sasaran utamanya dengan mudah," ucap Sjafrie.

Pesawat yang ditumpangi rombongan Soeharto akhirnya sampai di bandara Sarajevo, Ibu Kota Bosnia. Rombongan dijemput Pasukan Kontingen Garuda XIV yaitu prajurit TNI yang bertugas sebagai pasukan perdamaian PBB di Bosnia dengan menggunakan dengan VAB, panser buatan Prancis yang mirip dengan Panser Anoa 6x6 produk PT Pindad.

Rombongan Soeharto kemudian menuju Istana Kepresidenan Bosnia untuk bertemu Presiden Bosnia Alja Izetbegovic. Untuk mencapai tujuan, panser-panser itu harus melewati Sniper Valley, tempat para penembak jitu dari kedua belah pihak yang berperang.

Rombongan Soeharto sampai di Istana Kepresidenan Bosnia yang memprihatinkan. Di Istana itu tidak ada air, sehingga air bersih harus diambil dengan ember.Soeharto disambut hangat Presiden Bosnia Alija Izetbegovic. Keduanya berbincang tak kurang dari 1,5 jam dilanjutkan dengan jamuan makan siang. Soeharto lalu memerintahkan Menlu Ali Alatas untuk memberikan keterangan pers di ruangan lainnya.

Saat pertemuan Soeharto dan Alija Izetbegovic, proyektil meriam jatuh sekitar 3 km dari Istana Kepresidenan. Sjafrie lalu memberitahukan Soeharto bahwa sisa waktu hanya 3 jam karena situasi semakin mencekam.

Suara tembakan terdengar dari kejauhan. Prajurit-prajurit juga terlihat bersiaga. Setelah tiga jam melaksanakan kunjungan, Soeharto kembali ke Indonesia.

"Melihat Pak Harto begitu tenang, moral, dan kepercayaan diri kami sebagai pengawalnya pun ikut kuat, tenang, dan mantap. Presiden saja berani, mengapa kami harus gelisah,” ujar Sjafrie.

Topik Menarik