Trehaus School Dorong Pembelajaran Sosial-Emosional Anak Usia Dini

Trehaus School Dorong Pembelajaran Sosial-Emosional Anak Usia Dini

Gaya Hidup | sindonews | Selasa, 10 Februari 2026 - 18:58
share

Trehaus School Jakarta bekerja sama dengan Association of National and Private Schools (ANPS) menggelar workshop pendidikan anak usia dini yang menyoroti pentingnya pembelajaran sosial-emosional (social-emotional learning/SEL) dan kecerdasan emosional bagi anak.

Workshop yang berlangsung selama setengah hari ini mempertemukan para orang tua, pendidik, dan praktisi pendidikan anak usia dini untuk memperdalam pemahaman mereka tentang pembelajaran sosial-emosional (social-emotional learning/SEL) serta kecerdasan emosional pada anak melalui dua sesi.

Sesi pertama, yang bertema “Raising Emotionally Intelligent Children Through Mindfulness” dipandu oleh Shareen Ratnani, Kepala Program di ANPS sekaligus Wakil Presiden Pendidikan di Kipinä Asia.

Baca juga: 125 Mahasantri Cinta Quran Center Siap Jadi Dai di Tengah Masyarakat

Dalam sesi ini dibahas bagaimana praktik kesadaran diri atau mindfulness dapat diintegrasikan ke dalam interaksi sehari-hari guna membantu anak mengembangkan kesadaran emosional, kemampuan regulasi diri, dan ketangguhan sejak usia dini.Sesi kedua, “The Heart of Social-Emotional Learning: Connecting Deeply with Young Children,” disampaikan oleh Elizabeth Wu, Co-founder dan COO Trehaus.

Ia menyoroti pentingnya membangun hubungan emosional yang kuat antara orang dewasa dan anak, dengan menekankan peran mendengarkan secara aktif, kehadiran penuh, serta komunikasi sebagai landasan atau fondasi pembelajaran yang efektif dan perkembangan emosional yang sehat.

“Pembelajaran sosial-emosional (SEL) dimulai ketika pendidik menyadari bahwa alat SEL paling kuat di dalam kelas adalah diri mereka sendiri – pendidik yang hadir dalam momen-momen keseharian yang bermakna bagi anak,” ujar Elizabeth Wu, melalui siaran pers, Selasa (10/2/2026).

“Melalui workshop ini, para pendidik diajak untuk kembali pada inti dari pembelajaran sosial-emosional, yaitu mendengarkan dengan penuh perhatian, berkomunikasi dengan empati, serta menanggapi kebutuhan anak dengan cara yang membangun kepercayaan, ketangguhan, dan hubungan yang bermakna," lanjutnya.

Sesi ini juga memperkenalkan strategi Komunikasi Tanpa Kekerasan (Non-Violent Communication), yang membekali pendidik untuk mengenali emosi mendasar anak, menghadapi interaksi yang menantang dengan penuh perhatian, serta memperkuat rasa percaya diri dan koneksi di dalam kelas.

Shareen Ratnani menambahkan, “Di tengah dunia yang serba cepat, mindfulness mengajarkan satu keterampilan penting kepada anak yaitu bagaimana cara berhenti sejenak, bernapas, dan membuat pilihan. Ini adalah keterampilan hidup yang dimulai sejak usia dini.”

Topik Menarik