Bonatua Diperiksa Kasus Ijazah Jokowi, Dicecar 27 Pertanyaan
Penjualan tinggi saja tampaknya tidak cukup bagi BYD. Setelah menguasai lebih dari separuh pasar mobil listrik nasional pada 2025, pabrikan asal China ini memilih satu langkah lebih jauh: pamer teknologi tingkat tinggi yang biasanya hanya hadir di dunia supercar.
Di sepanjang 2025, BYD mencatatkan penjualan 54.100 unit mobil listrik di Indonesia, setara dengan sekitar 52 persen pangsa pasar EV nasional. Angka tersebut menempatkan BYD bukan hanya sebagai pemimpin pasar, tetapi juga pemain paling dominan di ekosistem kendaraan listrik Tanah Air.
Namun di ajang Indonesia International Motor Show 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, BYD mengirimkan pesan yang lebih besar dari sekadar laporan penjualan. Lewat sesi BYD Tech Auto Talk, perusahaan membedah secara terbuka fondasi teknologi yang mereka siapkan untuk masa depan: e-Platform 3.0, Platform e3, dan Platform e4.
Dari Pasar Massal ke Teknologi Inti
Luther Panjaitan, Head of Marketing PR & Government Relation BYD Motor Indonesia, menyebut awal 2026 sebagai momentum penting bagi industri EV. “Awal tahun sangat baik, karena market share EV secara keseluruhan naik sekitar 3 persen dibanding Januari 2025,” ujarnya.
BYD, kata Luther, menikmati lonjakan yang jauh lebih besar. “Khusus BYD, market share-nya naik signifikan, sekitar 60 persen dari total EV yang terjual pada Januari lalu,” kata dia.
Dominasi pasar tersebut dibangun lewat model-model berbasis e-Platform 3.0, seperti BYD Seal dan Atto 3. Namun BYD menilai kepemimpinan pasar tidak akan bertahan lama tanpa pembaruan teknologi berkelanjutan. Dari sinilah lahir e3 dan e4—dua platform yang membawa BYD ke wilayah yang selama ini didominasi merek Eropa.
e-Platform 3.0: Tulang Punggung EV Massal
e-Platform 3.0 adalah fondasi produksi massal BYD. Platform ini dirancang untuk efisiensi, modularitas, serta biaya produksi kompetitif. Konfigurasinya maksimal menggunakan dua motor listrik. Satu di depan dan satu di belakang. Fokusnya, pada keseimbangan performa, efisiensi energi, serta kenyamanan harian.Platform ini digunakan di model-model volume besar BYD yang menjadi tulang punggung penjualan di Indonesia. Karakternya bukan ekstrem, tetapi stabil, aman, dan mudah diadaptasi untuk berbagai segmen. Bahkan, Denza D9 pun memakai e-Platform 3.0.
Platform e3: Tiga Motor untuk Kemewahan dan Presisi
Lompatan besar dimulai di Platform e3. Platform ini dirancang untuk segmen luxury performance, dengan konfigurasi tiga motor listrik independen: satu motor di roda depan dan dua motor terpisah di roda belakang.
“Jika platform 3.0 maksimal dua motor, maka di e3, ada tiga motor independen,” kata Bobby Bharata, Head of Product BYD Motor Indonesia.
Platform ini salah satunya diwujudkan di Denza Z9 GT, yang menjadi etalase teknologi e3. Secara teknis, motor depan menghasilkan 230 kW, sementara dua motor belakang masing-masing 210 kW. Total outputnya mencapai 710 kW, dengan torsi puncak 1.150 Nm—angka yang lazim ditemukan pada supercar.
Keunggulan e3 bukan hanya tenaga, tetapi juga kendali. Sistem Independent Rear Wheel Steering memungkinkan roda belakang berbelok secara aktif.
“Di kecepatan rendah, radius putarnya jadi lebih kecil. Di kecepatan tinggi, stabilitasnya meningkat,” ujar Bobby.Seluruh sistem ini dikendalikan oleh Vehicle Motion Control (VMC) yang membaca data dari 33 sensor, termasuk LiDAR, dalam hitungan milidetik. Sistem ini secara aktif mengatur distribusi torsi untuk menjaga stabilitas dan keselamatan saat manuver ekstrem.
Platform e4: Wilayah Hypercar
Jika e3 masih berbicara tentang kemewahan, Platform e4 adalah dunia yang sama sekali berbeda. Platform ini dirancang khusus untuk performa ekstrem, dengan empat motor independen, masing-masing menggerakkan satu roda.
Platform ini menjadi basis Yangwang U9. Total outputnya mencapai 1.300 PS atau sekitar 950 kW, dengan torsi 1.680 Nm. Akselerasi dari 0–100 km/jam hanya 2,36 detik, sementara jarak 400 meter ditempuh di bawah 10 detik.
Top speed yang dicapai bahkan menyentuh 496,2 km/jam—angka yang menempatkan U9 di kelas hypercar paling ekstrem di dunia. “Bahkan lebih cepat dibandingkan Kereta Cepat Whoosh,” beber Bobby. Untuk menopang performa tersebut, e4 menggunakan struktur carbon fiber yang terintegrasi dengan carbon steel dan aluminium, kombinasi material ringan dan sangat kuat yang lazim digunakan di dunia balap profesional.
Cell-to-Body: Fondasi Keamanan dan Stabilitas
Baik e3 maupun e4 bertumpu pada teknologi Cell-to-Body (CTB). Berbeda dari EV konvensional, di mana baterai hanya ditempatkan di atas rangka, CTB menjadikan sel baterai sebagai bagian struktural dari bodi.
“Dengan CTB, baterai ikut memperkuat struktur platform,” kata Bobby.
Hasilnya, kekakuan torsional meningkat 32 persen. Dampak tabrakan frontal berkurang 15 persen, sementara tabrakan samping berkurang hingga 35 persen. Selain itu, CTB menurunkan center of gravity, meningkatkan stabilitas saat menikung dan melaju kencang.Dengan menguasai 52 persen pasar EV nasional, BYD sebenarnya sudah berada di posisi aman. Namun keputusan untuk terus memperbarui teknologi—bahkan hingga level hypercar—menunjukkan strategi yang lebih agresif: membangun citra sebagai pemimpin teknologi, bukan sekadar juara penjualan.
Langkah ini penting di pasar seperti Indonesia, di mana persepsi kualitas dan teknologi masih menjadi faktor penentu adopsi EV. Dengan e-Platform 3.0, e3, dan e4, BYD menyusun spektrum teknologi lengkap—dari mobil harian hingga kendaraan performa ekstrem.
“Era baru ke depan adalah era teknologi elektrifikasi,” kata Luther Panjaitan. “Dan kami ingin informasi yang sampai ke konsumen itu clear dan komprehensif.”
Jika strategi ini konsisten, BYD tidak hanya akan mempertahankan dominasinya di pasar, tetapi juga mengubah persepsi tentang kendaraan listrik: bukan sekadar alat transportasi efisien, melainkan mesin berteknologi tinggi.








