Sewa Jet Pribadi Meningkat, Turis Tajir Berebut Kabur dari UEA
Serangan drone dan rudal yang melanda kawasan Teluk telah memicu kepanikan di kalangan wisatawan mancanegara terutama kelompok eksklusif yang kini berebut fasilitas jet pribadi untuk meninggalkan Dubai. Penutupan bandara internasional di wilayah tersebut memaksa para miliarder dan pemegang kepentingan mencari rute alternatif melalui jalan darat menuju Oman dan Arab Saudi guna mengamankan penerbangan lanjutan.
"Banyak operator pesawat tidak mau terbang karena persyaratan asuransi dan keputusan pemilik. Jadi permintaan banyak, pasokan sangat sedikit," ujar perwakilan perusahaan charter AlbaJet yang berbasis di Austria dikutip dari The Telegraph, Rabu (1/4/2026).
Baca Juga:Hantam Gudang Anti-Drone Ukraina di Dubai, Iran Beri Zelensky Tamparan di Wajah
Dia menjelaskan minimnya ketersediaan armada jet pribadi di tengah situasi yang tidak stabil. Ketegangan di pusat kemewahan dunia ini meningkat setelah sejumlah fasilitas vital, termasuk hotel dan tengara kota (landmark), terdampak oleh serangan udara.
Kondisi tersebut memaksa Kementerian Pertahanan Uni Emirat Arab (UEA) untuk terus melakukan pencegahan terhadap ancaman yang masuk, sementara aktivitas diplomatik di Teheran dihentikan sementara di tengah meluasnya konflik regional.
Sebagian wisatawan memilih melakukan perjalanan darat selama empat setengah jam menuju Muscat, Oman, demi mendapatkan akses di bandara internasional setempat yang masih beroperasi. Namun, lonjakan permintaan telah menyebabkan tiket penerbangan komersial menuju Eropa habis terjual hingga akhir pekan, memaksa para turis untuk beralih ke layanan jet pribadi dengan tarif yang fantastis.
Broker jet pribadi di Muscat, JetVip, melaporkan bahwa harga sewa pesawat kecil menuju Istanbul kini mencapai 85.000 euro atau sekitar tiga kali lipat dari tarif normal. Bahkan, kursi pada penerbangan charter pribadi menuju Moskow dibanderol seharga 20.000 euro per orang seiring dengan kesulitan operator dalam memposisikan armada mereka di zona konflik.
Selain rute Oman, jalur darat menuju Riyadh, Arab Saudi, menjadi pilihan lain bagi mereka yang bersedia menempuh perjalanan selama 10 jam. Perusahaan keamanan swasta dilaporkan telah mengerahkan armada SUV untuk mengevakuasi klien menuju ibu kota Saudi, di mana biaya penerbangan pribadi menuju Eropa kini menyentuh angka 350.000 dolar AS.
Baca Juga:Ekonom AS: UEA Salah karena Jadi Sekutu AS-Israel, Dubai Hancur Jika Ikut PerangKrisis ini juga memicu gejolak politik di Eropa, salah satunya menimpa Menteri Pertahanan Italia, Guido Crosetto, yang menuai kritik tajam karena kembali ke Roma menggunakan pesawat pemerintah saat warganya terdampar di Dubai. Oposisi di Italia mempertanyakan kebijakan tersebut dan menuntut klarifikasi terkait kesiapan pemerintah dalam menghadapi eskalasi konflik di Timur Tengah.
Bagi mayoritas turis yang tidak memiliki akses ke transportasi pribadi, bertahan di hotel menjadi satu-satunya pilihan yang tersisa. Dewan Pariwisata Dubai telah menginstruksikan pihak akomodasi agar tidak mengusir wisatawan yang terhambat pembatalan penerbangan, meski beberapa laporan menunjukkan adanya kendala komunikasi antara pihak hotel dan tamu asing di lapangan.
Situasi tak kalah memprihatinkan dialami ribuan penumpang kapal pesiar yang terkurung di lepas pantai Teluk karena pelabuhan-pelabuhan utama ditutup sementara. Para penumpang diinstruksikan untuk tetap berada di dalam kabin demi alasan keamanan setelah munculnya laporan mengenai ledakan dan asap hitam di beberapa titik strategis, seperti Zayed Port di Abu Dhabi.










