Unik dan Sarat Makna, Masjid Tjia Kaang Hoo Hadir dengan Nuansa Tionghoa di Jakarta Timur
Di tengah bangunan megah dan deretan rumah ibadah yang terus berkembang di Jakarta, sebuah bangunan di sudut Pasar Rebo Jakarta Timur diam-diam menunjukkan eksistensinya sebagai rumah ibadah umat muslim (masjid) yang cukup unik. Masjid Tjia Kaang Hoo, sebuah rumah ibadah dengan nuansa arsitektur khas Tiong Hoa.
Sekilas, masjid yang terletak di Jalan Haji Soleh Kelurahan Pekayon Pasar Rebo Jakarta Timur ini terlihat seperti kelenteng dengan warna merah dan emas yang mendominasi serta lampion yang menggelantung di sepanjang jalan menuju masjid tersebut. Namun adzan yang berkumandang menegaskan bahwa bangunan itu merupakan sebuah masjid yang berdiri kokoh.
Frans (37), Pengurus DKM sekaligus Ketua Yayasan Haji Abdul Soleh mengatakan, keunikan masjid ini ada pada arsitekturnya. Jika biasanya masjid identik dengan arsitektur gaya Timur Tengah, Masjid Tjia Kaang Hoo justru menonjolkan diri dengan gaya arsitektur yang mirip dengan kelenteng. Bahkan tata letak ruangan, gerbang, dan hiasan yang digunakan juga hampir mirip dengan sebuah kelenteng.
Baca Juga : 10 Masjid Terbesar di Dunia, Umat Muslim Indonesia Patut BanggaAlasannya, sebagai representasi bahwa Tjia Kaang Hoo atau dikenal dengan Haji Abdul Soleh sebagai pendiri masjid dulunya beragama Kong Hu Chu. Ia kemudian menjadi mualaf dan menyebarkan agama Islam dengan membentuk majelis taklim di rumahnya yang sekarang ini menjadi Masjid Tjia Kaang Hoo.
“Jadi yang pertama untuk mengenai arsitekturnya itu sebetulnya ini berbentuk agak seperti kelenteng. Nah, kenapa seperti kelenteng? Karena awal mula disinilah mengingat sejarah daripada almarhum Haji Abdul Soleh atau Tjia Kaang Hoo ini pada saat belum memeluk agama Islam atau belum mualaf, beliau ini keyakinannya bukan Islam sehingga kita abadikan dalam sebuah bangunan,” kata Frans saat diwawancarai di Masid Tjia Kaang Hoo, Rabu (25/2/2026).
Namun jika diperhatikan lebih detail, arsitektur masjid ini ternyata merupakan perpaduan antara arsitektur Islam, Betawi dan Tiong Hoa. Hal itu dapat dilihat dari hiasan gigi balang khas Betawi yang terpasang di bagian luar masjid dengan sangat rapih dan presisi.
“Nah, ini seperti gigi (gigi balang) di depan ada disebutnya di Betawi, ini khasnya Betawi ini adalah yang menonjol dalam budaya Betawi ini paling menonjol ini seperti ini,” ucap dia.Baca Juga : Sentuhan Betawi, Tionghoa, dan Hindu di Masjid Hidayatullah
Sementara, di bagian dalam terdapat kaligrafi Asmaul Husna atau 99 sifat Allah yang memenuhi tembok area imam shalat. Bahkan kaligrafi tersebut sangat mengkilat dengan balutan warna emas yang menghiasi setiap ukirannya. Lampu-lampu yang digunakan juga turut menambah kilauan emas yang terpancar dari kaligrafi tersebut.
“Di samping sebagai hiasan, kami juga menyisipkan pesan di sana. Artinya apa? Inilah sifat Tuhan kami gitu, Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Jadi yang kami sisipkan kepada orang yang beribadah di sini, yang pertama jangan pernah ragu untuk kita selalu berdoa, kita selalu beribadah, jangan pernah ragu dengan apa yang dimiliki sifat daripada Tuhan kami Allah yaitu Allah Subhanahu Wa Ta'ala,” ungkap Frans.
Tidak hanya itu, arsitektur yang sangat menarik dan juga paling menonjol adalah kubah masjid yang berbentuk seperti pagoda berjumlah lima kubah. Diantaranya adalah empat kubah di setiap sudut dan satu kubah paling besar yang berada di tengah. Lima kubah yang berbentuk seperti pagoda itu memiliki makna filosofis lima rukun Islam yang harus dijalankan oleh umat muslim.
“Untuk di atas itu ada seperti kubah, iini ada lima kubah. Jadi filosofisnya kembali ke rukun Islam di dalam keyakinan kami, di dalam agama Islam ini ada lima rukun Islam. Nah, kita untuk menandakan saja ini sebagai rukun Islam,” papar dia.
Frans menceritakan bahwa masjid ini didirikan pada Oktober tahun 2022. nama Tjia Kaang Hoo sendiri diambil dari nama pendiri masjid ini yang dikenal juga sebagai Haji Abdul Soleh. “Jadi Masjid Tjia Kaang Hoo ini awal mulanya ini adalah rumah daripada almarhum Tjia Kaang Hoo ataupun Haji Abdul Soleh. Makanya itu diabadikan sebagai nama masjid ini yang bernama Masjid Tjia Kaang Hoo,” beber Frans.
Awalnya, bangunan ini hanyalah sebuah rumah tinggal milik Tjia Kaang Hoo yang sering digunakan sebagai perkumpulan kajian atau majelis taklim. Setelah Tjia Kaang Hoo meninggal, anak dari Tjia Kaang Hoo bernama Haji Budianto menggagas pendirian masjid di atas tanah bekas rumah dari Tjia Kaang Hoo.
“Seperjalanan rumah tempat tinggal ini dibuat menjadi majelis taklim. Diadakanlah kegiatan-kegiatan pengajian dan lain sebagainya yang berhubungan dengan keagamaan. Nah, setelah majelis taklim digagaslah oleh orang tua kami yaitu Bapak Haji Budianto untuk mendirikan masjid ini, akhirnya rembukan dengan anak-anak daripada Tjia Kaang Hoo diwakafkanlah tanah ini untuk pendirian masjid,” pungkas dia.










