Antara Margin dan Kemudahan: Skenario Doku Mengamankan Arus Kas UMKM Menjelang Puncak Belanja Nasional
Menjelang periode puncak konsumsi nasional, para pemilik merek lokal di Indonesia kini dihadapkan pada ujian klasik yang selalu berulang: mampukah infrastruktur digital mereka bertahan di bawah tekanan lonjakan transaksi Ramadan, atau justru menjadi titik lemah yang menggagalkan momentum keuntungan setahun sekali?
Di ibu kota Jawa Tengah, Senin (9/2/2026), perusahaan teknologi finansial (fintech) Doku mencoba menjawab kecemasan tersebut. Melalui kolaborasi dengan Expatify, firma ahli Shopify di Indonesia, Doku menyodorkan narasi kontradiktif. Di saat banyak pelaku usaha menengah terjebak dalam proses manual yang lambat, Doku menawarkan otomatisasi agresif melalui seminar bertajuk “Winning eCommerce in Today’s Market – Eid’ition”.
Logika pasar menunjukkan bahwa Ramadan bukan sekadar momen spiritual, melainkan anomali ekonomi di mana volume transaksi bisa melonjak berkali-kali lipat dalam hitungan jam, terutama menjelang waktu berbuka. Berdasarkan data internal, Doku telah memproses lebih dari 750 juta transaksi sepanjang 2025 dan melayani lebih dari 300.000 merchant. Pengalaman mengelola beban trafik raksasa inilah yang kini dicoba "didistilasi" untuk segmen bisnis menengah.
“Lonjakan transaksi selama Ramadan menuntut sistem pembayaran yang stabil dan menyesuaikan dengan kebutuhan transaksi. Kami memastikan pengguna Shopify siap mengelola pertumbuhan bisnis dengan lebih percaya diri,” ujar Herunata Joseph, AVP of SME Business Development & Partnership Doku.
Faktanya, kelemahan utama merek lokal sering kali terletak pada tahap scale-up atau akselerasi. Banyak bisnis memiliki produk yang bagus, namun gagal di penyelesaian pembayaran (checkout). Untuk mengatasinya, Doku mengintegrasikan rangkaian solusi mulai dari plugin khusus Shopify, Payment Link, hingga Digital Catalog. Bahkan, ada fitur PayChat yang memungkinkan transaksi terjadi langsung di dalam ruang percakapan, memangkas birokrasi klik yang seringkali membuat calon pembeli membatalkan niatnya.
Namun, kejutan sesungguhnya terletak pada ambisi regional. Di tengah fokus pada "pasar lokal", Doku justru membuka gerbang ekspor digital melalui QRIS cross border atau lintas negara. Fitur ini memungkinkan merek lokal Indonesia menerima pembayaran langsung dari pelanggan di Malaysia dan Singapura.
Ini adalah strategi cerdik; saat pasar dalam negeri sedang jenuh, merek lokal dapat mengincar daya beli tetangga serumpun dengan skema biaya yang tetap kompetitif.Irawan Arif, Founder & CEO Expatify, menekankan bahwa elegansi e-commerce tidak hanya dilihat dari desain situs, melainkan dari seberapa halus (seamless) pengalaman transaksi yang dirasakan pelanggan. “Dukungan Doku sebagai partner pembayaran yang tangguh membantu pengguna Shopify menghadirkan pengalaman terpercaya,” ungkapnya.
Di balik kemilau angka 750 juta transaksi, ada realitas keras bagi UMKM: arus kas (cash flow) adalah napas utama. Doku menjanjikan proses settlement yang efisien untuk menjaga likuiditas merchant tetap terjaga di tengah padatnya stok barang jelang Idulfitri.
Pada akhirnya, IIMS atau pameran otomotif mungkin memamerkan mesin-mesin fisik yang canggih, namun di Semarang, Doku dan Expatify sedang memamerkan "mesin" tak kasat mata—ekosistem pembayaran yang berambisi memastikan bahwa setiap satu sen dari gairah belanja Ramadan tidak ada yang terbuang sia-sia hanya karena kendala teknis.







