5 Anime yang Dilarang atau Dibatasi di Berbagai Negara, Death Note hingga High School DxD

5 Anime yang Dilarang atau Dibatasi di Berbagai Negara, Death Note hingga High School DxD

Seleb | okezone | Minggu, 26 Juli 2026 - 19:02
share

JAKARTA - Anime dikenal sebagai karya animasi yang berani mengangkat tema dewasa, kekerasan, hingga isu-isu kontroversial. Tak heran jika beberapa anime berujung dilarang tayang atau dibatasi peredarannya di sejumlah negara.

China menjadi salah satu negara yang memasukkan puluhan judul anime ke dalam daftar konten terlarang di platform online. Selain itu, beberapa negara lain juga pernah melarang distribusi anime tertentu karena dinilai mengandung unsur sensitif atau berpotensi memberi dampak negatif bagi masyarakat.

Berikut ini lima anime yang sempat menjadi sorotan karena kontroversinya:

- Violence Jack

Violence Jack merupakan adaptasi OVA dari manga karya Go Nagai. Anime ini dikenal sebagai salah satu yang paling kontroversial karena menampilkan kekerasan ekstrem, adegan berdarah yang sangat eksplisit, serta kekerasan seksual.

Setelah dirilis secara internasional, anime ini mendapat perhatian dari lembaga sensor di sejumlah negara. Di Inggris, beberapa episodenya ditolak untuk mendapatkan klasifikasi sehingga tidak boleh dijual, diimpor, maupun didistribusikan secara resmi.

Hingga kini, Violence Jack masih dianggap sebagai salah satu anime paling kontroversial yang pernah dibuat.

- Urotsukidoji: Legend of the Overfiend

Urotsukidoji: Legend of the Overfiend menjadi salah satu anime yang paling sering dikaitkan dengan kontroversi sensor. Film ini memadukan kekerasan grafis, body horror, konten seksual eksplisit, serta berbagai adegan yang mengganggu. 

Di Inggris, anime ini sempat mengalami penyensoran besar-besaran sebelum akhirnya dirilis dalam versi yang telah banyak dipotong. Sementara itu, beberapa negara lain memilih melarangnya sepenuhnya.

Di luar kontroversinya, anime ini juga mengubah cara banyak pemerintah memandang anime Jepang. Karya tersebut menunjukkan bahwa anime tidak selalu ditujukan untuk anak-anak sehingga mendorong sejumlah negara menerapkan sistem klasifikasi khusus untuk animasi bertema dewasa.

- Kodomo no Jikan

Kodomo no Jikan menjadi salah satu anime yang paling memecah pendapat di kalangan penggemar. Ceritanya berfokus pada murid sekolah dasar dan menghadirkan sejumlah situasi yang bersifat sugestif. 

Meski demikian, pembuatnya menyebut tujuan utama anime ini adalah mengangkat persoalan psikologis dan sosial. Penyajiannya tetap menuai kontroversi hingga membuat beberapa distributor enggan merilis serial tersebut. 

Di Australia, Classification Board menolak memberikan klasifikasi untuk beberapa versi manganya, sementara animenya juga mendapat pengawasan ketat. Bahkan, banyak penggemar anime yang biasanya menolak penyensoran mengakui bahwa Kodomo no Jikan merupakan karya yang sulit diterima karena tema sensitif yang diangkatnya.

- High School DxD

Meski populer di berbagai negara dan memiliki basis penggemar yang besar, High School DxD juga pernah dilarang di Selandia Baru. Pada 2015, Office of Film and Literature Classification Selandia Baru menolak memberikan klasifikasi untuk OVA High School DxD New: Oppai, Tsutsumimasu!. 

Alasannya, OVA tersebut dianggap menampilkan seksualisasi terhadap karakter yang tampak di bawah umur sehingga melanggar standar hukum setempat. Akibatnya, OVA tersebut dilarang untuk didistribusikan maupun diedarkan di Selandia Baru. 

Larangan itu kemudian dicabut pada 2023 setelah dilakukan peninjauan ulang, dan anime tersebut akhirnya memperoleh klasifikasi R16. Meski begitu, kasus ini tetap menjadi salah satu contoh langka anime populer yang pernah dilarang secara resmi oleh otoritas suatu negara.

- Death Note

Death Note tidak menjadi sorotan karena kekerasan grafis atau konten seksual, melainkan karena kekhawatiran terhadap pengaruhnya di dunia nyata. 

Setelah manga dan animenya meraih popularitas global, sejumlah sekolah di China, Amerika Serikat, dan beberapa negara Asia Tenggara melaporkan adanya siswa yang membuat tiruan “Death Note” dengan menuliskan nama teman sekelas maupun guru di buku catatan yang menyerupai buku dalam cerita.

Kekhawatiran terhadap perilaku meniru tersebut membuat banyak sekolah melarang manga Death Note maupun merchandise terkait dibawa ke lingkungan sekolah.

Bahkan pada tahun 2015, Kementerian Kebudayaan China memasukkan Death Note ke dalam daftar anime yang dilarang di platform online domestik sekaligus membatasi penjualan produk terkait. 
 

Topik Menarik