Netanyahu Dikecam, Israel Gaduh usai Gencatan Senjata Lebanon yang Dipaksakan Trump
Gelombang kemarahan dan kritik melanda Israel menyusul pengumuman gencatan senjata di Lebanon oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Tokoh-tokoh politik, pemimpin lokal, dan media Israel mengecam langkah tersebut sebagai keputusan yang dipaksakan yang mengesampingkan kepemimpinan Zionis.
Menurut laporan media Israel, gencatan senjata diumumkan dari Washington sebelum adanya diskusi atau pemungutan suara formal di dalam kabinet Israel.
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dilaporkan memberi tahu para menteri tentang keputusan tersebut hanya setelah diumumkan, yang memicu kritik luas atas apa yang digambarkan banyak orang sebagai runtuhnya kedaulatan pengambilan keputusan.
Diskusi Melalui Telepon Seluler
Channel 13 melaporkan tidak ada pemungutan suara kabinet yang terjadi, dengan Netanyahu menyatakan langkah tersebut dilakukan atas permintaan Trump.Sementara itu, stasiun penyiaran Kan Israel mencatat para menteri terlibat dalam diskusi darurat melalui telepon seluler biasa setelah Trump secara publik mengumumkan gencatan senjata di media sosial.Anggota parlemen Israel, Chili Tropper, mengkritik keras cara pengumuman tersebut, menyatakan warga Israel, khususnya penduduk permukiman utara, mengetahui gencatan senjata melalui cuitan Trump, bukan dari pemerintah mereka sendiri. Ia mengatakan kejadian tersebut mencerminkan kurangnya kepemimpinan dan transparansi.
Penyerahan Penuh
Reaksi di antara para pemimpin permukiman di Israel utara sangat keras.Eitan Davidi, kepala dewan permukiman Margaliot, menggambarkan gencatan senjata tersebut sebagai “bukan kemenangan, tetapi aib dan penyerahan penuh kepada Iran dan Amerika Serikat.”
Para pejabat lokal lainnya menggemakan sentimen serupa. Amit Sofer, kepala Dewan Regional Merom HaGalil, mempertanyakan logika menghubungkan front Lebanon dengan perkembangan di Iran, menyebut langkah tersebut tidak masuk akal.
Media Israel juga melaporkan para kepala dewan permukiman utara mengancam akan mengibarkan bendera putih pada malam hari sebagai protes simbolis, menggambarkan gencatan senjata tersebut sebagai tanda penyerahan pemerintah Netanyahu.Laporan tambahan menyoroti meningkatnya frustrasi atas situasi keamanan di Israel utara.
Kepala dewan permukiman Mevo’ot Hermon memperingatkan Hizbullah “tetap kuat dan sedang menunggu.” Dia menambahkan Galilea sedang dikosongkan dari penduduknya di tengah ketegangan yang sedang berlangsung.
Keberhasilan Iran
Liputan media Israel mencerminkan kritik serupa. Channel 12 melaporkan kemarahan yang meluas di wilayah utara atas perjanjian gencatan senjata, sementara Channel 14 menggambarkan kegagalan komunikasi yang terus berlanjut di kantor Netanyahu, mencatat perdana menteri diharapkan mengeluarkan pernyataan klarifikasi.Surat kabar Israel Hayom menggambarkan langkah Trump sebagai cerminan “penyerahan ganda kepada Iran,” dengan alasan hal itu sejalan dengan strategi Teheran untuk menghubungkan perang di wilayahnya dengan perkembangan di Lebanon.
Surat kabar itu juga melaporkan Netanyahu gagal mendapatkan persetujuan kabinet untuk gencatan senjata sehari sebelumnya, menunjukkan pengumuman Trump secara efektif membantu mendorong keputusan tersebut.
Sementara itu, stasiun televisi Israel i24 melaporkan Iran memainkan peran sentral dalam mendorong gencatan senjata di Lebanon sebagai bagian dari negosiasi yang lebih luas dengan Amerika Serikat, memperkuat persepsi di Israel bahwa dinamika regional semakin saling terkait.
Baca juga: Gencatan Senjata Lebanon: Iran dan Hizbullah Muncul sebagai Pemenang





