Modal Asing Deras Keluar, BI Diramal Tahan Suku Bunga Acuan 4,75

Modal Asing Deras Keluar, BI Diramal Tahan Suku Bunga Acuan 4,75

Ekonomi | sindonews | Kamis, 19 Februari 2026 - 08:23
share

Bank Indonesia (BI) menghadapi tantangan berat di awal tahun 2026. Di tengah lonjakan inflasi, derasnya arus modal asing yang keluar (capital outflow), serta tekanan pada nilai tukar rupiah, bank sentral diprediksi akan mengambil langkah konservatif dengan mempertahankan kebijakan moneter saat ini.

Ekonom LPEM FEB UI, Teuku Riefky menyarankan agar Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada Februari 2026 tetap mempertahankan BI Rate di level 4,75. Langkah ini dinilai sebagai jalan tengah untuk menjaga kepercayaan pasar yang tengah goyah.

“Dalam kondisi tekanan inflasi dan keluarnya modal asing, menahan suku bunga adalah langkah paling rasional. Pemangkasan suku bunga berisiko memperparah arus modal keluar, sementara kenaikan suku bunga bisa menekan permintaan domestik,” ujar Riefky dalam risetnya, dikutip Kamis (19/2/2026).

Baca Juga: Tok! BI Tahan Suku Bunga Acuan Januari 2026 di Level 4,75 PersenKondisi ekonomi Januari 2026 menunjukkan sinyal waspada dengan inflasi tahunan yang melesat ke angka 3,55 (yoy). Angka ini naik signifikan dari posisi Desember 2025 (2,92) dan telah melampaui batas atas sasaran inflasi BI.

Lonjakan ini dipicu oleh dua faktor utama seperti, low-base effect dari berakhirnya kebijakan diskon tarif listrik 50 di awal tahun sebelumnya dan kenaikan harga emas dunia yang mengerek inflasi inti hingga mencapai 2,45 (yoy).

Riefky mengingatkan bahwa tantangan belum berakhir karena siklus musiman akan segera tiba. “Ke depan tekanan masih akan berlanjut menjelang Ramadan dan Idulfitri karena faktor musiman,” kata Riefky.

Tekanan tidak hanya datang dari sektor riil, tapi juga pasar keuangan. Perubahan outlook Moody’s menjadi negatif serta isu kelayakan investasi dari MSCI memicu kepanikan investor.

Baca Juga: Rupiah Ambruk, Pemangkasan Suku Bunga Acuan BI Bakal Berisiko

Tercatat, arus modal keluar dari bursa saham mencapai kisaran USD1 miliar, sementara imbal hasil (yield) surat utang negara tenor 10 tahun merangkak naik ke level 6,40. “Isu kredibilitas kebijakan dan kapasitas institusi menjadi sorotan. Pasar merespons sangat cepat terhadap persepsi risiko,” jelas Riefky.Meski rupiah relatif terjaga berkat intervensi aktif bank sentral, cadangan devisa Januari 2026 tercatat menyusut menjadi USD154,6 miliar.

Dalam situasi yang penuh ketidakpastian ini, BI diharapkan tetap fokus pada mandat stabilitas nilai tukar daripada ambisi ekspansi ekonomi. Menjaga BI Rate di angka 4,75 dianggap sebagai komitmen nyata dalam menjaga stabilitas fiskal dan moneter.

“Yang juga tidak kalah penting, Bank Indonesia perlu terus menunjukkan bahwa independensinya tetap terjaga untuk memulihkan kepercayaan investor,” tegas Riefky.

Dengan demikian, respons kebijakan yang kredibel akan menjadi penentu utama apakah kepercayaan pasar dapat segera pulih di sepanjang sisa tahun 2026.

Topik Menarik