Bos Pentagon: Iran Sudah Tamat, AS dan Israel Akan Hujani Kematian dan Kehancuran
Kepala Pentagon atau Menteri Perang Amerika Serikat (AS) Pete Hegseth mengeklaim dalam waktu seminggu, AS dan Israel akan memiliki kendali penuh atas wilayah udara Iran. Dia juga sesumbar bahwa Iran "sudah tamat".
Lebih lanjut, Hegseth berjanji akan menghujani Iran dengan “kematian dan kehancuran", dan menegaskan bahwa AS dapat terus berperang selama yang dibutuhkan, meskipun dia mengakui bahwa AS tidak dapat menghentikan semua serangan yang dilancarkan Teheran.
Baca Juga: Kapal Selam AS Tenggelamkan Kapal Perang Iran di Dekat Sri Lanka, 87 Tewas, Medan Perang Meluas
Pengakuan bos Pentagon itu mengisyaratkan kemungkinan korban jiwa di pihak AS di masa mendatang dan kerusakan lebih lanjut pada aset-aset Amerika.
"Iran sudah tamat, dan mereka mengetahuinya,” kata Hegseth dalam komentarnya kepada wartawan pada Rabu atau hari kelima perang AS-Israel melawan Iran."Atau setidaknya, sebentar lagi, mereka akan mengetahuinya," ujarnya, seperti dikutip dari Reuters, Kamis (5/3/2026).Dia menekankan bahwa AS dan Israel baru saja memulai perburuan dan pelemahan kemampuan Iran. "Tetapi sebentar lagi mereka akan memiliki wilayah udara yang tak terbantahkan," imbuh dia.
"Itu berarti kita akan terbang sepanjang hari, sepanjang malam, siang dan malam, menemukan, dan menghancurkan rudal dan basis industri pertahanan militer Iran. Menemukan dan menghancurkan para pemimpin mereka, dan para pemimpin militer mereka,” kata Hegseth.
Dia mengatakan bahwa para pemimpin Iran akan melihat ke atas dan hanya melihat kekuatan udara AS dan Israel. “Setiap menit setiap hari sampai kita memutuskan bahwa ini sudah berakhir," ujarnya.
“Iran tidak akan bisa berbuat apa-apa,” paparnya. “Kematian dan kehancuran dari langit. Sepanjang hari," sambung dia.
"Pilot AS memiliki wewenang maksimum yang diberikan secara pribadi oleh presiden dan saya sendiri,” imbuh dia. "Aturan keterlibatan dirancang untuk melepaskan kekuatan Amerika, bukan untuk membelenggunya.”“Ini tidak pernah dimaksudkan untuk menjadi pertarungan yang adil, dan ini bukan pertarungan yang adil,” lanjut Hegseth. “Kita menyerang mereka saat mereka sedang terpuruk, dan memang seharusnya begitu.”
Menteri Perang Amerika itu menambahkan bahwa kampanye militer ini memiliki intensitas tujuh kali lipat dari operasi Israel pada bulan Juni melawan Iran. “Gelombang yang lebih banyak dan lebih besar akan datang; kita baru saja memulai. Kita sedang mempercepat," katanya.
Setelah supremasi udara tercapai, kata dia, AS akan mulai menjatuhkan bom presisi 500, 1000, dan 2000 pon, yang persediaannya hampir tak terbatas.
Menurutnya, persediaan rudal berpemandu jarak jauh dan rudal Patriot AS tetap sangat kuat. Klaim ini disampaikan di tengah kekhawatiran bahwa kampanye militer melawan Iran dapat menguras pertahanan Amerika menjelang potensi perang dengan China.
“Kita dapat mempertahankan pertempuran ini dengan mudah, selama yang kita butuhkan,” kata Hegseth, menepis kekhawatiran bahwa pertahanan udara sekutu Arab Amerika dapat habis di tengah serangan rudal dan drone Iran yang terkoordinasi. “Pertahanan udara kita dan sekutu kita memiliki landasan yang cukup.”“Kami akan meluangkan waktu yang kami butuhkan untuk memastikan kami berhasil,” kata Hegseth.
Hegseth mengatakan timeline perang bisa lebih lama dari yang diperkirakan sebelumnya, setelah Presiden AS Donald Trump sendiri memberikan berbagai penilaian tentang lamanya perang dalam wawancara selama beberapa hari terakhir.
“Anda bisa mengatakan empat minggu, tetapi bisa enam, bisa delapan, bisa tiga,” kata Hegseth. “Pada akhirnya, kita yang menentukan kecepatan dan temponya.”
Dia berpendapat bahwa Iran tidak dapat beradaptasi dengan tantangan yang dihadapinya. “Para pemimpin senior Iran telah meninggal. Dewan pemerintahan yang seharusnya memilih pengganti telah meninggal, hilang, atau bersembunyi di bunker, terlalu takut untuk bahkan berada di ruangan yang sama," paparnya.
“Angkatan Udara Iran sudah tidak ada lagi,” klaim Hegseth. “Angkatan Laut Iran berada di dasar Teluk Persia.”
“Kami telah menguasai wilayah udara dan perairan Iran tanpa pasukan darat,” lanjutnya. “Kami mengendalikan nasib mereka.”










