Pakar Offroad Sebut Torsi Liar Trail Listrik MBG Jadi Bumerang Bagi Petugas Awam
Keputusan Badan Gizi Nasional (BGN) membekali para Kepala Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) dengan motor trail listrik sebagai armada andalan operasional Makan Bergizi Gratis (MBG) menuai kritik tajam. Alih-alih jadi solusi mobilitas untuk menembus batas-batas pelosok Nusantara, kebijakan pengadaan ini dinilai sarat akan kegagalan dalam membaca realitas medan dan kapasitas pengendara. Narasi "tangguh di segala medan" yang selalu menempel pada wujud motor trail nyatanya menjadi ilusi berbahaya jika kemudinya diserahkan pada pengendara awam. Wisnu Guntoro Adi, Aktivis Petualangan dan Lomba Offroad Roda Dua, membedah secara kritis kecacatan logika operasional ini. Menurutnya, medan off-road memiliki karakteristik yang sangat tidak statis (unstatik), jauh berbeda dengan jalanan aspal mulus perkotaan.
"Motor trail bagaimanapun memang memiliki kemampuan lebih untuk dikendarai di medan off-road. Tapi bukan berarti setiap orang bisa menggunakannya," tegas Wisnu saat dihubungi Sindonews.
Mengendarai motor dengan pijakan tinggi membutuhkan akurasi dan teknik pengendalian yang matang. Bagi petugas SPPG—yang notabene adalah kalangan pekerja awam yang melayani distribusi gizi, bukan atlet motocross—mengendalikan motor jenis ini untuk melibas jalur hutan justru menghadirkan tantangan maut tersendiri.
Secara teknis, sepeda motor trail listrik memang menjanjikan sedikit keunggulan dalam hal bobot. Menurut Wisnu Guntoro, motor trail listrik rata-rata lebih ringan sekitar 10 sampai 15 kilogram dibandingkan saudara kembarnya yang bermesin pembakaran internal (bensin). Namun, pertanyaannya kemudian: apakah pengurangan bobot ini, ditambah ground clearance yang tinggi dan redam kejut (travel suspensi) yang jenjang, otomatis memberikan efektivitas absolut di lapangan?
Wisnu membantahnya dengan keras. Medan pedalaman Nusantara tidak selalu berupa arena jumping tanah kering. Para petugas akan rutin menghadapi jalanan berbatu licin atau permukaan tanah basah berlumpur akibat cuaca tropis. Di sinilah letak bumerang teknologi listrik.
Karakteristik motor listrik yang menyalurkan torsi secara instan dan berlimpah justru menjadi malapetaka di medan yang licin. Tanpa kecakapan mengontrol ritme tuas gas, ban belakang akan mengalami putaran liar (spinning), membuat traksi hilang seketika dan motor menjadi liar tak terkendali. Bagi pengendara yang tak terbiasa, jalan berbatu dan kontur turunan atau tanjakan yang curam di atas jok motor trail hanya akan menciptakan kepanikan dan risiko kecelakaan fatal.Realitas Pedalaman: Verza dan Thunder Jadi Raja
Menurut Wisnu Guntoro, kegagalan memetakan kebutuhan operasional ini semakin telanjang saat kita berkaca pada kebiasaan masyarakat pedalaman yang sesungguhnya. “Petani di lereng gunung, perambah hutan di ujung negeri, hingga masyarakat pedalaman di pegunungan Jawa Barat atau Kalimantan Utara, amat jarang mempertaruhkan nyawa dan aktivitas ekonomi mereka di atas jok motor trail,” ungkapnya.Realitas pasar di pedalaman membuktikan bahwa warga lokal jauh lebih tangguh dan percaya diri bermanuver di jalur off-road menggunakan sepeda motor komuter biasa. Mereka lebih memilih motor sport manual (kopling) sejuta umat seperti Suzuki Thunder dan Honda Verza, atau bahkan mengandalkan kepraktisan skuter matik biasa.
Alasannya sangat rasional dan berpusat pada utilitas mutlak. Motor komuter seperti Honda Verza dan Suzuki Thunder dirancang dengan ground clearance yang bersahabat, sehingga memungkinkan kedua telapak kaki pengendara awam menapak sempurna ke tanah. Hal ini adalah faktor krusial untuk menjaga keseimbangan dan rasa aman.“Di samping itu, motor-motor common (umum) ini sudah dirancang untuk memikul beban. Masyarakat pedalaman biasa menggunakannya untuk membawa puluhan kilogram beban kayu, hasil bumi, dan logistik berat—sesuatu yang sangat menekan kelincahan jika dipaksakan pada desain motor trail yang peruntukan murninya hanya membawa beban tubuh sang rider,” beber Wisnu Guntoro.
Dari kacamata fungsionalitas, memaksakan armada motor trail listrik untuk memuat rantang atau boks logistik gizi adalah sebuah ironi. Selain ketersediaan komponen dan fasilitas perawatannya di daerah terpencil yang belum jelas, fungsionalitasnya untuk tugas membawa beban nyaris nol. Sudah saatnya pengambil kebijakan turun dari menara gading spesifikasi brosur, meninjau kembali aspek keselamatan, dan mulai memilih kendaraan operasional yang benar-benar membumi, fungsional, dan menjamin para pahlawan gizi ini bisa pulang dengan selamat.





