Hari Raya Idulfitri Momentum Perkuat Rekonsiliasi Nasional dan Kebangsaan
Di tengah dinamika politik domestik dan ketegangan geopolitik dunia, Idulfitri menjadi kesempatan penting untuk memperkuat rekonsiliasi sosial dan kebangsaan. Hari Raya Idulfitri bukan sekadar perayaan kemenangan spiritual setelah menjalankan ibadah Ramadan.
Lebih dari itu, momen ini memiliki makna mendalam sebagai waktu untuk membersihkan diri, mempererat silaturahmi, dan memperkuat nilai-nilai kebersamaan.
Tradisi saling memaafkan yang melekat dalam Idulfitri seharusnya dimaknai lebih dalam, bukan sekadar formalitas atau salaman fisik.
Baca juga: 11 Sunnah di Hari Lebaran, Jangan Lupa Amalkan!
Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Achmad Tjahja Nugraha, menegaskan makna Idulfitri sejatinya adalah kembali kepada kesucian hati dan memperbaiki relasi antar manusia, termasuk dalam kehidupan berbangsa. Menurutnya, tradisi saling memaafkan yang terjadi setiap IdulFitri seharusnya tidak berhenti pada simbol atau kebiasaan sosial semata.“Maaf dalam IdulFitri bukan sekadar berjabat tangan atau mengucapkan kata-kata formal. Hakikatnya adalah pembersihan hati, keikhlasan untuk menghapus dendam, serta membuka ruang rekonsiliasi yang tulus,” ujarnya, Rabu (18/3/2026).
Nilai memaafkan sendiri merupakan ajaran penting dalam Islam. Dalam Al-Qur’an, Allah memuji orang-orang yang mampu menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain. Sebagaimana disebutkan dalam Qur'an Surah Ali Imran 3:134:
Lihat video: Iman Drop Setelah Ramadan? Ini Cara Agar Ibadah Tetap Istikamah
“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan hartanya di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”Menurut Prof Achmad, semangat tersebut sangat relevan dengan kondisi kebangsaan yang kerap diwarnai perbedaan pandangan, konflik kepentingan, hingga polarisasi di ruang publik.
Dalam konteks itulah Idulfitri dapat menjadi “risalah nasional” yang mengingatkan seluruh elemen bangsa untuk kembali pada nilai persaudaraan, toleransi, dan persatuan.“Idulfitri adalah pesan moral bagi bangsa. Jika masyarakat mampu mempraktikkan maaf yang tulus, maka kehidupan sosial dan politik kita juga bisa lebih sehat dan damai,” katanya.
Al-Qur’an juga menegaskan pentingnya menjaga persaudaraan dan mendamaikan konflik di tengah masyarakat. Hal ini tercermin dalam Qur'an Surah Al-Hujurat 49:10:
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.”
Prof Achmad menilai, bangsa Indonesia yang majemuk membutuhkan energi moral seperti yang diajarkan dalam Idulfitri. Tradisi saling memaafkan dapat menjadi fondasi untuk memperkuat kohesi sosial di tengah berbagai perbedaan.
Karena itu, Prof Achmad mengajak masyarakat menjadikan Idulfitri sebagai momentum refleksi bersama, tidak hanya dalam lingkup keluarga tetapi juga dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
“Jika Idulfitri dimaknai secara mendalam, maka ia tidak hanya menjadi perayaan keagamaan, tetapi juga menjadi gerakan moral untuk memperbaiki hubungan sosial dan memperkuat persatuan bangsa,” pungkasnya.










