Setir Mobil Bisa Bernapas dan Berkomunikasi dengan Pengemudi Dikenalkan
Para peneliti Amerika telah mengembangkan roda kemudi yang dapat mengembang dan mengempis seperti bernapas, memungkinkan pengemudi dan sistem bantuan pengemudi untuk berkomunikasi tanpa perlu mengambil alih kendali kendaraan.
Sebuah tim peneliti dari Universitas Michigan (AS), bekerja sama dengan Institut Penelitian Toyota, telah mengembangkan roda kemudi yang mampu mengubah bentuk untuk berkomunikasi dengan pengemudi.
Fitur unik dari desain ini adalah kantung udara kecil yang terintegrasi langsung ke lingkar kemudi. Kantung udara ini dapat mengembang atau mengempis sebagai respons terhadap sinyal dari sistem bantuan pengemudi, menciptakan sensasi bahwa kemudi "bernapas".Sekilas, desainnya tampak agak aneh. Namun, tujuan tim peneliti bukanlah untuk menciptakan detail interior yang unik, melainkan untuk memecahkan masalah komunikasi antara manusia dan sistem pengemudian semi-otonom.
Banyak mobil modern sekarang memiliki kemampuan untuk mengemudi, menjaga jalur, atau menyesuaikan kecepatan secara otomatis. Namun, teknologi ini tetap mengharuskan pengemudi untuk tetap waspada dan siap bertindak bila diperlukan.
Masalah muncul ketika pengemudi dan sistem bantuan pengemudi membuat keputusan yang berbeda. Dalam beberapa situasi, pengemudi harus campur tangan dengan setir atau pedal rem untuk mendapatkan kembali kendali, yang menyebabkan sistem otomatis dinonaktifkan.Untuk mengatasi masalah ini, sebuah tim peneliti di Universitas Michigan menggunakan kantung udara sebagai alat untuk mengkomunikasikan maksud antara dua pihak.
Kantong udara ditempatkan di area yang sesuai dengan tempat pengemudi biasanya meletakkan tangannya. Para peneliti menyebut ini sebagai zona umpan balik haptik.
Sebagai contoh, ketika sistem bantuan pengemudi ingin mengarahkan kendaraan ke kiri, kantung udara di sebelah kiri roda kemudi akan mengembang untuk memberi tahu pengemudi.
Jika mereka tidak setuju, pengemudi dapat menekan ke bawah untuk mengempiskan airbag, sehingga mengirimkan sinyal umpan balik.
Jika sistem masih menentukan bahwa kemudi ke kiri diperlukan, kantung udara akan terus menghasilkan denyut tekanan yang dapat dirasakan oleh pengemudi.Dengan demikian, alih-alih hanya menerima peringatan melalui sinyal suara atau cahaya, pengemudi dapat berkomunikasi langsung dengan sistem bantuan pengemudi melalui gerakan pada roda kemudi.
Pengemudi memiliki lebih sedikit hal untuk bersaing dengan mobil dalam hal pengendalian.
Untuk menilai efektivitasnya, para peneliti melakukan pengujian pada sistem simulator mengemudi.
Para peserta diharuskan mengemudikan kendaraan melewati tikungan di mana rintangan tak terduga mungkin muncul.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketika menggunakan setir dengan airbag terintegrasi, pengemudi menghabiskan lebih sedikit waktu untuk berebut kendali dengan sistem bantuan pengemudi. Mereka juga lebih jarang mengerem dan merasa lebih percaya diri dalam melakukan manuver kemudi.Menurut siaran pers dari Universitas Michigan, para peserta melaporkan merasa kurang tegang, mengalami penurunan tingkat stres, dan merasa kurang frustrasi saat menggunakan sistem baru tersebut.
Yang menarik, studi ini juga menemukan bahwa pengemudi lebih cenderung mendapatkan kembali kepercayaan pada sistem bantuan pengemudi setelah sistem tersebut membuat keputusan yang salah.
Namun, tim peneliti juga menemukan keterbatasan: dalam beberapa situasi, pengemudi menjadi terlalu bergantung pada sistem otonom.
Ini adalah poin penting karena teknologi bantuan pengemudi saat ini masih belum mampu sepenuhnya menggantikan peran pengemudi.
Terkadang, solusinya bisa dimulai dari detail yang familiar seperti setir mobil, meskipun bentuk dan fungsinya mungkin mengejutkan banyak orang - Foto: Universitas MichiganTerlepas dari hasil awal yang menjanjikan, apakah melengkapi kendaraan dengan kantung udara yang dapat mengembang di roda kemudi benar-benar diperlukan masih menjadi pertanyaan yang belum terjawab.
Sebagai contoh, sistem MB.Drive Assist Pro dari Mercedes-Benz memungkinkan pengemudi untuk menyentuh setir atau pedal rem dengan ringan untuk menyesuaikan pengendalian tanpa langsung menonaktifkan seluruh fungsi bantuan pengemudi.
Dibandingkan dengan menambahkan perangkat keras yang kompleks, solusi ini memanfaatkan kontrol yang sudah familiar bagi pengguna.
Namun, penelitian dari Universitas Michigan menunjukkan arah yang berbeda untuk pengembangan teknologi bantuan pengemudi: tidak hanya membantu mobil untuk mengendalikan diri dengan lebih baik, tetapi juga membantu mobil dan pengemudi untuk memahami niat satu sama lain.



