Billboardnya Tuai Kontroversi, Produser Film 'Aku Harus Mati' Akhirnya Minta Maaf

Billboardnya Tuai Kontroversi, Produser Film 'Aku Harus Mati' Akhirnya Minta Maaf

Gaya Hidup | sindonews | Selasa, 7 April 2026 - 07:56
share

Pihak rumah produksi film horor Aku Harus Mati resmi menyampaikan permohonan maaf ke publik atas kegaduhan dari judul tersebut. Strategi komunikasi promo film pun akan dievaluasi total.

Iwet Ramadhan, selaku Head of Creative Strategic Promotion, menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan oleh materi promosi film tersebut di ruang publik.

Melalui wawancara daring belum ini, ia mengakui bahwa pihaknya memetik pelajaran berharga dari kritik yang diterima. Diakui Iwet, pihaknya harus mempertimbangkan lebih dalam sebelum melempar judul dan cara promosi di tengah kondisi masyarakat sekarang.

Baca juga: 'Empat Musim Pertiwi' Tembus Panggung Dunia, Film Baru Kamila Andini Siap Tayang 2026

"Kami menyesalkan sekali ketidaknyamanan yang ditimbulkan, khususnya dari bagaimana film ini diperkenalkan di ruang publik gitu ya. Karena ini kan salah satu yang disoroti oleh masyarakat," ujar Iwet Ramadhan. Iwet menambahkan bahwa situasi saat ini memang sangat sensitif, terutama terkait isu-isu yang bisa menjadi pemicu bagi kelompok tertentu.

"Ini jadi sebuah pelajaran juga gitu bahwa ternyata kondisi sekarang ini memang lagi sensitif sekali di mana banyak hal bisa menjadi trigger. Dan buat kami, memang ini jadi pelajaran bahwa harus sangat berhati-hati sekali ketika sekarang kita berucap, berkata, dan melemparkan statement di publik," lanjutnya.

Ke depannya, pihak PH berkomitmen mengevaluasi total strategi komunikasi. Salah satu langkah konkretnya yakni memberikan peringatan konten selama fase promosi.

"Kami juga akan menambahkan trigger warning atau peringatan pada materi promosi kami sebagai bagian dari evaluasi yang sedang berjalan," tegas Iwet.

Di sisi lain, Iwet berterima kasih atas seluruh kritik yang masuk. Ia berjanji akan menjadikannya sebagai bahan perbaikan internal.

"Kita belajar bahwa memang banyak hal yang harus kita perbaiki terutama dalam bagaimana sebuah karya diperkenalkan agar tetap mempertimbangkan konteks dan sensitivitas di publik," tutupnya.

Topik Menarik