Urgensi Green Campus di Tengah Krisis Ekologis

Urgensi Green Campus di Tengah Krisis Ekologis

Nasional | sindonews | Selasa, 17 Maret 2026 - 06:56
share

Frangky SelamatDosen Tetap Program Studi Sarjana Manajemen FEB Universitas Tarumanagara

BENCANA alam di sejumlah daerah di Indonesia seolah kembali mengingatkan bahwa alam telah berubah dan rusak. Peran manusia begitu besar yang mengakibatkan bencana itu terjadi. Hujan yang semestinya menjadi berkah untuk alam seisinya malah menjadi pemicu banjir bandang, tanah longsor, dan serentetan musibah yang seolah tiada henti.

Kemurkaan alam menimbulkan banyak tanya, apa yang mesti diperbuat. Ada yang menyerukan perlunya pertobatan ekologis, penindakan tegas ke sejumlah pihak yang dianggap merusak lingkungan dan sebagainya. Serangkaian tindakan dilakukan bak pemadam api kebakaran.

Di balik itu seharusnya lembaga pendidikan khususnya perguruan tinggi berperan secara strategis, tidak cuma sekadar memberi pertolongan kepada korban bencana. Ada hal fundamental yang perlu dibangun dan diusahakan terus-menerus. Setidaknya terdapat empat aspek yang patut menjadi perhatian (Ayesha Ali, 2024).

Pertama, perguruan tinggi dipandang sebagai tempat lahirnya para pemimpin masa depan yang mampu menyampaikan praktik manajemen berkelanjutan kepada para pemangku kepentingan dan pengambil keputusan. Karena itu, penting untuk mendorong staf, dosen, dan mahasiswa agar memahami nilai-nilai utama keberlanjutan serta terus menyesuaikan perilaku mereka demi tercapainya tujuan keberlanjutan. Mahasiswa dapat berperan sebagai “juru bicara” keberlanjutan, sehingga program-program keberlanjutan menjadi lebih efektif.Kedua, perguruan tinggi mengintegrasikan isu keberlanjutan ke dalam kurikulum dan penelitian, sehingga menumbuhkan kesadaran lingkungan dan inovasi di kalangan mahasiswa maupun dosen. Pendekatan menyeluruh terhadap keberlanjutan, mulai dari operasional kampus, pendidikan, hingga keterlibatan masyarakat, menegaskan posisi mereka sebagai pelopor inisiatif green campus.

Ketiga, pengelola universitas mendorong penggunaan ulang dan daur ulang berbagai material, mulai dari kertas dan botol plastik hingga perabot kampus, demi mewujudkan kampus yang lebih berkelanjutan. Untuk membiasakan mahasiswa menerapkan praktik berkelanjutan, tempat sampah daur ulang ditempatkan secara strategis di kampus. Di beberapa universitas terkemuka dunia, kegiatan akhir semester diselenggarakan untuk menyalurkan furnitur bekas kepada mahasiswa baru.

Terakhir, keberhasilan program keberlanjutan sangat bergantung pada partisipasi mahasiswa. Upaya pengelola kampus akan sia-sia jika mahasiswa enggan berpartisipasi. Keberhasilan program juga sangat ditentukan oleh perilaku mahasiswa.

Universitas juga perlu memberikan pelatihan kepada mahasiswa agar mereka dapat memanfaatkan peluang dari proyek keberlanjutan secara maksimal, karena hal ini penting bagi pengembangan profesional calon pemimpin masa depan (Geng dkk, 2013).

Green Campus

Mewujudkan green campus tampaknya tidak dapat ditawar-tawar lagi. Upaya jangka pendek dilakukan untuk mengeliminasi dampak buruk, namun yang tidak kalah penting berinvestasi jangka menengah dan panjang, menyiapkan generasi yang lebih “sadar” lingkungan dan mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan.Green campus adalah universitas yang menerapkan praktik keberlanjutan yang kuat, seperti infrastruktur ramah lingkungan, pengelolaan sampah yang efektif, serta dukungan terhadap transportasi hijau. Sebagai bagian dari green innovation, green campus menjadi wujud nyata kampus yang tidak hanya sebagai pusat penyebaran pengetahuan tetapi sekaligus sebagai contoh praktik manajemen berkelanjutan.

Inovasi hijau tidak hanya memberikan keunggulan bersaing bagi institusi, tetapi juga membawa manfaat ekologis dan sosial (Cillo dkk, 2019). Dalam inovasi berkelanjutan, faktor sosial dan lingkungan sama-sama diperhatikan. Hal ini mencakup inovasi teknologi untuk penghematan energi, desain produk hijau, daur ulang limbah, pencegahan polusi, serta manajemen lingkungan.

Tujuan utama inisiatif green campus, yang mencakup pembangunan infrastruktur hijau dan pendidikan pembangunan berkelanjutan adalah menurunkan jejak karbon perguruan tinggi sekaligus meningkatkan pemahaman mahasiswa mengenai sikap dan perilaku berkelanjutan (Ribeiro dkk, 2021).

Pada akhirnya, gagasan green campus tidak boleh berhenti sebagai jargon institusional atau sekadar proyek seremonial yang kehilangan makna. Apalagi hanya untuk mengejar pemeringkatan (ranking). Ia harus menjelma menjadi komitmen kolektif yang hidup dalam setiap kebijakan, kurikulum, dan perilaku keseharian sivitas akademika.

Perguruan tinggi memiliki posisi strategis bukan hanya sebagai pusat ilmu pengetahuan, tetapi sebagai lokomotif perubahan yang menanamkan kesadaran ekologis lintas generasi. Sudah saatnya universitas di Indonesia berdiri di garis depan, bukan sekadar merespons bencana, tetapi mencegahnya, dengan melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga arif dalam merawat bumi.

Topik Menarik