Rahasia Hemat Energi Ternyata Ada di Dapur! Ini Cara Masak yang Efisien

Rahasia Hemat Energi Ternyata Ada di Dapur! Ini Cara Masak yang Efisien

Gaya Hidup | sindonews | Sabtu, 11 April 2026 - 10:30
share

Kampanye “Bijak Menggunakan Energi” kini merambah ke sektor rumah tangga, khususnya aktivitas dapur. Praktisi kuliner dan moderator Komunitas Jalansutra, Harry Hardianto Nazarudin, menilai kebiasaan memasak sehari-hari memiliki peran besar dalam menentukan tingkat konsumsi energi keluarga.

Menurut Harry, memasak sendiri justru menjadi pilihan paling efisien dibandingkan membeli makanan dari luar. “Memasak sendiri adalah bentuk paling hemat energi. Jika membeli makanan, ada tambahan konsumsi energi dari kendaraan, aplikasi, hingga proses memasak di restoran,” ujarnya saat diwawancarai di Jakarta, Minggu (5/4).

Ia menegaskan bahwa dapur menjadi titik krusial dalam penghematan energi, terutama dalam penggunaan gas. Strategi sederhana seperti memasak cepat dengan api besar, menghindari proses memasak berulang, serta memanfaatkan alat alternatif seperti pemanas air listrik dinilai efektif menekan konsumsi energi.

Dalam praktiknya, Harry melihat masih banyak kebiasaan boros energi di masyarakat. Salah satunya adalah penggunaan satu jenis kompor untuk semua proses, mulai dari merebus air hingga menghangatkan makanan.

Baca Juga : Presiden Prabowo: Di Tengah Krisis Dunia, Kita Harus Hemat Energi“Untuk air, sebaiknya gunakan pemanas listrik, sementara makanan bisa dipanaskan dengan microwave agar lebih efisien,” jelasnya.

Melalui Komunitas Jalansutra, ia juga mendorong masyarakat kembali ke kuliner Indonesia yang dinilai lebih hemat energi. Selain itu, diversifikasi pangan dan penggunaan bahan fermentasi seperti tempe, tauco, dan terasi menjadi solusi karena dapat mengurangi kebutuhan proses pemanasan panjang.

Menu sederhana pun dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi sekaligus hemat energi. Beberapa contoh seperti tempe goreng kecap, telur dadar, orek tempe, hingga sayur bayam bening dapat disiapkan dalam waktu kurang dari 10 menit. Teknik memasak seperti menggoreng, menumis, dan mengukus dengan api kecil menjadi metode paling efisien.

Harry juga menepis anggapan bahwa makanan cepat selalu tidak sehat. “Makanan cepat yang dimasak sendiri sebenarnya sehat. Yang membuat kurang sehat adalah konsep cepat saji restoran yang menggunakan minyak banyak dan suhu tinggi secara terus-menerus,” katanya.

Ia menambahkan, kunci menjaga gizi tetap seimbang adalah kombinasi bahan, seperti protein (telur atau daging) dan serat (sayuran), serta penggunaan bahan berkualitas dan fermentasi untuk memperkaya rasa tanpa proses panjang.

Dari sisi peralatan, penggunaan teknologi seperti rice cooker, microwave, air fryer, dan pemanas air listrik juga dapat membantu efisiensi energi secara keseluruhan. Selain itu, perencanaan menu harian dinilai penting agar proses memasak lebih terarah dan tidak boros energi.

Menutup pernyataannya, Harry mengajak masyarakat—terutama generasi muda—untuk mulai membangun kebiasaan memasak sendiri. “Memasak sendiri selalu lebih hemat. Kenali bahan lokal, gunakan proses yang efisien, dan jangan terjebak budaya serba online. Ini penting untuk ketahanan pangan sekaligus penghematan energi,” katanya.

Topik Menarik