Kapan Unit BYD Made In Indonesia Mulai Mengaspal?

Kapan Unit BYD Made In Indonesia Mulai Mengaspal?

Otomotif | sindonews | Kamis, 12 Maret 2026 - 12:32
share

Mengimpor dan menjual lebih dari 54.000 unit kendaraan listrik (EV) sepanjang Januari-Desember 2025 jelas membuktikan besarnya selera pasar Indonesia. Namun, bagi raksasa otomotif asal China, BYD, angka tersebut hanyalah langkah pembuka. Di 2026 ini, mereka punya target jauh lebih besar: menghentikan ketergantungan impor dan mulai merakit mobil langsung di Tanah Air.

Proses transisi dari importir menjadi produsen lokal ini sedang dikebut. Presiden Direktur PT BYD Motor Indonesia, Eagle Zhao, mengungkapkan bahwa perusahaannya telah mengantongi berbagai sertifikasi krusial dari pemerintah pada akhir 2025. Memasuki awal 2026, status pabrik mereka kini telah naik kelas ke tahap uji coba.

”Di akhir 2025 kami sudah mendapat sertifikasi penting dari pemerintah. Mulai kuartal pertama kami memulai tes dan penyelarasan produksi,” tegas Eagle saat ditemui di Jakarta Pusat, Senin (9/3).

Langkah kehati-hatian BYD melakukan penyelarasan produksi (production alignment) di kuartal pertama ini sangat logis jika melihat tren pasar 2026.

Konsumen otomotif Indonesia semakin kritis; mereka menginginkan harga yang lebih kompetitif lewat skema perakitan lokal, namun menolak kompromi pada kualitas.Bagi BYD, mempertahankan standar global bukan perkara sepele. Pabrik perakitan di Indonesia dituntut mampu mereplikasi presisi dan kualitas manufaktur layaknya fasilitas raksasa mereka di Zhengzhou, China, yang bahkan didukung oleh sirkuit All-Terrain terintegrasi untuk pengujian ketat setiap unit yang keluar dari jalur produksi. Kualitas utuh inilah yang coba dipastikan oleh Eagle sebelum pabrik di Subang beroperasi penuh.

“Setiap model yang kami produksi kami pastikan harus sesuai standar global,” papar Eagle.

Secara bisnis, merakit mobil secara lokal adalah harga mati bagi merek asing di Indonesia tahun ini. Kehadiran fasilitas produksi domestik akan menggenjot Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Angka TKDN yang tinggi tidak hanya mengamankan insentif dari pemerintah, tetapi juga menekan harga jual akhir ke konsumen, sekaligus memperkuat fondasi ekosistem kendaraan listrik nasional.

Meskipun Eagle masih enggan merinci tanggal pasti kapan keran produksi massal itu resmi dibuka, arah strateginya sudah sangat jelas. BYD tidak ingin kehilangan momentum emas di pasar yang sedang tumbuh pesat.

“Kami juga ingin secepatnya mengeluarkan produk made in Indonesia,” bebernya.

Kini, publik tinggal menunggu waktu. Jika uji coba di kuartal pertama ini berjalan mulus sesuai standar fasilitas manufaktur global mereka, jalan bagi mobil-mobil BYD buatan Subang untuk mendominasi aspal Indonesia akan semakin terbuka lebar.

Topik Menarik