Perang Iran Picu Defisit Minyak Global, Tekan Pasokan Energi Dunia
Konflik Iran memicu risiko defisit minyak global dan memperketat pasokan energi sepanjang tahun ini. Dampaknya mulai terasa di berbagai negara, terutama ekonomi yang bergantung pada impor energi dan sektor industri berintensitas tinggi.
"Guncangan energi ini berpotensi menyerupai krisis saat perang Rusia-Ukraina yang mendorong inflasi dan menekan pertumbuhan ekonomi," demikian dilaporkan Reuters dikutip Minggu (12/4/2026).
Baca Juga:Makin Melunak, China Janjikan Insentif untuk Taiwan
Di kawasan Eropa, tekanan dinilai paling besar di antara negara maju. Ketergantungan tinggi pada energi impor membuat kawasan ini rentan terhadap lonjakan harga, yang berisiko memperlambat pemulihan ekonomi pascapandemi.
Jerman menjadi salah satu negara yang paling terdampak karena sektor industrinya sensitif terhadap kenaikan biaya energi. Pemulihan manufaktur yang baru berlangsung kini terancam terhenti, sementara ruang fiskal pemerintah untuk stimulus tambahan dinilai terbatas.Italia menghadapi tekanan serupa akibat ketergantungan pada minyak dan gas dalam bauran energinya. Di Inggris, lonjakan harga gas langsung memicu kenaikan tarif listrik, yang berpotensi memperpanjang tekanan inflasi dan mempertahankan suku bunga tinggi di tengah meningkatnya pengangguran.
Di Asia, Jepang berada di garis depan risiko pasokan karena hampir seluruh impor minyaknya berasal dari Timur Tengah dan melewati Selat Hormuz. Pelemahan yen turut memperparah tekanan inflasi, terutama pada harga pangan dan kebutuhan pokok.
Baca Juga:Serangan Iran Pangkas Produksi Minyak Saudi 600.000 Barel per Hari
India juga menghadapi tekanan besar sebagai importir energi utama. Kenaikan harga minyak dan gas mulai menekan konsumsi domestik serta memicu pelemahan mata uang, yang berdampak pada revisi turun proyeksi pertumbuhan ekonomi.
Sementara itu, negara dengan ekonomi lebih rentan seperti Sri Lanka, Pakistan, dan Mesir menghadapi tekanan berlapis. Pembatasan energi, kenaikan biaya impor, hingga risiko pelemahan mata uang dan utang menjadi tantangan serius di tengah ketidakpastian pasokan global.










