Baskara Putra Tak Senang Lagunya Dipakai Sound Konten Menyebalkan, Seperti Apa?
JAKARTA - Musisi sekaligus vokalis dari tiga band terkenal .Feast, Hindia, dan Lomba Sihir, Baskara Putra mengungkapkan bahwa dirinya tidak senang jika lagu-lagu yang dibawakannya dijadikan sound atau pengiring untuk konten yang ia anggap menyebalkan.
Hal itu diungkapkan Baskara dalam sebuah klip potongan podcast yang diunggah di akun instagram @authenticity_id. Dalam potongan klip podcast tersebut, awalnya Baskara mengatakan bahwa dirinya sangat senang jika lagu-lagunya banyak digunakan oleh orang di media sosial sebagai sound atau pengiring konten. Menurutnya, hal itu merupakan bentuk penghargaan terhadap karya dan dirinya sendiri.
“Aku senang kalau orang menggunakan lagu aku di media sosial. Itu, walau bagaimanapun bentuknya, merupakan bentuk apresiasi,” kata Baskara, dikutip Kamis (28/5/2026).
Sebaliknya, Baskara mengaku bahwa dirinya tidak senang jika lagu-lagunya justru digunakan untuk konten yang ia anggap menyebalkan. Ia mengungkapkan bahwa salah satu konten yang ia maksud menyebalkan itu seperti unggahan yang berisi aparatur negara, di mana aparat tersebut seolah telah memukuli seseorang.
“Kecuali kalau kontennya menyebalkan. Misalnya menggunakan lagu .Feast tetapi dia sebagai sebuah instrumen aparatur negara, di story-nya itu habis memukuli orang. Itu ada, dan sering,” ucapnya.
Baskara menilai, konten seperti itu sangat berbanding terbalik dengan konteks lagu yang digunakan. Ia pun mengaku sedih saat menemukan konten seperti itu namun menggunakan sound dari lagu-lagunya.
“Kayak, loh ini 180 derajat kebalikan dengan konteks lagunya. Kok nge-post kaya gini. Sedih melihatnya. Maksudnya, sudah campur aduk,” ujar Baskara.
Lagu-lagu yang dimaksud Baskara itu seperti “Kami Belum Tentu” dan “Gugatan Rakyat Semesta”. Ia menilai hal tersebut tidak elok. Ia menilai bahwa semua orang berhak untuk mendengarkan lagu-lagunya baik itu dari .Feast, Hindia, maupun Lomba Sihir. Tapi ia sangat sedih jika lagunya dipakai untuk konten yang jauh berbeda maknanya dengan makna dari lagu tersebut.
“Tidak elok dong, maksudnya kayak, kok begitu sih? Maksudnya aku tidak... aku berusaha, di luar seperti lembaganya segala macam, aku berusaha melihat manusianya sebagai manusia. Maksudnya sah-sah saja, fair-fair saja kalau ada, misalnya, siapapun, apapun pekerjaannya, mendengarkan lagu .Feast, mendengarkan lagu Hindia. Cuma sedih kalau penggunaannya itu jadi salah, jadi bergeser konteksnya seperti itu,” tuturnya.






