Pesawat Wing of Zion Israel Diungsikan ke Jerman, Netanyahu Kabur dari Serangan Iran?
Israel diketahui telah mengungsikan pesawat resmi pemerintahnya, Wing of Zion, ke Jerman setelah Iran meluncurkan serangan balasan sejak akhir pekan lalu.
Juru bicara Kanselir Jerman Friedrich Merz, Stefan Kornelius, mengonfirmasi keberadaan pesawat yang biasa membawa Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu tersebut.
Baca Juga: Iran Tak Ada Takut-takutnya, Siap Perang Panjang Melawan AS dan Israel
Pemindahan pesawat itu memicu spekulasi liar di media sosial bahwa Netanyahu melarikan diri ke Jerman untuk menghindari serangan balasan Iran.
Kornelius, dalam konferensi pers di Berlin pada hari Senin, menepis spekulasi tersebut. Dia mengeklaim bahwa tidak ada pejabat pemerintah Israel di pesawat Wing of Zion ketika tiba di bandara Berlin pada hari Sabtu.“Pemerintah Israel meminta izin untuk memarkir pesawat ini di sini. Kami dengan senang hati memenuhi permintaan tersebut,” katanya, seperti dikutip dari Middle East Monitor, Selasa (3/3/2026).Dia menambahkan bahwa hanya awak penerbangan yang hadir ketika pesawat itu tiba di Berlin.
Penyeberangan Rafah Dibuka Lagi dengan Interogasi, Penyiksaan, dan Keterlibatan Geng Abu Shabab
Data pelacakan penerbangan menunjukkan pesawat tersebut berangkat dari Israel pada Sabtu siang, berputar-putar selama beberapa jam di atas Laut Mediterania, kemudian terbang ke Jerman dan mendarat di Berlin pada malam harinya.
Pesawat Boeing 767 yang dilengkapi secara khusus ini berfungsi sebagai pesawat resmi untuk perjalanan luar negeri oleh presiden dan PM Israel. Menurut laporan media Israel, pesawat tersebut dilengkapi dengan sistem komunikasi aman yang canggih.
Perang Iran melawan Amerika Serikat(AS) dan Israel dimulai sejak Sabtu pekan lalu ketika Tel Aviv dan Washington menyerang berbagai situs penting di Teheran dan kota lainnya. Serangan tersebut telah menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Teheran tidak menunggu lama untuk meluncurkan serangan balasan. Berbagai wilayah di Israel dihantam rudal dan drone Iran, menewaskan sekitar 9 orang dan banyak lainnya terluka. Begitu juga dengan pangkalan-pangkalan militer di negara-negara Teluk. Sejauh ini, sudah enam tentara AS tewas akibat serangan rudal balasan Iran.Iran telah menegaskan tidak mengenal kata takut dan telah mempersiapkan diri perang panjang melawan AS dan Israel. Sebaliknya, Teheran mempertanyakan Washington apakah siap untuk hal yang sama.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, menyampaikan hal itu pada hari Senin ketika Presiden AS Donald Trump menyatakan militer Washington telah melancarkan serangkaian pengeboman di Iran, yang dengan cepat meningkat menjadi konflik regional.
“Trump menjerumuskan kawasan ini ke dalam kekacauan dengan 'fantasi-fantasinya yang delusi' dan sekarang takut akan lebih banyak korban jiwa di pihak pasukan Amerika,” kata Larijani dalam sebuah unggahan di media sosial.
“Dengan tindakannya yang delusi, ia mengubah slogan ‘America First’ yang dia ciptakan sendiri menjadi ‘Israel First’ dan mengorbankan tentara Amerika demi ambisi Israel yang haus kekuasaan," paparnya.
“Iran, tidak seperti Amerika Serikat, telah mempersiapkan diri untuk perang yang panjang,” katanya lagi.










