Teologi Lingkungan Hidup 16 Asal Usul Alam Semesta Tajalli Tuhan
Konsep tajalli (manivestasi) dipopulerkan oleh Ibn Arabi dalam kitabnya, Fushuh al-Hikam dan Futuhat al-Makkiyah. Ia menjelaskan bahwa alam semesta ini merupakan manivestasi (tajalli) Tuhan. Tajalli adalah transformasi dari maqam atas (al-Maqam al-Ulwiyyah) ke maqam bawah (al-maqam al-sufla).
Berawal dari Sang Dia Yang Maha (Sirr al-Asraar/Sacred of The Sacred) atau biasa disebut Maqam Ahadiyah (The One and Only Stage), kemudian Sang Dia ingin mengenali Dirinya lalu memanivestasikan dirinya dengan memperkenalkan nama-nama-Nya (maqam asma). Manivestasi Awal ini biasa disebut dengan Maqam Wahidiyyah (The Oneness), Entitas Permanen (al-Ayan al-Tsabitah/The Eternal Entity), dan oleh kalangan tarekat disebut juga dengan Nur Muhammad. Maqam ini belum bisa disebut alam karena sesungguhnya masih Dia. Dari Maqam ini nantinya bermanivestasi menjadi alam, yakni manivestasi di luar Dirinya (al-ayan alkharijiyyah/external entity), mulai dari Alam Jabarut, Alam Malakut, sampai ke Alam Mulk/Syahadah, sebagaimana diuraikan dalam artikel terdahulu.
Dalam pandangan tajalli, keberadaan Allah SWT sebagai Tuhan Yang Maha Esa (The One) tidak pernah dipertentangkan dengan wujud manivestasinya yang banyak (The Many). Ibaratnya sebuah tongkat yang berdiri di depan 1000 cermin maka penampakan tongkat itu menjadi 1000 namun aslinya tetap satu. Dari sudut matematika dapat dijelaskan bahwa angka satu dengan bilangan selanjutnya substansinya tetap sama. Tidak mungkin ada angka tiga, 100, 1000, 1000.000, dst tanpa ada angka angka satu. Bukankan satu jut aitu berarti kelipatan satu juta dari angka satu. Tanpa ada angka satu tidak ada bilangan selanjutnya. Angka satu tidak bisa dipisahkan dengan angka selanjutnya karena hubungan antaranya adalah hubungan manifestasi (tajalli). Tentu berbeda dengan pandangan filosof yang menganggap The One dan The Many sebagai dua entitas yang berbeda, karena logikanya dibangun berdasarkan sebab akibat.
Allah SWT sebagai Zata Yang Maha Mutlak tentu tidak terbatas. Dia bisa melakukan apapun yang dikehendaki-Nya. Dia bisa menjadi Maha Dhahir (al-Dhahir) dengan segala kebatinan-Nya dan bisa juga menjadi Maha Bathin (al-Bathin) dengan segala kedhahirannya. Dia bisa menjadi Maha Maha Maskulin (al-Jalal) dan bisa juga menjadi Maha Feminin (al-jamal), dan bisa menjadi Maha Tinggi (al-Al) dengan segala kerendahan-Nya dan bisa menjadi Maha Rendah dengan segala ketinggian-Nya. Tegasnya, Dia bisa menjadi apa saja yang dikehendaki-Nya tanpa ada yang membatasi-Nya.
Alam semesta adalah wujud relatif (mumkin al-wujud/relative existance) dan Allah SWT adalah Wujud Mutlak (Wajib al-Wujud/Absolut Existance). Ibaratnya, tongkat adalah wujud hakiki sedangkan bayangannya adalah wujud relatif. Matahari, api, es, dan laut adalah wujud hakiki, tetapi Cahaya, panas, dingin, dan gelombang adalah wujud nisbi/relatif.
Relasi antara matahari dan sinarnya, api dan panasnya, es dengan dinginnya, laut dengan gelombangnya adalah relasi sebab-akibat (al-sabab wa al-aqibah/cause and effect), bukan relasi Pencipta dan ciapptaan (al-Khaliq wa al-makhluq/Creator and creations). Ketika kita berdiri di depan cermin, gambaran wajah di cermin bukan lukisan kita tetapi efek kita berdiri di depan cermin. Dengan demikian, alam semesta dalam konsep tajalli bukan bukanlah makhluk Tuhan tetapi maniverstasi (tajalli) keberadaan Tuhan. Tuhan dalam konsep tajalli digmbarkan sebagai Yang Maha Wujud Mutlak (al-Haqq/The Thrue). Alam semesta dalam konsep tajalli mirip dengan konsep maya dalam agama Hindu, yang sering disebut antara ada dan tiada.






