Siapa Karen Mulder? Supermodel 90-an yang Kisahnya Kembali Disorot Terkait Epstein Files
Nama Karen Mulder, supermodel asal Belanda yang pernah merajai panggung mode dunia, kembali ramai diperbincangkan di media sosial. Perbincangan ini mencuat seiring dirilisnya sejumlah dokumen terkait jaringan kejahatan seksual Jeffrey Epstein. Meski nama Mulder tidak tercantum dalam berkas tersebut, kisah masa lalunya kembali disorot dan dikaitkan dengan diskusi lebih luas soal dugaan eksploitasi oleh pria-pria berkuasa.
Pada awal 2000-an, Karen Mulder sempat membuat publik geger lewat serangkaian tuduhan pelecehan seksual. Ia mengaku menjadi korban pemerkosaan oleh sejumlah tokoh berpengaruh, mulai dari politisi, petugas polisi, eksekutif industri modeling, hingga anggota keluarga kerajaan. Klaim tersebut kala itu justru menuai keraguan dan membuat Mulder perlahan menghilang dari sorotan publik.
Kini, di tengah meningkatnya kesadaran publik terhadap kasus-kasus pelecehan yang melibatkan elit global, kisah Mulder kembali muncul dan diperdebatkan. Banyak warganet menilai pengakuannya dulu terlalu cepat diabaikan, sementara yang lain mengingatkan bahwa sebagian besar klaim tersebut tidak pernah diverifikasi secara hukum.
Baca Juga : Terjebak Skandal Orang Tua, Putri Eugenie Jalani Masa Tersulit dalam HidupnyaKarier Gemilang di Dunia Mode
Dikutip dari Sunday Guardian Karen Mulder lahir di Vlaardingen, Belanda, dan mulai dikenal luas pada akhir 1980-an hingga 1990-an. Ia menjelma menjadi salah satu supermodel paling sukses di masanya, berjalan di panggung peragaan busana paling prestisius dan membintangi kampanye rumah mode ternama seperti Versace, Dior, Chanel, Yves Saint Laurent, dan Valentino.
Wajahnya menghiasi berbagai edisi internasional Vogue, dan ia juga tercatat sebagai salah satu model awal Victoria’s Secret, membantu mendefinisikan era supermodel tahun 1990-an. Postur tinggi, rambut pirang, dan fitur wajahnya yang ikonik membuatnya dijuluki sebagai “Barbie di kehidupan nyata”.
Di puncak kariernya, Mulder termasuk jajaran model dengan bayaran tertinggi di dunia. Ia menjadi simbol kecantikan global dan figur yang nyaris tak terpisahkan dari industri mode kelas atas saat itu.
Baca Juga : Jerinx SID Sebut Dulu Omongannya Soal Hubungan Covid-19 dan Epstein Files Dianggap HaluTuduhan yang Mengubah Segalanya
Segalanya berubah drastis pada tahun 2001. Dalam sebuah rekaman acara televisi Prancis Tout le monde en parle, Mulder secara terbuka menuduh sejumlah pria berpengaruh melakukan pelecehan seksual terhadapnya, termasuk anggota agensi lamanya Elite Model Management dan Albert II, Pangeran Monako.
Wawancara tersebut tidak pernah ditayangkan, dan rekamannya dilaporkan dihapus. Tak lama setelah itu, Mulder mengulang klaim serupa dalam wawancara lain di Paris. Namun, alih-alih diselidiki secara mendalam, pernyataannya justru memicu skeptisisme luas. Sorotan media saat itu lebih banyak tertuju pada kondisi kesehatan mentalnya daripada substansi tuduhan yang ia sampaikan.
Rawat Inap, Kesehatan Mental, dan Menghilang
Sinopsis Mencintai Ipar Sendiri Eps 55: Bukti-Bukti Terungkap, Ayuna Hancur Telah Mencintai Ipar
Beberapa jam setelah wawancara keduanya, saudara perempuan Mulder membawanya ke Villa Montsouris, sebuah klinik psikiatri di Paris. Ia menjalani perawatan selama beberapa bulan. Biaya perawatan tersebut dilaporkan dibayarkan oleh Gérald Marie, mantan CEO Elite Model Management—sosok yang di kemudian hari juga dituduh oleh sejumlah model melakukan pelecehan seksual.Mulder kemudian diketahui berjuang melawan depresi kronis. Pada tahun 2002, ia sempat melakukan percobaan bunuh diri setelah mengonsumsi pil tidur dalam jumlah besar. Ia ditemukan tak sadarkan diri di apartemennya di Paris dan berhasil diselamatkan setelah dilarikan ke rumah sakit.
Sejak saat itu, Karen Mulder nyaris sepenuhnya menarik diri dari kehidupan publik. Ia memilih hidup jauh dari sorotan media, meski sesekali namanya kembali muncul, termasuk dalam laporan penangkapan singkat di Paris pada 2009. Detail tentang kehidupannya kini tetap sangat terbatas.
Apakah Terkait dengan Jaringan Epstein?
Rilis dokumen terkait Jeffrey Epstein belakangan ini memicu kembali minat publik terhadap kasus-kasus lama yang melibatkan dugaan eksploitasi seksual oleh kalangan elit. Meski tidak ada bukti atau dokumen resmi yang menghubungkan Karen Mulder dengan Epstein atau jaringannya, tuduhan yang ia lontarkan lebih dari dua dekade lalu kembali diangkat dalam diskusi daring.
Sejumlah unggahan media sosial menggambarkan Mulder sebagai “pelapor awal” atas sisi gelap dunia elit, bahkan menyebut ia dibungkam oleh kekuatan besar. Namun, klaim tersebut bersifat spekulatif dan tidak didukung oleh bukti konkret.Reaksi Publik dan Warisan Kisahnya
Media sosial kini menjadi ruang utama bagi kebangkitan kembali kisah Karen Mulder. Sebagian warganet memujinya sebagai sosok berani yang bersuara di saat isu pelecehan belum banyak dibicarakan. Di sisi lain, ada pula yang mengingatkan bahwa klaimnya tetap kontroversial dan tidak pernah diputuskan secara hukum.
Banyak pengamat menilai bahwa stigma terhadap kesehatan mental dan keraguan sistemik terhadap pengakuan perempuan turut memengaruhi cara publik dan media merespons Mulder pada masanya.
Terlepas dari benar atau tidaknya tuduhan tersebut, kisah Karen Mulder menjadi potret kompleks tentang bagaimana suara-suara yang menuduh kekuasaan sering kali diabaikan. Kembalinya namanya ke ruang publik, di era pasca-skandal Epstein, mengingatkan bahwa masih banyak cerita lama yang belum sepenuhnya terjawab dan mungkin tak pernah benar-benar didengar.










