AS Susun Daftar Sekutu NATO 'Nakal dan Baik' di Tengah Perang Iran

AS Susun Daftar Sekutu NATO 'Nakal dan Baik' di Tengah Perang Iran

Global | sindonews | Kamis, 23 April 2026 - 11:52
share

Gedung Putih dilaporkan telah menyusun daftar "nakal dan baik" negara-negara anggota NATO. Ini sebagai bagian dari upaya pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk mengevaluasi dan berpotensi menghukum sekutu yang tidak mendukung AS selama perang melawan Iran.

Langkah Gedung Putih itu diungkap seorang pejabat Departemen Perang AS dan tiga diplomat Eropa, yang dikutip Politico, Kamis (23/4/2026).

Bacaa Juga: Sekutu-sekutu NATO Tolak Gabung AS dalam Blokade Selat Hormuz

Menurut laporan tersebut, inisiatif ini dikembangkan menjelang kunjungan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte ke Washington.

Insiatif tersebut mengkategorikan anggota aliansi berdasarkan kontribusi pertahanan dan kerja sama yang lebih luas, menempatkan mereka ke dalam tingkatan yang berbeda.

Langkah ini menggarisbawahi peringatan Presiden Trump bahwa sekutu yang gagal memenuhi harapan AS tentang pembagian beban pertahanan atau dukungan strategis dapat menghadapi konsekuensi, yang semakin menggoyang hubungan transatlantik yang sudah tegang.Menteri Perang AS Pete Hegseth sebelumnya telah menguraikan pendekatan serupa, dengan menyatakan: "Sekutu teladan yang meningkatkan kinerja, seperti Israel, Korea Selatan, Polandia, lebih lanjut Jerman, negara-negara Baltik, dan lainnya, akan menerima perlakuan khusus dari kami," katanya.

"Sekutu yang masih gagal menjalankan perannya dalam pertahanan bersama akan menghadapi konsekuensi," lanjut Hegseth.

Seorang diplomat yang familiar dengan diskusi mengatakan, "Gedung Putih memiliki kertas yang menggambarkan negara nakal dan negara baik, jadi saya kira pemikirannya serupa." Menurutnya, itu menunjukkan keselarasan dengan pernyataan Hegseth sebelumnya.

Namun, para pejabat belum mengklarifikasi insentif atau hukuman spesifik apa yang mungkin diterapkan, meskipun opsi yang dilaporkan termasuk penyesuaian dalam penempatan pasukan AS, latihan militer gabungan, dan penjualan sistem pertahanan.

"Mereka tampaknya tidak memiliki ide yang sangat konkret...ketika menyangkut hukuman bagi sekutu yang buruk," kata seorang pejabat Eropa lainnya. "Memindahkan pasukan adalah salah satu opsi, tetapi itu terutama menghukum AS, bukan?" ujarnya.Wakil Sekretaris Pers Gedung Putih Anna Kelly membela sikap pemerintah Trump. "Meskipun Amerika Serikat selalu ada untuk apa yang disebut sekutu kita, negara-negara yang kita lindungi dengan ribuan pasukan tidak ada untuk kita selama Operasi Epic Fury," ujarnya.

"Presiden Trump telah menjelaskan pemikirannya tentang dinamika yang tidak adil ini, dan seperti yang dia katakan, Amerika Serikat akan mengingatnya," imbuh dia.

Kerangka kerja yang dilaporkan tersebut dapat menguntungkan negara-negara seperti Polandia dan Rumania, yang telah mendukung operasi militer AS dan meningkatkan pengeluaran pertahanan, sementara menempatkan negara-negara lain, seperti Spanyol, di bawah pengawasan karena menolak target pengeluaran NATO.

Pentagon juga menegaskan kembali pendekatannya, dengan menyatakan, "Akan memprioritaskan kerja sama dan keterlibatan dengan sekutu teladan yang melakukan bagian mereka untuk pertahanan kolektif kita."

Topik Menarik