Mau Jadi WNI Antre, Indonesia Adalah Masa Depan bagi Mereka yang Paham!
Saat satu suara berkata, "Cukup saya yang WNI," maka sebuah narasi tentang pelarian dimulai. Namun di pintu yang berbeda, ada antrean panjang yang justru ingin masuk (ke Indonesia).
Staf Khusus Menteri Hukum, Yadi Hendriana mengungkapkan hal itu dalam tulisan di media sosial resmi Instagramnya. Dia menyebut ketika satu orang memilih pergi, data menunjukkan ada ratusan lainnya berebut untuk tinggal (di Indonesia), meski makin sedikit yang diterima.
Baca juga: Alumni LPDP Pamer Paspor Anak Jadi WNA, Purbaya: Selama Saya di Sini Kena Blacklist Permanen
Ini adalah bukti bahwa bagi banyak warga negara asing (WNA), Indonesia adalah jawaban, bukan sekedar persinggahan. "Mari kita bicara tentang arah angin yang jarang terbaca. Emosi hanya akan mengaburkan fakta bahwa setiap orang punya titik pandang, meski tak semua punya rasa memiliki," ungkap Yadi dalam unggahan di akun @hendrianayadi.
Mengapa mereka rela mengantre demi status WNI? Yadi menegaskan bahwa Indonesia adalah ekonomi terbesar di Asia Tenggara. Bahkan, lanjut dia, IMF menyebut Indonesia sebagai titik terang pertumbuhan ekonomi global, di tengah lingkungan eksternal yang menantang."Mereka melihat status WNI sebagai "kartu akses" menuju ekonomi masa depan. Mereka tidak melihat "hambatan administratif". Mereka melihat pusat pertumbuhan dunia," lanjut Yadi.
Baca juga: Viral Alumninya Bangga Anak Jadi WNA, LPDP Buka Suara
Saat ini ada fenomena yang mengejar paspor kuat demi kemudahan akses. Pilihan yang pragmatis. Namun, sejarah mencatat bahwa kejayaan sebuah bangsa tidak dibangun oleh mereka yang pergi saat merasa "tidak adil", tapi oleh mereka yang menetap dan membangun solusi.
Kewarganegaraan bukan sekadar fasilitas perjalanan; ia adalah perikatan moral dan bangsa kewajiban kebangsaan untuk mengabdi. "Kita tidak perlu marah pada mereka yang melepaskan. Rumah tidak pernah kehilangan nilainya hanya karena ada penghuninya yang memutuskan untuk pindah," tandasnya."Kita hanya perlu memastikan bahwa tanah ini tetap menjadi tempat di mana orang-orang terbaik ingin berlabuh. Indonesia adalah masa depan. Bagi mereka yang paham," tandas Yadi.
Kewarganegaraan adalah tentang perspektif. Ada yang melihatnya sebagai batas, ada yang melihatnya sebagai identitas dan kontribusi. Berdasarkan statistik permohonan WNI, Kita paham bahwa banyak orang di luar sana melihat:
"Menjadi Indonesia adalah sebuah pilihan yang dicita-citakan," tegasnya.










