Hongqi E-HS9: Sopirnya Dipijat, Bosnya Tidak

Hongqi E-HS9: Sopirnya Dipijat, Bosnya Tidak

Otomotif | sindonews | Kamis, 8 Oktober 2026 - 09:07
share

Presiden China itu memang pengguna Hongqi. Untuk kunjungan kenegaraan ada limusin N501. Untuk parade militer ada CA7600J yang beratap terbuka.

Sejak 2022 ada lagi N701, limusin negara yang hanya dibuat 50 unit dalam sepuluh tahun.

Key Opinion Leader (KOL) termahal sedunia. Gratis. Hanya saja, jadwal kontennya tidak bisa diatur.

Masalahnya satu: Pak Xi tidak naik mobil yang dijual di Indonesia.

Yang dipakai Pak Xi sedan panjang. Yang datang ke sini SUV listrik, E-HS9.

Saya bisa memahami pilihan itu. Untuk jalanan Indonesia, SUV lebih masuk akal daripada sedan ceper.

Tampak samping Hongqi E-HS9 berwarna putih yang dipamerkan di Hongqi House, Mampang, Jakarta. Foto: Sindonews/Danang Arradian

Lagi pula E-HS9 bukan mobil pengejar volume. Di China sendiri, E-HS9 adalah papan nama berjalan, tugasnya mengenalkan merek Hongqi.

Saya melihat langsung mobilnya. Di Hongi House, Warung Buncit, Mampang, Jakarta. Kesan pertama: penuh gimik dan filosofi.

Tampak depan Hongqi E-HS9 dengan lampu LED depan dan gril yang disebut terinspirasi aliran air pegunungan. Foto: Sindonews/Danang ArradianLampu LED depannya bisa bergerak. Gril depannya disebut terinspirasi aliran air pegunungan. Ada pula garis merah khas Hongqi yang membentang di tengah.

Terus terang, saya kurang suka tampilannya. China banget.

Padahal, penanggung jawab desainnya orang Eropa: Giles Taylor, bekas kepala desain Rolls-Royce. Tapi Hongqi adalah kebanggaan China. Ia tidak sedang ingin mirip Eropa.

Mau membeli Hongqi, ya harus kenal Chinanya dulu.

Kabin baris depan Hongqi E-HS9 dengan layar lebar di dasbor dan konsol tengah berwarna terang. Kursi pijat hanya tersedia di baris depan. Foto: Sindonews/Danang Arradian

Masuk ke kabin, ceritanya lebih menarik.

Meinisa, CEO of Hongqi House Indonesia, menyebut mobil ini idealnya disetir sendiri oleh pemiliknya. Itu sebabnya kursi pijat hanya ada di baris depan. Baris kedua cukup pengaturan elektrik dan ventilasi.

Di Indonesia, logika itu agak terbalik.

Pemilik mobil Rp1,888 miliar biasanya ingin duduk manis di baris kedua. Dipijat. Disopiri.

Kursi baris kedua Hongqi E-HS9 hanya dilengkapi pengaturan elektrik dan ventilasi, tanpa kursi pijat. Foto: Sindonews/Danang ArradianSesekali menyetir sendiri, iya. Tapi rasanya 98 persen waktunya habis di belakang.

Hasilnya lucu. Yang dapat kursi pijat justru sopirnya. Bosnya kebagian ventilasi.

Denza, kini bernama Danza, hanya bermodal satu MPV untuk penumpang belakang, D9. Dalam sepuluh bulan 2025, D9 terjual 6.757 unit. Lexus di periode yang sama hanya 1.335 unit. Bukti bahwa orang kaya Indonesia lebih suka duduk di belakang.

Soal kemewahan, terus terang ekspektasi saya tidak sepenuhnya terpenuhi.

Tampak belakang Hongqi E-HS9 dengan lampu belakang LED yang membentang di sisi belakang bodi. Foto: Sindonews/Danang Arradian

Mewah, iya. Ada kulit Nappa, Alcantara, dan sistem audio BOSE 16 speaker. Tapi saya pernah melihat kabin lain yang lebih membuat mulut menganga.

Di harga hampir Rp2 miliar, mewah saja tidak cukup. Harus ''wow''.

Lalu siapa pembelinya?

Dugaan saya, mereka yang dulu memakai Lexus, BMW, Jaguar, atau Mercedes-Benz, lalu ingin coba-coba. Orang seperti ini jarang bertanya berapa kilowatt motornya.

Pertanyaannya cuma satu: "You bisa kasih apa?"Hongqi menjawab lewat Hongqi House Mampang. Diler mewah, lengkap dengan upacara teh dan kaligrafi.

Jawaban pertama sopan. Belum jawaban terakhir. Meinisa mengakui mereka masih belajar. Saat ini mereka sedang mempelajari apa maunya konsumen.

"Kami ingin menunjukkan kepada pasar Indonesia bahwa Hongqi tidak hanya hadir sebagai merek dengan sejarah panjang, tetapi juga dengan keseriusan untuk membangun kehadiran yang kuat dan berkelanjutan di Indonesia," katanya.

"Bagi kami, untuk dapat bertahan dan tumbuh, fokusnya tidak hanya pada penjualan, tetapi juga bagaimana kami menghadirkan pengalaman yang lebih personal dan membangun kepercayaan dengan pelanggan."

Niatnya benar. Ujiannya berat.

Hongqi masuk ceruk yang standar layanannya sudah dipatok merek lama selama belasan tahun. Lexus sendiri yakin pelanggannya tidak gampang pindah ke lain hati.

Tahun depan ceruk ini makin sesak. Zeekr menyiapkan SUV 7X untuk kuartal pertama 2027, plus sepuluh Zeekr House tambahan. Lalu Danza juga kabarnya akan memasukkan shooting brake Danza Z9 GT.

Jadi, berhasil? Bisa jadi. Tapi pelan.

Hongqi mengklaim sekitar 40-50 unit sudah diserahkan ke konsumen. Untuk merek yang baru dua bulan berjualan, itu angka yang lumayan.Setelah gelombang pertama, menurut saya tembus 100 unit setahun saja sudah bagus. Rata-ratanya delapan unit sebulan.

Kecil? Coba bandingkan. Pada Mei 2026, Volvo menjual 5 unit, Audi 3 unit, dan Volkswagen 17 unit.

Lexus menjual 125 unit. Artinya, 100 unit setahun kira-kira setara penjualan Lexus dalam sebulan.

Di ceruk ini, angka segitu cukup terhormat.

Kalau mau lebih cepat, resepnya tidak rumit. Pertama, bawa model untuk penumpang belakang. Di negerinya Hongqi punya sedan H9 dan MPV HQ9.

Kedua, branding. Hongqi punya warisan di China. Di Indonesia? Tidak ada yang tahu. Perlu waktu untuk meyakinkan legacy dan kemewahan ini ke konsumen.

Ketiga, sabar. Lexus masuk 2007 dan hanya menjual 46 unit tahun itu.

Butuh 16 tahun sampai Lexus Indonesia mencatat penjualan Lexus tertinggi di Asia Pasifik pada 2023. Itu pun ditopang Toyota Astra.

Wibawa sudah dipinjamkan Pak Xi. Kursi pijat untuk bosnya, Hongqi harus memasang sendiri.

Topik Menarik