Gedung Putih Salah Sebut Rolls-Royce Investasi Bikin Mobil, Padahal Bangun Mesin Pesawat
JAKARTA, iNews.id - Gedung Putih kembali menjadi sorotan. Mereka mencampuradukkan Rolls-Royce plc dengan Rolls-Royce Motor Cars saat membahas keberhasilan perdagangan Presiden Donald Trump dalam membangun kembali industri otomotif Amerika Serikat (AS).
Dilansir dari Carscoops, kesalahan tersebut muncul ketika Gedung Putih menyinggung investasi Rolls-Royce plc di Amerika Serikat sebagai salah satu contoh perusahaan yang meningkatkan produksi kendaraan di Negeri Paman Sam.
Padahal, Rolls-Royce plc dan Rolls-Royce Motor Cars merupakan dua perusahaan yang berbeda. Rolls-Royce plc merupakan perusahaan teknologi dan manufaktur yang memasok mesin serta sistem untuk berbagai sektor, terutama penerbangan dan pertahanan. Sementara Rolls-Royce Motor Cars merupakan produsen mobil mewah yang dikenal melalui model seperti Phantom, Ghost, Cullinan, dan Spectre.
Kedua perusahaan tersebut juga sudah tidak berada dalam satu perusahaan sejak perpisahan bisnis pada era 1970-an. Rolls-Royce Motor Cars berada di bawah BMW Group. Alhasil, investasi Rolls-Royce plc di Amerika Serikat tidak dapat dijadikan contoh pembangunan kembali industri otomotif seperti yang diklaim Gedung Putih.
Kesalahan tersebut menjadi semakin mencolok karena Gedung Putih memasukkan investasi Rolls-Royce plc bersama sejumlah produsen otomotif yang memang meningkatkan aktivitas manufaktur di Amerika Serikat.
Diketahui, Rolls-Royce plc mengucurkan investasi senilai 75 juta dolar AS untuk meningkatkan produksi mesin di fasilitasnya, Aiken, South Carolina. Perusahaan juga baru menyelesaikan ekspansi senilai 24 juta dolar AS di pabrik Mankato, Minnesota. Namun, investasi tersebut tidak berkaitan dengan produksi mobil Rolls-Royce.
Dalam pernyataannya, Gedung Putih menyebut agenda perdagangan Trump mendorong perusahaan untuk mengalihkan investasi dan produksi ke Amerika Serikat sebagai dampak kebijakan tarif.
Salah satu contoh yang digunakan adalah Ford. Produsen asal Amerika Serikat itu berencana meningkatkan produksi kendaraan Lincoln di dalam negeri mulai 2030, sekaligus secara bertahap menghentikan impor Lincoln Nautilus yang saat ini diproduksi di China.
Selain Ford, pemerintah Amerika Serikat juga menunjuk General Motors, Stellantis, Honda, Toyota, dan Mercedes-Benz sebagai perusahaan yang melakukan investasi manufaktur di Amerika Serikat.
Gedung Putih kemudian menyatakan, "Agenda 'America First' Presiden Trump meraih kemenangan telak atas puluhan tahun praktik pengalihan produksi ke luar negeri. Perusahaan-perusahaan yang dulunya mengejar tenaga kerja murah di luar negeri kini mengucurkan modal ke pabrik-pabrik di AS — menghasilkan kendaraan buatan Amerika, oleh pekerja Amerika, untuk konsumen Amerika."
Pernyataan tersebut kembali memunculkan persoalan ketika Rolls-Royce plc dimasukkan ke dalam konteks industri otomotif. Ini juga bukan pertama kalinya Gedung Putih melakukan kekeliruan serupa. Pada Januari lalu, pemerintah AS juga sempat menyebut investasi Rolls-Royce plc ketika membahas perkembangan manufaktur dan investasi di Amerika.
Jika mengacu pada bisnisnya, Rolls-Royce plc memang memiliki fasilitas produksi besar di Amerika Serikat. Namun, produk yang dibuat berkaitan dengan mesin pesawat, sistem pertahanan, dan teknologi tenaga, bukan kendaraan ultra-mewah Rolls-Royce.
Sementara itu, Rolls-Royce Motor Cars memiliki hubungan dengan BMW Group dan menjalankan bisnisnya sebagai produsen mobil mewah. Perusahaan tersebut memiliki fasilitas produksi utama di Goodwood, Inggris.





