Iran Buka Akses Terbatas Selat Hormuz untuk Negara Netral, Indonesia Masuk Daftar?
Iran mulai melonggarkan pembatasan pelayaran di Selat Hormuz dengan mengizinkan kapal dari negara-negara netral melintas. Kebijakan ini dilakukan di tengah ketegangan yang masih berlangsung akibat konflik dengan Amerika Serikat dan Israel.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa jalur pelayaran tersebut tetap terbuka, namun diberlakukan pembatasan bagi kapal milik negara yang terlibat konflik. “Selat Hormuz tetap terbuka, namun tidak untuk kapal-kapal milik Amerika Serikat, Israel, dan sekutu mereka,” ujarnya dikutip dari NDTV, Selasa (17/3).
Baca Juga:Bahlil Bawa Angin Segar dari Selat Hormuz, Iran Buka Ruang Dialog
Kebijakan ini muncul setelah Iran sebelumnya menutup selat tersebut menyusul serangan udara terkoordinasi oleh Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari 2026 yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei. Sebagai respons, Garda Revolusi Iran sempat menghentikan lalu lintas kapal dan menyebabkan volume pelayaran anjlok drastis.
Seiring perkembangan situasi, Iran mulai membuka akses terbatas. Kapal dari sejumlah negara seperti India, Pakistan, Bangladesh, dan Turki dilaporkan telah mendapat izin melintas melalui koordinasi militer Iran.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyatakan bahwa kapal dari negara yang tidak terlibat konflik diperbolehkan melintas dengan persetujuan otoritas setempat. India bahkan dilaporkan telah mengajukan izin bagi puluhan kapal untuk melewati jalur tersebut.
Baca Juga:Trump Dicueki, 11 Sekutu AS Menolak Kirim Kapal Perang ke Selat Hormuz
Kebijakan ini berdampak signifikan terhadap rantai pasok energi global, terutama bagi negara-negara Asia yang bergantung pada impor minyak dari Timur Tengah. China dan India menjadi yang paling terdampak, sementara Indonesia juga mengalami gangguan pasokan energi.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, menyebut sekitar 20 hingga 25 impor minyak mentah Indonesia terdampak, sehingga pemerintah melakukan diversifikasi pasokan, termasuk meningkatkan impor dari Amerika Serikat.
Di tengah situasi tersebut, harga minyak dunia melonjak tajam hingga melampaui 100 dolar AS per barel. Pemimpin tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, menegaskan opsi penutupan Selat Hormuz tetap terbuka, mengindikasikan ketegangan berpotensi berlangsung dalam jangka panjang.









