Houthi Yaman Ancam Intervensi Militer dalam Perang Iran-AS
Pemimpin kelompok Houthi Yaman mengatakan gerakannya "tidak netral" dalam perang yang sedang berlangsung antara Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel. Dia memperingatkan kelompoknya akan melakukan intervensi militer jika perkembangan regional mengharuskannya.
“Kami tidak netral, tetapi posisi kami berasal dari keyakinan pada Islam dan bangsa Islam,” kata Abdul-Malik al-Houthi dalam pidato yang disiarkan televisi dan dikutip televisi Al-Masirah milik kelompok tersebut.
Dia menegaskan, “Setiap perkembangan di lapangan akan ditanggapi dengan sikap militer jika diperlukan, seperti pada putaran sebelumnya.”
Ia mengatakan serangan AS-Israel terhadap Iran telah merugikan kepentingan ekonomi negara-negara di dunia dan keamanan serta stabilitas regional, menyebut serangan itu "tidak dapat dibenarkan."
“Perkembangan di kawasan ini selama beberapa tahun terakhir menunjukkan AS dan Israel berupaya melaksanakan rencana Zionis yang menargetkan semua negara di kawasan ini dengan tujuan mengubah Timur Tengah dan menciptakan Israel Raya,” katanya.Didukung oleh Iran, Houthi menguasai sebagian besar provinsi Yaman, termasuk ibu kota Sanaa, sejak 2014.
Kelompok ini melakukan serangan rudal dan drone terhadap Israel dan kapal-kapal yang melintas di Laut Merah sebagai balasan atas serangan mematikan Israel di Jalur Gaza, yang telah menewaskan lebih dari 72.000 orang sejak Oktober 2023.
AS dan Israel telah melakukan serangan udara terhadap Iran sejak 28 Februari, yang sejauh ini telah menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi saat itu, Ali Khamenei.
Iran telah membalas dengan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel, bersama dengan Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS, menyebabkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur serta mengganggu pasar global dan penerbangan.
Baca juga: Iran Tingkatkan Ekspor Minyak Jadi 1,5 Juta Barel Per Hari Meskipun Perang Berlangsung








