1 SPKLU untuk 47 Mobil Listrik di Jakarta, Charge Anxiety Meningkat untuk Pengguna EV

1 SPKLU untuk 47 Mobil Listrik di Jakarta, Charge Anxiety Meningkat untuk Pengguna EV

Otomotif | sindonews | Kamis, 3 September 2026 - 16:51
share

Ada cerita viral di media sosial. Seseorang mau ngecas mobilnya. SPKLU kosong. Dia langsung parkir. Eh, ada orang ngetok kaca bilang: "Saya sudah ngantri dari dua jam lalu." Tapi mobilnya di mana? "Masih di atas. Mau turun ke sini."

Ternyata beli mobil listrik tidak selalu berarti bebas masalah. Masalah lama, antre bensin, berganti masalah baru: antre cas. Dan cara antrinyapun bisa sama tidak beradabnya.

Di SPBU kita antre dengan mobil. Di SPKLU, kita antre dengan badan.

Ini bukan drama kecil. Ini cerminan masalah besar yang kian tidak bisa diabaikan: infrastruktur pengisian kendaraan listrik Indonesia ketinggalan jauh dari pertumbuhan penggunanya. Lihat datanya.

Akhir 2025, PLN bersama mitra mengoperasikan 4.655 unit SPKLU di 3.007 lokasi di seluruh Indonesia. Naik 44 persen dibanding 2024. Kelihatan hebat.

Tapi populasi mobil listrik roda empat per Februari 2026 sudah menyentuh 119.000 unit. Artinya: satu SPKLU untuk melayani 29 mobil listrik. Rasio 1:29. Jauh dari ideal.Berapa yang ideal? Gaikindo menyebut angka 1:10. Konsumen menginginkan 1:5. Sedangkan pemerintah sendiri, dalam target yang sudah diturunkan, baru mematok 1:17.

Bahkan target 1:17 itu pun tidak tercapai. PLN menargetkan 5.810 SPKLU di 2025 untuk mencapai rasio itu. Realisasinya? Hanya 4.655 unit. Meleset lebih dari 1.150 unit.

Jakarta: Paling Parah

Yang lebih memprihatinkan: distribusinya sangat tidak merata. Jakarta adalah yang paling suram. Rasio SPKLU di DKI mencapai 1:47, satu charger untuk 47 mobil listrik. Banten 1:27. Jawa Barat 1:18.

Per Maret 2026, 73,9 persen atau 3.629 unit dari total 4.911 SPKLU nasional berada di Pulau Jawa. Sumatera 555 unit. Bali-Nusa 283 unit. Kalimantan 226 unit. Sulawesi 162 unit. Papua-Maluku hanya 56 unit.

Jakarta adalah kota dengan pengguna EV paling banyak. Tapi justru rasio SPKLU-nya paling buruk di antara kota-kota besar. Ironis.

Masalah Bukan Hanya Jumlah, Tapi Kecepatan

Dari total 4.655 SPKLU yang ada, komposisi teknologinya juga belum menggembirakan. Yang Ultra Fast Charging (di atas 50 kW) baru 633 unit. Fast Charging 482 unit. Yang mendominasi justru Medium Charging (7-22 kW) sebanyak 2.681 unit. Standard Charging (di bawah 7 kW) sebanyak 859 unit.

Mayoritas SPKLU adalah tipe lambat. Mengisi dari 20 ke 80 butuh satu sampai dua jam. Antrean panjang pun tak terelakkan.

Di sisi lain, pertumbuhan pengguna EV tidak menunggu. Penjualan mobil listrik di Jabodetabek sudah melampaui 25 persen pangsa pasar di Januari-Februari 2026. Dua bulan pertama 2026 saja, total penjualan EV nasional mencapai 22.500 unit. BYD sendirian membukukan lebih dari 10.000 unit dalam dua bulan itu. Ini wajar, mobil listrik jadi pilihan masyarakat Jabodetabek karena banyak benefitnya. Mulai biaya operasional murah, harga semakin terjangkau, insentif pajak, juga non fiskal seperti bebas ganjil genap.

Charge Anxiety: Ketakutan Baru

Fenomena ini di dunia dikenal sebagai charge anxiety. Bukan soal takut kehabisan baterai di jalan. Tapi takut tidak kebagian slot ngecas begitu tiba di SPKLU. Takut antre berjam-jam. Takut menemukan SPKLU yang error atau tidak berfungsi. Takut mobilnya sudah penuh tapi masih terhalang mobil lain yang parkir tanpa bergerak.

