Eropa Mulai Cemas, Italia Usulkan Tarif 80 untuk Mobil China

Eropa Mulai Cemas, Italia Usulkan Tarif 80 untuk Mobil China

Otomotif | sindonews | Jum'at, 11 September 2026 - 08:28
share

Persaingan dari produsen China semakin menekan industri otomotif Eropa, sehingga memicu seruan untuk langkah-langkah perlindungan yang lebih agresif.

Baru-baru ini, Roberto Vavassori, Presiden asosiasi pemasok otomotif Italia (Anfia), mendesak Uni Eropa (UE) untuk menerapkan tarif hingga 80 persen terhadap kendaraan dan komponen buatan China yang melampaui ambang batas impor tertentu.

Menurut Reuters, ia mengusulkan agar impor dari China dibebaskan dari tarif hingga mencapai volume yang setara dengan delapan persen dari total pendaftaran kendaraan tahunan di Eropa. Jika angka tersebut terlampaui, tarif sebesar 80 persen akan diberlakukan.

Usulan ini juga mencakup komponen kendaraan, mengingat komponen menyumbang sekitar 80 persen dari total nilai sebuah kendaraan.

"Kami sangat menghargai pencapaian industri China. Namun, rasa hormat itu kini berubah menjadi kekhawatiran," ujarnya.

Merek China Semakin Menguat di EropaKekhawatiran ini muncul seiring dengan terus meningkatnya pangsa pasar merek China di Eropa.

Menurut Asosiasi Produsen Otomotif Eropa (ACEA), merek China menguasai lebih dari sembilan persen penjualan mobil di UE selama paruh pertama tahun ini.

Pada saat yang sama, produsen Eropa sedang bergulat dengan lemahnya permintaan dan persaingan yang semakin ketat; sebagai contoh, Volkswagen baru-baru ini menyetujui rencana restrukturisasi besar-besaran.

Situasi ini juga berdampak pada pemasok asal Italia. Vavassori memperkirakan ekspor komponen otomotif Italia dapat turun sekitar 10 persen tahun ini, dengan potensi penurunan hingga 40–50 persen pada tahun 2028 jika tidak ada perlindungan terhadap impor dari China.

UE Sudah Menerapkan Tarif—Namun Apakah Itu Cukup? UE sebenarnya telah menerapkan tarif tambahan untuk kendaraan listrik (EV) buatan China sejak tahun 2024.Selain tarif impor standar sebesar 10 persen, EV China dikenakan bea tambahan yang bervariasi tergantung pada produsennya, sehingga total beban tarif berkisar antara 18 hingga 45 persen.

Namun, Vavassori menilai langkah-langkah tersebut masih belum cukup untuk melindungi industri otomotif Eropa.

Ia juga mengkritik *Industrial Accelerator Act* (Undang-Undang Akselerator Industri) UE, seraya menyatakan kekhawatiran bahwa kebijakan tersebut justru dapat mendorong lebih banyak impor dari negara-negara seperti Maroko atau Turki, alih-alih memperkuat produksi lokal.

Apakah Pabrik China di Eropa Hanya Sekadar 'Pabrik Perakitan'? Sejumlah produsen asal Tiongkok, seperti BYD dan Chery, saat ini sedang mengalihkan sebagian kegiatan produksi mereka ke Eropa.

Namun, Vavassori mempertanyakan sejauh mana pabrik-pabrik tersebut akan menggunakan komponen dari pemasok lokal.

Ia menyebut operasi ini sebagai "pabrik obeng" (*screwdriver factories*)—yakni fasilitas yang terutama berfokus pada perakitan menggunakan komponen yang diimpor dari Tiongkok atau negara-negara berbiaya rendah.

Akibatnya, kekhawatiran Eropa kini meluas; tidak hanya terbatas pada lonjakan masuknya mobil asal Tiongkok, tetapi juga mencakup dampaknya terhadap pemasok, lapangan kerja, dan keseluruhan rantai pasok industri otomotif lokal.

Topik Menarik