Luka MSCI Belum Kering, IHSG Sepekan Rontok Dijegal Moody's
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup pekan pertama Februari 2026 dengan penurunan tajam di tengah tekanan sentimen global dan domestik. Belum pulih adanya peringatan dari Morgan Stanley Capital International (MSCI), revisi outlook kredit Indonesia oleh Moody's dari stabil menjadi negatif turut membebani pergerakan pasar saham.
"Pergerakan IHSG mengalami perubahan pada pekan ini, yaitu sebesar 4,73 sehingga ditutup pada level 7.935, dari posisi 8.329 pada pekan lalu," ujar P.H. Sekretaris Perusahaan BEI Alit Nityaryana seperti dikutip, Sabtu (7/2/2026).
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2-6 Februari 2026, IHSG ditutup di level 7.935 pada akhir pekan, turun 168,62 poin atau 2,08 pada perdagangan Jumat. Secara mingguan, indeks terkoreksi 4,73 dari posisi 8.329 pada pekan sebelumnya.
Baca Juga:IHSG Karam ke 7.935 Sore Ini, Nyaris Seluruh Sektor Ambruk
Sejalan dengan pelemahan indeks, kapitalisasi pasar BEI juga menyusut 4,69 menjadi Rp14.341 triliun. Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 646 saham ditutup melemah, 107 saham menguat, dan 68 saham stagnan.
Di tengah tekanan pasar, investor asing mencatatkan nilai beli bersih (net buy) sebesar Rp944,31 miliar pada penutupan perdagangan Jumat. Namun secara akumulatif sejak awal tahun, investor asing masih mencatatkan jual bersih sebesar Rp11,02 triliun.
Aktivitas transaksi harian juga mengalami normalisasi setelah periode sibuk sebelumnya. Rata-rata frekuensi transaksi harian turun 28,62 menjadi 2,72 juta kali transaksi, sementara volume transaksi harian berubah 31,75 menjadi 43,2 miliar lembar saham. Rata-rata nilai transaksi harian terkoreksi 43,45 menjadi Rp24,75 triliun, meski masih mencerminkan likuiditas yang relatif tinggi di kawasan.
Baca Juga:Gurita Bisnis Moody's dan MSCI, Benarkah Dikendalikan Bankir Dunia?
Tekanan pasar diperkuat oleh sentimen global setelah Moody's pada 5 Februari 2026 menurunkan outlook kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif. Lembaga pemeringkat tersebut menyoroti menurunnya prediktabilitas kebijakan hingga ketidakjelasan tata kelola investasi Danantara yang berpotensi melemahkan kepercayaan investor terhadap pemerintah.
Mayoritas sektor di BEI bergerak di zona merah, dengan sektor konsumer non-primer turun 5,11, industri melemah 4,1, dan energi terkoreksi 3,22. Saham berkapitalisasi besar menjadi penekan utama IHSG, sementara saham perbankan BUMN juga tertekan sepanjang pekan.
Untuk pekan depan, IHSG diperkirakan masih bergerak volatil dengan kecenderungan konsolidasi. Level dukungan terdekat berada di kisaran 7.850–7.900, sementara resistensi terdekat diperkirakan berada pada rentang 8.050–8.120.










