Efek Perang Iran, Inflasi AS Diramal Melonjak Tajam Imbas Kenaikan Harga BBM
Lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) akibat perang Iran diprediksi mendorong inflasi Amerika Serikat (AS) melonjak tajam. Indeks Harga Konsumen (CPI) AS diperkirakan naik 1 secara bulanan pada Maret 2026 tertinggi sejak 2022.
"Kenaikan harga BBM di tingkat konsumen menjadi pendorong utama inflasi dalam waktu dekat," ujar ekonom yang dihimpun Bloomberg, dikutip dari Business Standard, Senin (6/4/2026).
Baca Juga:Intelijen AS Heran, Kemampuan Rudal Iran Tetap Utuh Meski Dihantam 11.000 Serangan
Kenaikan CPI ini dipicu harga bensin AS yang melonjak sekitar USD1 per galon akibat gangguan pasokan energi global. Inflasi inti, yang mengecualikan energi dan pangan, diproyeksikan lebih moderat di 0,3.
Indikator utama Federal Reserve, indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) inti, juga terpantau naik 0,4 pada Februari menandakan tekanan harga sudah muncul sebelum konflik Timur Tengah memburuk.Tekanan inflasi membandel ini ditambah stabilisasi pasar tenaga kerja membatasi ruang The Fed menurunkan suku bunga. Gejolak geopolitik semakin menambah ketidakpastian kebijakan moneter AS ke depan.
Baca Juga:Gelombang Kelangkaan BBM Hantam Prancis, 900 SPBU Kehabisan Stok
Adapun dampaknya meluas secara global dengan bank sentral di India, Korea Selatan, dan Eropa memilih menahan suku bunga. Di Asia, China, Filipina, dan Thailand berpotensi mengalami inflasi lebih tinggi. Sedangkan, Eropa mencatat kenaikan inflasi terbesar sejak 2022 akibat biaya energi, sementara Amerika Latin seperti Brasil dan Meksiko tertekan lonjakan harga minyak.
Secara keseluruhan, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memproyeksikan harga minyak naik 45. Jika perang Iran berlanjut, tekanan inflasi global berpotensi menghambat pemulihan ekonomi di berbagai negara.










