Cerita Puja Aqdamuyasyaro, dari Mawapres ke Wisudawan Terbaik FH Unesa

Cerita Puja Aqdamuyasyaro, dari Mawapres ke Wisudawan Terbaik FH Unesa

Gaya Hidup | sindonews | Selasa, 3 Maret 2026 - 06:30
share

Puja Aqdamuyasyaro resmi dikukuhkan sebagai wisudawan terbaik Fakutas Hukum Universitas Negeri Surabaya (FH Unesa). Puja lulus dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,86.

Mahasiswi asal Desa Kebonwaris, Pandaan ini memang menyukai dunia hukum sejak dini. Puja kecil sangat menyukai tayangan berita kriminal alih-alih film kartun. Deretan kasus hukum yang menghiasi layar kaca adalah pemantik rasa ingin tahu yang besar.

Baca juga: Kisah Zufa Lulusan Ilmu Keperawatan UGM dengan IPK 4,00: Setiap Malam Saya Telpon Ibu

Terinspirasi Diskusi dengan Ayah

Berawal dari diskusi-diskusi ringan di meja makan bersama sang ayah yang bertugas sebagai perangkat desa, ketertarikan gadis asal Desa Kebonwaris, Pandaan, Pasuruan ini terhadap dunia hukum mulai mengakar sejak dini.

“Sejak kecil saya sering melihat berita kasus hukum di televisi dan berdiskusi dengan ayah. Dari situ, saya mulai tertarik memahami bagaimana sebenarnya hukum bekerja di tengah masyarakat,” katanya, dikutip dari laman Unesa, Selasa (3/3/2026).

Baca juga: Cerita Rezzy, Wisudawan Terbaik Unpad yang Masuk Top 2 Peneliti Dunia

Skripsi Puja Soroti Cyber Child Grooming

Alumni SMA Negeri 1 Purwosari memiliki kepedulian terhadap kelompok rentan. Hal ini tercermin dari skripsinya yang membandingkan hukum Indonesia dan Australia terkait Cyber Child Grooming.Puja yang masuk jurusan IPA dan program akselerasi dua tahun ini prihatin melihat maraknya kejahatan seksual terhadap anak di ruang digital yang belum diimbangi dengan regulasi domestik yang memadai.

Dalam analisisnya, ia menguraikan bahwa peraturan di Indonesia masih cenderung parsial dan belum secara eksplisit mengatur unsur-unsur manipulasi digital (grooming) dalam satu pasal khusus.

Berbeda dengan Australia yang telah memiliki aturan komprehensif. Atas temuan tersebut, ia menawarkan gagasan progresif berupa reformulasi Pasal 76E Undang-Undang Perlindungan Anak agar penindakan hukum dapat dilakukan sejak tahap awal niat pelaku muncul di sistem elektronik.

Aktif Berprestasi dan Magang di Kejati Jatim

Selama menyandang status mahasiswa, Puja dikenal sebagai sosok yang haus akan kompetisi dan pengalaman lapangan. Ia tercatat sebagai Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) FH Unesa 2025 dan menyabet berbagai gelar juara esai mulai dari tingkat nasional hingga internasional.

Di organisasi, ia pernah mengemban amanah sebagai Kepala Biro Mooting pada Komunitas Moot Court FH Unesa serta Bendahara Umum di UKM Ilmiah (UKIM) Unesa.

Tak hanya jago berteori, ia mengasah ilmi hukumnya melalui program magang sebagai Asisten Jaksa di Kejaksaan Tinggi Jawa Timur. Di sana, ia terlibat langsung dalam analisis berkas perkara hingga penyusunan dakwaan.Pengalaman ini diperkaya dengan kiprahnya di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Legundi, di mana ia terjun membantu masyarakat di Pos Bantuan Hukum Pengadilan Negeri Surabaya dan Sidoarjo.

“Pengalaman lapangan ini memperkuat pandangan saya bahwa hukum tidak hanya soal teks dalam buku, tetapi alat nyata untuk menghadirkan keadilan bagi masyarakat kecil,” tambahnya.

Kunci Sukses Puja Jaga IPK dan Segudang Prestasi: Disiplin dan Konsistensi

Meski memiliki segudang kesibukan, Puja tetap mampu menjaga performa akademiknya. Rahasianya bukan pada belajar secara berlebihan, melainkan pada kedisiplinan menjaga konsistensi. Ia terbiasa membuat jadwal yang terukur dan menyelesaikan setiap tanggung jawab tepat pada waktunya.

Baginya, prestasi yang diraihnya saat ini hanyalah awal dari pengabdian panjang. Kisahnya menjadi bukti bahwa minat yang dirawat sejak kecil, jika dipadukan dengan kerja keras dan kepedulian sosial, akan melahirkan pribadi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga tajam dalam nurani keadilan.

Topik Menarik