Dulu Dipelihara Kini Diburu, Ikan Sapu-sapu Jadi Musuh Baru Sungai Indonesia
Ikan Sapu-sapu (Loricariidae) kini menjadi pemandangan umum di sungai-sungai besar Indonesia, mulai dari Ciliwung hingga aliran sungai di pinggiran Jakarta. Namun, siapa sangka ikan yang dikenal sebagai "petugas kebersihan" ini memiliki sejarah panjang sebelum akhirnya dicap sebagai spesies invasif yang mengancam ekosistem.
Berasal dari perairan Amazon, Amerika Selatan, ikan ini menempuh perjalanan ribuan kilometer hingga menjadi penghuni tetap di perairan Nusantara. Bagaimana perjalanannya? Simak ulasan SindoNews berikut ini.
Sejarah ikan Sapu-sapu di Indonesia dimulai sekitar 1980-an. Saat itu, ikan ini didatangkan oleh para importir sebagai komoditas ikan hias. Kemampuannya memakan lumut dan sisa makanan di dinding kaca menjadikannya primadona bagi pemilik akuarium.
Baca juga: Gelar Aksi Bersih Kali Jakut, Pemprov DKI Tangkap Ikan Sapu-sapu Seberat 200 Kilogram
Masalah mulai muncul ketika ikan-ikan ini tumbuh besar. Ikan Sapu-sapu jenis tertentu bisa mencapai panjang hingga 60 cm. Banyak pemilik akuarium yang tidak tega membunuhnya, namun tidak sanggup lagi memeliharanya, akhirnya memilih jalan pintas: melepaskannya ke sungai terdekat.Selain sengaja dilepas, banjir besar yang sering melanda kota-kota besar di Indonesia juga berperan menghanyutkan ikan ini dari kolam-kolam budidaya ke perairan umum.
Lihat video: PANTAU LANGSUNG! Gubernur Jakarta Pramono Anung Pimpin Basmi Ikan Sapu-Sapu
Salah satu alasan mengapa populasi ikan Sapu-sapu meledak di Indonesia adalah daya tahannya yang luar biasa. Di saat ikan lokal seperti Nilem atau Wader mati akibat limbah industri dan domestik, ikan Sapu-sapu justru tetap bugar.Hal itu karena Ikan Sapu-sapu memiliki sistem pernapasan labirin yang memungkinkan mereka bertahan hidup di air dengan kadar oksigen rendah. Selain itu, ikan ini juga memiliki zirah alami. Kulitnya yang keras dan berduri membuatnya tidak memiliki predator alami di sungai-sungai Indonesia.
Kebiasaan ikan-ikan ini membuat lubang di dinding sungai untuk bertelur kerap memicu erosi dan kerusakan infrastruktur tanggul. Tak heran jika ikan ini menjadi ancaman karena bisa merusak bantaran sungai atau tanggul.
Imajinasi Mudik ke Jakarta
Melimpahnya populasi ikan ini sempat dimanfaatkan oknum nakal untuk bahan baku makanan olahan seperti siomay dan bakso karena tekstur dagingnya yang mirip ikan tenggiri namun harga jauh lebih murah.
Namun, Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus memberikan edukasi. Mengingat sifat ikan Sapu-sapu yang merupakan filter feeder (penyaring makanan), mereka cenderung menyerap logam berat seperti merkuri dan timbal yang ada di sedimen sungai tercemar. Konsumsi dalam jangka panjang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia.










