Giliran Aliansi Sipil Sumut Laporkan Jusuf Kalla ke Polisi
Mantan Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla (JK) kembali dilaporkan ke polisi. Kali ini, giliran sejumlah organisasi yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Sipil Sumatera Utara (Sumut) yang melaporkan JK.
Laporan atas dugaan tindak pidana penistaan agama itu disampaikan mereka ke Polda Sumut pada Selasa (14/4/2026). Perwakilan aliansi sekaligus Ketua Sinode Gereja Laskar Kristus Indonesia (GLKRI) Bishop Dikson Panjaitan mengatakan bahwa JK telah melakukan penistaan terhadap agama Kristen.
Pernyataan yang dimaksud adalah narasi yang disampaikan JK saat berceramah di Masjid Universitas Gadjah Mada (UGM) pada Maret 2026 lalu. JK membahas konflik Poso dan Ambon yang berkaitan dengan umat Kristen dan muslim.
Baca juga: Beban Asimetris Jusuf Kalla dalam Ruang Demokrasi Emosional
Bishop menjelaskan, membunuh bukanlah ajaran yang dianut umat Kristen. Hal tersebut justru bertentangan dengan ajaran dalam Alkitab.
"Pernyataan Pak Jusuf Kalla ini sungguh menistakan. Karena sudah menyangkut kepada substansi daripada kitab suci itu sendiri. Karena ajaran Kristen itu khas dengan ajaran cinta kasih. Justru yang lebih kontras, Kristen itu diajarkan untuk mengasihi musuh, kasihilah musuhmu," kata Bishop saat dihubungi, Rabu (15/4/2026).
Maka itu, Bishop menuturkan, ujaran yang disampaikan JK sangat melukai hati umat Kristen. Terlebih, kata dia, pemeluk agama Kristen tidak memusuhi umat muslim.
"Apalagi beliau (JK) mengatakan Kristen membunuh Islam, padahal Islam bukan musuh, sampai sekarang jujur bahwa orang Kristen itu pada umumnya tidak pernah menganggap Islam itu musuh. Walaupun mungkin mereka ada yang sebagian menganggap itu, jadi itu sangat melukai perasaan umat Kristen di seluruh dunia, bukan hanya di Indonesia saja," katanya. Bishop pun memastikan, laporan dari Aliansi Masyarakat Sipil ini tidak berkaitan dengan pihak mana pun, termasuk kelompok ormas di Jakarta yang lebih dahulu melaporkan JK ke polisi.
"Yang kita laporkan murni adalah satu dorongan dari kita sendiri, tapi kita bersyukur karena ada kawan kita mendukung dari aliansi masyarakat sipil Sumut. Sehingga kami bisa satu hati, sepakat, ramai untuk bahas ini dan diambil satu kesimpulan bahwa saya sebagai pelapor," imbuhnya.
Dirinya pun berharap dengan adanya laporan ini bisa mencegah sikap intoleransi tumbuh di Indonesia. Aliansi Sipil Sumut berencana menggelar aksi damai untuk mengawal proses hukum yang berlangsung.
Juru Bicara (Jubir) JK, Husain Abdullah menjelaskan, inti ceramah JK pada 5 Maret lalu merupakan pembelajaran tentang cara mendamaikan pihak-pihak yang bertikai, merujuk pada pengalaman konflik di Poso dan Ambon. Ia menjelaskan, JK saat itu mengungkapkan realitas sosiologis yang berkembang di tengah konflik, di mana kedua pihak—baik Muslim maupun Kristen—menggunakan jargon agama untuk membenarkan tindakan kekerasan.
Komisi III DPR Gelar Rapat Teror Penyiraman Air Keras Andrie Yunus, Desak Polri Tangkap Pelaku
“Inti pesan yang disampaikan Pak JK saat ceramah di UGM (5/3) adalah semacam pembelajaran bagaimana mendamaikan dua pihak yang bertikai. Pak JK mengungkapkan pendapat orang-orang yang bertikai pada saat kerusuhan Poso dan Ambon. Atau realitas sosiologis saat terjadi konflik. Bukan pendapat pribadi Pak JK," ujar pria yang akrab disapa Uceng ini."Realitasnya saat itu, kedua pihak yang berkonflik (islam dan kristen) menggunakan jargon agama untuk saling membunuh. Pemahaman mereka atau mereka beranggapan, baik yang islam maupun yg kristen jika membunuh lawan atau terbunuh akan masuk surga," jelas Uceng.
Karena itu, kata dia, konflik Poso dan Ambon disebut konflik bernuansa SARA, yang sulit dihentikan. Bahkan, memakan korban jiwa ribuan orang dimana sebanyak 2.000 orang tewas di Poso, sedangkan di Ambon mencapai 5.000 orang tewas.
Dalam ceramahnya, kata dia, JK menegaskan bahwa pemahaman tersebut harus diluruskan. Ia menyampaikan bahwa tindakan saling membunuh tidak dibenarkan dalam agama mana pun.
"Untuk mengatasinya, kata Pak JK di depan jamaah Mesjid UGM, pemahaman kelompok yang bertikai ini harus diluruskan. Karena keduanya telah melakukan kekeliruan," katanya.
"Maka Pak JK mengatakan anda semua akan masuk neraka jika saling membunuh bukan masuk surga. Karena tidak ada agama yang mengajarkan untuk bertindak demikian," tambahnya.
Dia menegaskan, apa yang disampaikan JK bukanlah pendapat pribadi, melainkan gambaran kondisi nyata yang berkembang saat konflik, sekaligus pendekatan yang digunakan untuk meredam pertikaian. "Jadi apa yang disampaikan Pak JK bukan pendapat pribadi tetapi realitas sosial saat itu yang berkembang diantara mereka yang saling berkonflik," katanya.
"Inilah yang disampaikan Pak JK sebagai lesson learned. Mengisahkan pendekatan yang ia lakukan ketika hendak mendamaikan pihak yang bertikai di Poso maupun di Ambon, dengan terlebih dahulu mengubah paradigma yang memotivasi mereka saat berkonflik," pungkasnya.