"Dalam kondisi ideal, satu charger bisa melayani 10 mobil. Tapi dengan populasi kendaraan listrik mencapai 70 ribu unit, rasio saat ini sekitar satu charger untuk 20 mobil," ujar pakar mobilitas berkelanjutan Mahaendra Gofar dalam sebuah talkshow di JIExpo Kemayoran.

Itu pernyataan beberapa bulan lalu. Kini populasinya sudah 119.000 unit. Rasionya semakin jauh dari ideal.

Komunitas Mobil Elektrik Indonesia (KOLEKSI) bahkan memperingatkan: dengan masuknya mobil listrik murah ke pasar, yang charging rate-nya di bawah 30-40 kW, durasi tunggu di SPKLU bakal semakin panjang. Satu mobil bisa monopoli charger dua hingga tiga jam.

Bandingkan dengan China

Per Juni 2026, China sudah memiliki 23 juta titik pengisian. Rinciannya: 5 juta charger publik dan 18 juta charger privat. Rasionya? 1 charger untuk 2,2 kendaraan listrik.Itu bukan hanya soal jumlah. Teknologinya sudah gila-gilaan. BYD menghadirkan Flash Charger: dari 10 persen ke 80 persen dalam 5 menit. Dari 10 persen ke 97 persen hanya 9 menit. Dongfeng meluncurkan charger 1.500 kilowatt. Geely tidak jauh berbeda.

Di jalan tol China, 98 persen rest area sudah punya SPKLU. Pengguna EV di China sudah tidak lagi bicara soal charge anxiety. Itu sudah masalah masa lalu.

Bagaimana dengan Amerika, Eropa, dan Tetangga Sendiri?

Amerika Serikat per akhir 2025 memiliki sekitar 241.000 titik pengisian publik: 173.000 AC charging dan 68.000 DC fast charging. Fast charging tumbuh 30 persen sepanjang 2025. Eropa lebih jauh lagi. Juni 2026, jaringan publik Eropa mencapai 1,3 juta titik pengisian. Rata-rata 7,5 kendaraan listrik per charger publik. Mereka bergerak menuju 3,5 juta charger di 2030. Di Asia Tenggara, Thailand sudah memimpin. Per Maret 2025, mereka punya 3.720 stasiun dengan 11.622 konektor, termasuk lebih dari 6.000 fast charger. Padahal total EV-nya baru 13 persen dari penjualan nasional.

Singapura lebih impresif dari sisi rasio: lebih dari 15.000 charging point untuk jumlah EV yang relatif kecil. Hasilnya: 1 charger untuk setiap 3 EV. Tidak ada cerita orang "patokkan" slot ngecas dengan badannya sendiri.

Target 2030: Berat, Tapi Tidak Ada Pilihan

PLN menargetkan 30.000 SPKLU di 2030. Saat ini baru 4.911 unit. Artinya dalam empat tahun ke depan, harus dibangun lebih dari 25.000 unit lagi. Lebih dari lima kali lipat dari yang ada sekarang.

Itu bukan pekerjaan mudah. Terutama karena pertumbuhan EV bisa jauh lebih cepat dari pertumbuhan infrastruktur.

"Kami tidak hanya fokus di kuantitas, tapi juga kualitas layanan. Hadirnya teknologi pengisian daya yang lebih cepat diharapkan dapat mengurangi range anxiety para pengguna EV," jelas Direktur Retail dan Niaga PLN, Adi Priyanto, dalam suatu kesempatan.Tapi bagi pengguna EV di Jakarta yang sudah antre berjam-jam, kata-kata itu belum cukup.

Bayangkan seseorang yang beli mobil listrik dengan bangga. Hemat BBM. Ramah lingkungan. Teknologi masa depan.Lalu suatu hari baterai tinggal 15 persen. Dia cari SPKLU. Ketemu. Penuh. Antre. 45 menit baru dapat giliran. Pas sambungkan charger, sistemnya error.

Dia pindah ke SPKLU lain. Jaraknya 3 kilometer. Sampai sana: juga penuh. Dan ada orang berdiri di depan slot kosong, tanpa mobil. Itulah charge anxiety Indonesia, 2026.

Tapi, punya mobil listrik kan harusnya ngecas di rumah saja? Ya semua pembeli mobil listrik tahu itu. Itu namanya kondisi ideal. Tapi, dalam pemakaian sehari-hari, tentu saja masyarakat juga dihadapkan pada kondisi tidak ideal: lupa ngecas, bepergian lebih jauh dari rencana, dan lainnya.

China sudah selesaikan masalah charge anxiety ini. Indonesia masih mendiskusikannya.

Topik Menarik