Apakah Tradisi Halal Bilhalal Sudah Ada di Zaman Nabi Muhammad SAW?
Apakah tradisi halal bihalalsudah ada di zaman Nabi MUhammad Shallallahu Alaihi Wassalam? Simak ulasan dan penjelasan lengkapnya berikut ini:Ternyata tradisi halal bihalal adalah asli tradisi Indonesia, dan hanya ada di Indonesia. Momen yang biasanya hadir di setiap perayaan Idulfitriini digagas oleh tokoh Nahdatul Ulama (NU) yang bernama KH Abdul Wahhab Hasbullah.
Asal-usulnya terjadi pada era revolusi pada tahun 1948 tepatnya di pertengahan bulan Ramadan. Kala itu presiden pertama RI Soekarno, memanggil KH Abdul Wahab Chasbullah (1888-1971) ke Istana Negara untuk dimintai pendapat dan sarannya dengan harapan dapat mengatasi situasi politik Indonesia yang tidak sehat kala itu. Kemudian Kiai Wahab Chasbullah memberi saran kepada Bung Karno untuk menyelenggarakan silaturahim.
Sebab sebentar lagi Hari Raya Idulfitri, di mana seluruh umat Islam disunahkan bersilaturahmi. Lalu Bung Karno menjawab, “silaturahim kan biasa, saya ingin istilah yang lain”. “Itu gampang,” kata Kyai Wahab.
“Begini, para elit politik tidak mau bersatu, itu karena mereka saling menyalahkan. Saling menyalahkan itu kan dosa. Dosa itu haram. Supaya mereka tidak punya dosa (haram), maka harus dihalalkan. Mereka harus duduk dalam satu meja untuk saling memaafkan, saling menghalalkan. Sehingga silaturahim nanti kita pakai istilah halal bihalal,” jelas Kiai Wahab Chasbullah seperti riwayat yang diceritakan KH Masdar Farid Mas’udi.Baca juga:5 Golongan Ini Mendapatkan Derajat Mati Syahid, Siapa Saja Mereka?
Momen Mirip di Era Sahabat
Halal bilhalal adalah tradisi asli masyarakat Indonesia, namun era sahabat Nabi SAW, ada budaya yang hampir mirip dengan tradisi halal bilhalal. Namun di kalangan sahabat, lebih menekankan pada saling mendoakan kebaikan, bukan maaf-maafan sebagaimana tradisi halal bilhalal. Seperti dilanisr di laman bincangsyariah, Ibnu Qudamah membahas secara rinci terkait tradisi saling mendoakan kebaikan di saat hari raya, beliau menyatakan;[فَصْلٌ قَوْل النَّاس فِي الْعِيدَيْنِ تَقْبَل اللَّه مِنَّا وَمِنْكُمْ] قَالَ أَحْمَدُ، – رَحِمَهُ اللَّهُ -: وَلَا بَأْسَ أَنْ يَقُولَ الرَّجُل لِلرَّجُلِ يَوْمَ الْعِيدِ: تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْك. وَقَالَ حَرْبٌ: سُئِلَ أَحْمَدُ عَنْ قَوْلِ النَّاسِ فِي الْعِيدَيْنِ تَقَبَّلَ اللَّهُ وَمِنْكُمْ. قَالَ: لَا بَأْسَ بِهِ، يَرْوِيه أَهْلُ الشَّامِ عَنْ أَبِي أُمَامَةَ. قِيلَ: وَوَاثِلَةَ بْنِ الْأَسْقَعِ؟ قَالَ: نَعَمْ. قِيلَ: فَلَا تُكْرَهُ أَنْ يُقَالَ هَذَا يَوْمَ الْعِيدِ. قَالَ: لَا. وَذَكَرَ ابْنُ عَقِيلٍ فِي تَهْنِئَةِ الْعِيدِ أَحَادِيثَ، مِنْهَا، أَنَّ مُحَمَّدَ بْنَ زِيَادٍ، قَالَ: كُنْت مَعَ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ وَغَيْرِهِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَكَانُوا إذَا رَجَعُوا مِنْ الْعِيدِ يَقُولُ بَعْضُهُمْ لَبَعْضٍ: تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْك. وَقَالَ أَحْمَدُ: إسْنَادُ حَدِيثِ أَبِي أُمَامَةَ إسْنَادٌ جَيِّدٌ. وَقَالَ عَلِيُّ بْنُ ثَابِتٍ: سَأَلْت مَالِكَ بْنَ أَنَسٍ مُنْذُ خَمْسٍ وَثَلَاثِينَ سَنَةً، وَقَالَ: لَمْ يَزُلْ يُعْرَفُ هَذَا بِالْمَدِينَةِ.
Menurut Imam Ahmad, Tidak mengapa satu sama lain di hari raya ‘ied mengucapkan: Taqabbalallahu minna wa minka. Salah seorang ulama, Harb mengatakan, “Imam Ahmad pernah ditanya mengenai apa yang mesti diucapkan di hari raya ‘ied (‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha), apakah dengan ucapan, ‘Taqabbalallahu minna wa minkum’?”
