Kasus Kanker Paru di Usia Muda Meningkat, Imunoterapi dan Deteksi Dini Jadi Solusi
Kanker paru kini tidak lagi identik dengan kelompok usia lanjut atau perokok berat. Saat ini, semakin banyak dokter mendiagnosis penyakit tersebut pada individu berusia 30 hingga 40 tahun, termasuk mereka yang bukan perokok dan merasa dirinya sehat serta aktif. Pergeseran ini mencerminkan perubahan yang lebih luas dalam lanskap penyakit kanker di Indonesia.
Dr. Tanujaa Rajasekaran, Senior Consultant Medical Oncologist dari Parkway Cancer Centre (PCC), menyoroti profil pasien kanker paru yang terus berubah serta mendesaknya kebutuhan deteksi dini.
“Meskipun merokok masih menjadi faktor risiko utama, kami semakin sering menemukan pasien berusia lebih muda dan pasien yang tidak memiliki riwayat merokok. Faktor risiko seperti perokok pasif, polusi udara, paparan di tempat kerja, serta faktor genetika adalah kontributor penting yang tidak boleh diabaikan,” ungkap Dr. Tanujaa saat ditemui di kawasan Kebayoran, Jakarta Selatan, Kamis (26/2/2026).
Baca Juga : Deteksi Kanker Kini Lebih Canggih: AI Dukung Keputusan Terapi Lebih Tepat
Selama dua dekade terakhir, pengobatan kanker paru telah bergeser dari pendekatan yang didominasi oleh kemoterapi menuju perawatan yang sangat terpersonalisasi. Saat ini, keputusan pengobatan didasarkan pada jenis, stadium, dan profil genetik kanker sehingga dokter dapat menyesuaikan terapi sesuai dengan kondisi masing-masing pasien.Kemajuan seperti imunoterapi dan terapi radiasi proton telah meningkatkan hasil pengobatan secara signifikan. Imunoterapi memungkinkan sistem kekebalan tubuh mengenali dan menyerang sel kanker, sementara terapi proton memberikan radiasi yang sangat presisi ke lokasi tumor sehingga meminimalkan kerusakan pada jaringan sehat di sekitarnya.
Inovasi-inovasi ini tidak hanya meningkatkan kelangsungan hidup, tetapi juga mengurangi efek samping, sehingga banyak pasien, terutama mereka yang berada di usia produktif, dapat tetap menjalani aktivitas sehari-hari selama masa pengobatan.
Baca Juga : Ini 10 Gejala Kanker Paru-Paru yang Paling Umum Terjadi
"Pengobatan yang terpersonalisasi memungkinkan kami memilih terapi yang lebih efektif dan lebih dapat ditoleransi, khususnya bagi pasien di usia produktif yang harus menyeimbangkan pengobatan dengan tanggung jawab keluarga dan pekerjaan," tambah Dr. Tanujaa.
Sementara itu, salah satu tantangan utama dalam penanganan kanker paru-paru adalah keterlambatan diagnosis. Hal ini menekankan pentingnya deteksi dini dan dukungan serta mengingatkan masyarakat bahwa kanker paru tidak memandang usia maupun latar belakang.Gejala awal seperti batuk berkepanjangan, kelelahan, nyeri dada, atau sesak napas sering kali dianggap sebagai penyakit pernapasan biasa. Akibatnya, banyak pasien baru terdiagnosis pada stadium III atau IV, ketika pengobatan menjadi jauh lebih kompleks.
"Deteksi dini secara signifikan meningkatkan hasil pengobatan," jelas Dr. Tanujaa.
“Ketika gejala berlangsung lebih dari beberapa minggu, hal tersebut tidak boleh diabaikan. Evaluasi tepat waktu dan skrining yang sesuai dapat memberikan perbedaan yang bermakna terhadap tingkat kelangsungan hidup dan kualitas hidup pasien."










