Ambisi Trump Caplok Greenland Bakal Ubah Peta Energi Dunia? Ada Harta Karun Minyak Miliaran Barel
Greenland kini bukan lagi sekadar pulau es yang sepi. Wilayah otonom Denmark ini mendadak jadi pusat geopolitik dunia setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menyuarakan ambisinya untuk membeli atau mencaplok wilayah tersebut.
Bukan tanpa alasan, di balik hamparan es yang ekstrem, Greenland menyimpan potensi emas hitam -julukan buat minyak mentah- yang bisa mengubah peta energi dunia selamanya. Baca Juga: Demi Ambisi Trump, AS dan Denmark Mulai Berunding soal Greenland
Harta Karun di Balik Lapisan Es
Penelitian pemerintah AS mengungkapkan fakta mengejutkan: wilayah di atas Lingkaran Arktik diperkirakan menyimpan hingga 90 miliar barel minyak dan 1.700 triliun kaki kubik gas alam.Jumlah minyak ini saja cukup untuk memenuhi seluruh permintaan global selama hampir tiga tahun, jika seluruh pengeboran lain di dunia dihentikan total. Salah satu titik pusatnya yakni Jameson Land, sebuah semenanjung di pesisir timur Greenland yang kini menjadi target utama perusahaan migas.
Perusahaan March GL (yang akan segera berganti nama menjadi Greenland Energy Company) berada di garis terdepan misi ini. CEO veteran Robert Price berencana mengucurkan dana ratusan juta dolar untuk mengebor dua sumur perdana pada tahun 2026.Baca Juga: Guncang Dominasi China, Tambang Greenland Temukan Cadangan Logam Tanah Jarang Strategis Baru
Meski harus menghadapi tantangan alam yang ekstrem -seperti laut yang membeku dan jendela waktu kerja yang sangat singkat-, Price tetap optimistis. "Dengan satu penemuan besar di sini, kami akan berubah menjadi perusahaan minyak raksasa dalam semalam," ujar Price kepada Yahoo Finance.
Kepentingan Nasional AS
Ketertarikan Trump terhadap Greenland bukan sekadar urusan bisnis, melainkan keamanan nasional. Pada awal Januari, Trump menegaskan, pentingnya penguasaan teritorial Greenland untuk melindungi kepentingan AS di Arktik, terutama menghadapi dominasi Rusia dan China.Rusia dan China, kedua negara ini terus meningkatkan kehadiran militer dan kapal pemecah es di rute pelayaran Arktik. Greenland sendiri sudah memiliki otonomi yang luas, meski Denmark masih bertanggung jawab atas urusan keamanan pulau tersebut.
"Saat kita memilikinya, kita mempertahankannya. Anda tidak mempertahankan kontrak sewa dengan cara yang sama seperti Anda memiliki wilayah tersebut," tegas Trump dalam pertemuan dengan eksekutif minyak di Gedung Putih.
Dilema Ekonomi dan Kemandirian Greenland
Bagi pemerintah lokal Greenland, keberhasilan penemuan minyak ini bisa menjadi kunci kemerdekaan ekonomi mereka dari Denmark. Saat ini, Greenland masih bergantung pada subsidi sebesar USD560 juta per tahun dari Denmark.Pendapatan dari ekspor minyak mentah bisa menutup celah tersebut dan memberi Greenland kedaulatan penuh. Namun rencana besar ini datang di saat yang sulit. Pasar minyak dunia diprediksi akan mengalami oversupply (kelebihan pasokan) pada tahun 2026.
Beberapa analis Wall Street bahkan memperingatkan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) bisa jatuh ke level USD30 per barel.
Meskipun pasokan melimpah, bagi Robert Price dan pemerintah AS, Greenland adalah investasi jangka panjang—sebuah "moonshot" atau ambisi besar yang bisa menentukan siapa pemenang dalam perang energi masa depan.










