Lawan Blokade Barat, Dua Raksasa BRICS Perkuat Poros Eurasia di Tengah Krisis Hormuz
Dua raksasa BRICS menandai penguatan kemitraan 'tanpa batas' di tengah upaya Barat yang kian agresif untuk meredam pengaruh Moskow dan Beijing. Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov melakukan pertemuan tingkat tinggi dengan Menlu China, Wang Y yang memfokuskan pada sejumlah isu prioritas tinggi dan regional, termasuk situasi di Timur Tengah dan krisis Ukraina.
Fokus utama pembicaraan kedua diplomat senior ini mencakup koordinasi di forum multilateral seperti PBB, BRICS, G20, dan SCO. Dalam pernyataan pembukanya, Lavrov menegaskan bahwa fondasi hubungan internasional saat ini sedang diuji secara ekstrem oleh tindakan sepihak negara-negara Barat.
Ia menyoroti krisis di Amerika Latin, Venezuela, dan Timur Tengah sebagai bukti nyata tantangan tersebut. Menurutnya ada upaya membentuk struktur geometri kecil seperti blok untuk membendung pengaruh China maupun Rusia," tegasnya.
Baca Juga: Profesor AS: Hanya Tiga Orang Dewasa Ini yang Bisa Hentikan Perang Iran, Bukan Donald Trump!
"Eurasia sedang menghadapi berbagai krisis yang diciptakan secara artifisial. Di Barat, konflik Ukraina dimanfaatkan untuk membentuk blok agresif baru yang mengincar Rusia. Sementara di Timur, 'permainan berbahaya' serupa terjadi di sekitar Taiwan dan Laut China Selatan untuk membendung kemajuan China," tegas Lavrov seperti dilansir Rabu (15/4/2026).
Rusia dan China Respons Krisis Timur Tengah
Beijing, sebagai importir minyak terbesar dari Timur Tengah, memberikan kecaman keras terhadap tindakan Amerika Serikat di Selat Hormuz. China menilai kebijakan AS yang menghambat lalu lintas maritim di jalur vital tersebut sebagai tindakan "berbahaya dan tidak bertanggung jawab."“China mendesak semua pihak untuk mematuhi aturan gencatan senjata dan memulihkan lalu lintas normal di selat sesegera mungkin,” ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun.China khawatir blokade ini akan merusak situasi gencatan senjata yang sudah sangat rapuh antara AS-Israel dan Iran. Di sisi lain menariknya, kunjungan Lavrov bertepatan dengan kedatangan Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sanchez, yang juga diterima oleh Presiden Xi Jinping.
Baca Juga: Prabowo Terima Kasih ke Putin Bantu Indonesia Masuk BRICS
Sanchez dikenal sebagai salah satu dari sedikit pemimpin Barat yang vokal menentang agresi AS-Israel terhadap Iran. Presiden Xi memuji sikap Spanyol sebagai negara yang "menghargai prinsip dan keadilan." Kehadiran pemimpin Spanyol di tengah kunjungan delegasi Rusia ini memberikan sinyal adanya pergeseran opini di Eropa terkait kebijakan luar negeri AS di Timur Tengah.
Pertemuan Lavrov dan Wang Yi juga menghasilkan penandatanganan peta jalan (roadmap) kerja sama antar kementerian untuk tahun 2026. Langkah ini dipandang luas sebagai persiapan teknis untuk kunjungan kenegaraan Presiden Vladimir Putin ke Beijing yang dijadwalkan berlangsung akhir tahun ini.
“Saya tidak ragu bahwa tahun ini kita akan memiliki peluang lebih lanjut untuk mempersiapkan solusi tambahan bagi kontak masa depan antara pemimpin kita,” ungkap Lavrov sebagai sinyal kuat akan adanya pertemuan puncak Putin-Xi Jinping.










