Rusia Haramkan Jual Minyak ke Negara Pendukung Pembatasan Harga, G7 hingga Jepang
Babak baru pasar energi dunia kian panas, setelah pemerintah Rusia secara tegas menyatakan tidak akan menjual minyak kepada negara-negara yang mendukung skema pembatasan harga (price cap). Seperti diketahui sebelumnya pembatasan harga minyak, merupakan salah satu sanksi Barat terhadap Rusia atas konflik Ukraina.
Pernyataan ini muncul di tengah meroketnya permintaan minyak global akibat pecahnya perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel versus Iran. Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Andrey Rudenko menegaskan, bahwa Moskow tetap pada pendiriannya untuk memboikot negara-negara Barat dan sekutunya, termasuk Jepang, yang mencoba mendikte harga minyak Rusia.
"Moskow tidak akan memasok minyak ke negara-negara yang mendukung skema batas harga 'anti-pasar'," kata Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Andrey Rudenko.
Baca Juga: Sanksi AS Dicuekin, Minyak Rusia Bakal Terus Mengalir ke India
Hal mengejutkan di tengah sikap keras Moskow, Amerika Serikat justru mengambil langkah mundur yang tak terduga. Departemen Keuangan AS secara sementara mencabut sanksi terhadap minyak Rusia yang dimuat ke kapal tanker sebelum 12 Maret 2026. Lisensi ini mengizinkan penjualan minyak Rusia hingga 11 April 2026.
Langkah AS ini dipicu oleh kepanikan pasar setelah penutupan Selat Hormuz yang melambungkan harga minyak hingga sentuh USD120 per barel. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent memperkirakan langkah ini akan memberikan pemasukan sekitar USD2 miliar bagi anggaran Rusia, namun dianggap perlu untuk menstabilkan pasokan dunia.
Akibat sanksi Barat, membuat Rusia selama ini terpaksa menjual minyaknya dengan diskon besar. Namun, data terbaru per 19 Maret 2026 menunjukkan tren yang berbalik 180 derajat.
Baca Juga: Purbaya Blak-blakan, Setiap Kenaikan 1 Dolar Harga Minyak Tambah Defisit Rp6 Triliun
Minyak Urals Rusia (DAP West Coast India) menembus harga fantastis USD121,5 per barel. Kini diperdagangkan dengan premium yakni USD3,9 di atas harga Dated Brent, padahal awal Maret lalu masih bisa didapatkan dengan diskon USD12.
Pemerintah Dinilai Defensif Respons Lembaga Rating, Investor Butuh Roadmap Reformasi Nyata
Kondisi ini membuktikan bahwa minyak Rusia tetap menjadi komoditas yang paling dicari saat pasokan dari Timur Tengah tersendat. Pelonggaran sanksi dari Washington langsung memicu pergerakan cepat dari negara-negara Asia yang sedang dilanda krisis energi.
Selain China dan India yang sudah lama menjadi pembeli setia, beberapa negara lain mulai memberi sinyal kuat untuk mengamankan stok minyak dari Rusia. Indonesia juga dilaporkan turut memberikan sinyal ketertarikan untuk membeli minyak Rusia guna mengamankan ketahanan energi nasional di tengah fluktuasi harga yang mencekik.










