The Economist Nilai Indonesia Aman dari Dampak Krisis Energi Global, DEN: Edukasi Masyarakat Harus Ditingkatkan

The Economist Nilai Indonesia Aman dari Dampak Krisis Energi Global, DEN: Edukasi Masyarakat Harus Ditingkatkan

Ekonomi | sindonews | Selasa, 24 Maret 2026 - 19:28
share

Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Satya Widya Yudha, merespons laporan The Economist yang telah menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara berkembang paling aman dari dampak krisis energi global akibat konflik antara Iran melawan Israel-Amerika Serikat.

Satya menilai temuan tersebut mencerminkan keberhasilan pemerintah dalam menjaga stabilitas energi nasional, terutama di tengah tekanan geopolitik global yang berpotensi mengganggu jalur distribusi minyak dunia, termasuk di Selat Hormuz yang dilalui sekitar 20 pasokan minyak global per hari. “Ini sebagai bentuk keberhasilan pemerintah merespons situasi perdagangan minyak mentah, terutama yang melewati Selat Hormuz yang diblokade oleh Iran,” katanya saat dihubungi dari Jakarta, Senin (23/3/2026).

Baca Juga : Lebih Kuat dari Vietnam, The Economist Tempatkan Indonesia di Zona Aman Krisis Energi The Economist dalam laporan berjudul 'Which country is the biggest loser from the energy shock' telah menempatkan Indonesia dalam kategori negara dengan paparan risiko rendah namun memiliki bantalan ketahanan yang kuat (low exposure, strong buffer). Menurut Satya, sejauh ini pemerintah Indonesia telah menerapkan sejumlah strategi, baik jangka pendek maupun panjang. Secara jangka pendek, kata dia, pemerintah cukup efektif mengedukasi masyarakat untuk melakukan penghematan energi. Ia meminta penghematan ini harus terus dilanjutkan di tengah ketidakpastian kondisi geopolitik. Sementara untuk strategi jangka panjang, Satya melihat upaya pemerintah membangun tambahan storage untuk cadangan BBM akan sangat membantu ketersediaan pasokan energi untuk kebutuhan domestik.

Baca Juga : Iran Tutup Selat Hormuz bikin Banyak Negara Kelimpungan “Upaya menyadarkan masyarakat untuk bisa hemat energi itu mulai dari memanfaatkan kendaraan transportasi umum, kendaraan listrik, kompor listrik, konversi BBM menuju listrik ataupun BBG, hingga membatasi mobilisasi kerja dengan menerapkan work from home atau WFH,” katanya. Satya menilai upaya pemerintah untuk mendorong peningkatan cadangan migas dengan aktivitas eksplorasi merupakan hal positif. Kondisi tersebut, kata dia, dapat membuat cadangan minyak mentah Indonesia tidak terlalu terpengaruh dengan fluktuasi harga dari impor minyak. Ia juga menekankan pentingnya peningkatan aktivitas eksplorasi migas domestik. Dalam beberapa tahun terakhir, produksi minyak Indonesia berada di kisaran 600 ribu barel per hari, sementara konsumsi mencapai lebih dari 1,5 juta barel per hari, sehingga masih terdapat gap yang harus ditutup melalui impor maupun peningkatan produksi dalam negeri. “Cadangan operasional juga harus ditingkatkan supaya coverage days-nya bisa menjadi tiga bulan. Di samping itu, pemerintah perlu juga mendorong peningkatan cadangan migas dengan aktivitas eksplorasi,” sarannya. The Economist dalam analisisnya menunjukkan bahwa Indonesia memiliki posisi strategis yang jauh lebih stabil dibandingkan negara tetangga seperti Vietnam. Meski sama-sama berada di zona low exposure, laporan itu memberikan Indonesia skor ketahanan (resilience score) yang lebih tinggi, mengungguli Vietnam yang lebih rentan terhadap gangguan rantai pasok manufaktur global. "Ini menjadi hal positif buat kita semua," kata Satya. Ke depan, DEN menilai bahwa kombinasi antara edukasi publik, diversifikasi energi, peningkatan cadangan, serta percepatan transisi energi akan menjadi kunci utama menjaga ketahanan energi Indonesia di tengah dinamika geopolitik global yang masih berpotensi berlanjut.

Topik Menarik