Imam Ahmad menjawab, “Tidak mengapa mengucapkan seperti itu.” Kisah tadi diriwayatkan oleh penduduk Syam dari Abu Umamah.
Ada pula yang mengatakan, “Apakah Watsilah bin Al Asqo’ juga berpendapat demikian?” Imam Ahmad berkata, “Betul demikian.” Ada pula yang mengatakan, “Mengucapkan semacam tadi tidaklah dimakruhkan pada hari raya ‘ied.” Imam Ahmad mengatakan, “Iya betul sekali, tidak dimakruhkan. Ibnu ‘Aqil menceritakan beberapa hadits mengenai ucapan selamat di hari raya ‘ied.
Di antara hadis tersebut adalah dari Muhammad bin Ziyad, ia berkata, “Aku pernah bersama Abu Umamah Al Bahili dan sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lainnya. Jika mereka kembali dari ‘ied (yakni shalat ‘ied), satu sama lain di antara mereka mengucapkan, ‘Taqabbalallahu minna wa minka” Imam Ahmad mengatakan bahwa sanad riwayat Abu Umamah ini jayyid. ‘Ali bin Tsabit berkata, “Aku pernah menanyakan pada Malik bin Anas sejak 35 tahun yang lalu.”
Ia berkata, “Ucapan selamat semacam ini tidak dikenal di Madinah.”
Diriwayatkan dari Ahmad bahwasanya beliau berkata, “Aku tidak mendahului dalam mengucapkan selamat (hari raya) pada seorang pun. Namun jika ada yang mengucapkan selamat padaku, aku pun akan membalasnya.” (Ibnu Qudamah, Al-Mughni, Juz 2 Halaman 295)
Ibnu Taimiyah juga pernah ditanya tentang kebiasaan manusia mengucapkan selamat hari raya, dengan beragam kalimat seperti ‘Iduka Mubarak, dll. Apakah ini ada dasarnya? Beliau menjawab: الْجَوَابُ: أَمَّا التَّهْنِئَةُ يَوْمَ الْعِيدِ يَقُولُ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ إذَا لَقِيَهُ بَعْدَ صَلَاةِ الْعِيدِ: تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ، وَأَحَالَهُ اللَّهُ عَلَيْك، وَنَحْوُ ذَلِكَ، فَهَذَا قَدْ رُوِيَ عَنْ طَائِفَةٍ مِنْ الصَّحَابَةِ أَنَّهُمْ كَانُوا يَفْعَلُونَهُ وَرَخَّصَ فِيهِ، الْأَئِمَّةُ، كَأَحْمَدَ وَغَيْرِهِ. لَكِنْ قَالَ أَحْمَدُ: أَنَا لَا أَبْتَدِئُ أَحَدًا، فَإِنْ ابْتَدَأَنِي أَحَدٌ أَجَبْته، وَذَلِكَ لِأَنَّ جَوَابَ التَّحِيَّةِ وَاجِبٌ، وَأَمَّا الِابْتِدَاءُ بِالتَّهْنِئَةِ فَلَيْسَ سُنَّةً مَأْمُورًا بِهَا، وَلَا هُوَ أَيْضًا مَا نُهِيَ عَنْهُ، فَمَنْ فَعَلَهُ فَلَهُ قُدْوَةٌ، وَمَنْ تَرَكَهُ فَلَهُ قُدْوَةٌ. وَاَللَّهُ أَعْلَمُ
Ada pun ucapan selamat di hari raya, sebagian orang berkata kepada yang lainnya setelah salat ‘id: Taqabbalallahu minnaa wa Minkum, Ahalahullah ‘Alaik, dan semisalnya. Maka yang seperti ini telah diriwayatkan dari segolongan sahabat Nabi SAW bahwa mereka melakukannya.
Para imam pun memberikan keringanan, seperti Imam Ahmad dan lainnya, tetapi Imam Ahmad berkata: “Aku tidak akan memulainya kepada seseorang, tapi jika ada orang yang mengucapkan kepadaku, aku akan menjawabnya.”
Hal ini karena menjawab ucapan selamat itu wajib. Ada pun memulainya, bukankah sunah yang diperintahkan, tapi itu juga bukan hal yang dilarang”. (Al-Fatawa al-Kubra, Juz 2 Halaman 371)
Adapun dalam konteks zamannya Rasulullah SAW, tidak kami dapati tradisi yang serupa dengan halal bi halal. Namun secara substansial, tradisi tersebut didukung dengan banyak hadis Nabi SAW.
Di antaranya adalah saling bermaaf-maafan, bersilaturrahim, dan saling mendoakan. Sehingga, meskipun tradisi halal bi halal ini tidak ada di zaman Nabi Muhammad Saw, namun kiranya akan mendapat pahala bagi yang melaksanakannya, dengan berpijak pada dalil-dalil umum yang legitimasinya. Hanya saja, jika memiliki salah itu seyogyanya segera meminta maaf dan mengembalikan haknya, tanpa menunggu momentum halal bi halal. Baca juga:Dahsyatnya Pahala Mati Syahid : 6 Kemuliaan yang Dijanjikan










