Test Drive BAIC T1: Bukan yang Paling Bertenaga, tapi Nyaman Dibawa ke Bandung

Test Drive BAIC T1: Bukan yang Paling Bertenaga, tapi Nyaman Dibawa ke Bandung

Otomotif | sindonews | Selasa, 18 Agustus 2026 - 23:17
share

Mobil listrik Rp300 jutaan biasanya punya satu masalah: kompromi. Kalau ingin tenaga besar, baterainya besar. Harga ikut besar. Kalau ingin murah, biasanya ada yang dikorbankan.

BAIC T1 memilih jalan lain. Tenaganya bukan yang terbesar. Baterainya juga bukan yang terbesar. Tapi begitu dibawa dari Alam Sutera ke Bandung, justru kenyamanan yang paling terasa.

Perjalanan dimulai dari BAIC Alam Sutera dengan baterai 95 persen. Rutenya menuju Gerbang Tol Parigi, masuk tol, melewati Jakarta dan sekitarnya, kemudian menuju rest area Cipularang KM 88. Setelah istirahat, perjalanan diteruskan ke restoran Gayem Ning Pawon di Padalarang. Dari sana menuju Hotel GH Universal Bandung.

Total perjalanan hampir 200 km. Mode berkendara bergantian antara Comfort dan Sport.

Sesampainya di GH Universal, baterai tersisa 16 persen. MID di mobil masih menunjukkan estimasi jarak 55 km. Jadi ini bukan sekadar keliling kompleks perumahan. T1 benar-benar dipakai berjalan jauh. Dan di situlah karakter mobil ini mulai terlihat.

BAIC punya tagline T1: Surprisingly. Kata itu ternyata cukup tepat untuk suspensinya. Jalan layang MBZ bukan tempat yang ideal untuk menguji kenyamanan. Permukaannya bisa bergelombang. Ada sambungan. Ada bagian yang terasa bumpy.

T1 melewatinya dengan cukup santai. Bantingan suspensinya empuk. Tidak terasa seperti mobil kecil yang dipaksa menjadi SUV. Kursi depan juga empuk. Kursi belakang pun demikian.

Ini penting karena mobil seperti T1 kemungkinan besar akan dipakai sebagai kendaraan harian keluarga. Bukan hanya untuk mengejar angka akselerasi. Respons pedal gasnya juga menyenangkan.

Motor listriknya menghasilkan tenaga 70 kW atau sekitar 95 PS. Torsinya 176 Nm. Di atas kertas memang kecil. Tetapi karakter motor listrik membuat angka itu tidak terasa seperti mobil loyo. Untuk menyalip, menanjak, atau cruising 100 km/jam, responsnya cukup ringan. Injak pedal, tenaga datang.

Dalam mode Sport, responsnya terasa lebih sigap. Comfort lebih cocok untuk perjalanan jauh. Maka T1 ternyata cukup fun to drive. Bukan fun karena kencang. Fun karena mudah dikendalikan.

T1 memang bukan raja tenaga. Di sinilah calon pembeli harus jujur pada kebutuhannya. BAIC T1 tidak menang di tenaga. Dolphin punya sekitar 201 dk dan torsi 310 Nm. Cloud EV Pro bahkan sekitar 214,5 dk dan 320 Nm. T1 hanya 94-95 dk dan 176 Nm.

Selisihnya jauh. Baterainya juga hanya 42,3 kWh dengan teknologi LFP. Jarak tempuh yang diklaim mencapai 425 km berdasarkan CLTC. Untuk standar WLTC, angkanya 310 km.

Konsumsi energi rata-ratanya diklaim sekitar 11,2 kWh/100 km. Angka konsumsi itu justru menarik. Karena baterainya kecil, tetapi efisiensinya cukup baik untuk penggunaan harian.

Dan perjalanan ke Bandung memberikan gambaran yang lebih nyata: dari 95 persen menjadi 16 persen setelah hampir 200 km dengan kombinasi Comfort dan Sport. Masih ada estimasi 55 km. Tentu angka perjalanan nyata selalu tergantung kecepatan, lalu lintas, temperatur, kontur jalan, dan gaya mengemudi.

Tetapi setidaknya T1 bukan mobil yang membuat pengemudi terus-menerus melihat indikator baterai.

Yang dijual T1 bukan tenaga BAIC tahu diri. Karena itu senjata T1 bukan motor besar. Melainkan ruang dan fitur. Wheelbase-nya 2.770 mm. Paling panjang di kelas pembandingnya. Artinya ruang kabin belakang cukup lega.

Dimensi bodinya 4.337 x 1.850 x 1.573 mm. Panjangnya besar. Lebarnya juga besar. Ground clearance mencapai 181 mm. Ini salah satu angka yang menarik untuk Indonesia. Dolphin hanya sekitar 130 mm. Cloud EV Pro sekitar 170 mm. Selisih 51 mm dengan Dolphin bukan angka kecil.

Jalan berlubang, polisi tidur, jalan kompleks, sampai permukaan tidak rata menjadi lebih bersahabat.

Velgnya 18 inci. Juga yang terbesar di antara pembanding yang disebutkan. Kabinnya malah lebih menarik. Masuk ke dalam T1, kesan mobil murahnya tidak terlalu terasa. Desainnya clean. Dashboard terlihat modern.

Material soft touch dipadukan dengan jok kulit. Kursi pengemudi sudah memiliki pengaturan memory 6-way. Kursi penumpang 4-way. Keduanya dilengkapi ventilated seat.

Ini fitur yang menarik untuk Indonesia. Karena Indonesia panas. Jok berventilasi bukan sekadar aksesori. Kemudian ada panoramic sky curtain sepanjang 2,34 meter tanpa border. Disebut sebagai yang terbesar di kelasnya. Sudut pandang depan mencapai 180 derajat.

Ada electric sunshade pula. Fitur seperti ini memang tidak membuat mobil lebih cepat. Tapi membuat perjalanan lebih menyenangkan.

Layar juga besar. Instrument cluster atau MID berukuran 8,8 inci. Layar utama 15,6 inci. Ada enam speaker. Apple CarPlay dan Android Auto tersedia. Port fast charging depan mencapai 66W.Di depan ada USB A-Port. Di belakang tersedia USB C-Port 27W. Spion sudah elektrik. Kompartemen penyimpanan juga banyak. T1 juga memiliki shifter di sebelah kanan setir.

Ada empat driving mode. Sistem pengereman menggunakan cakram di kedua roda. Suspensinya MacPherson di depan dan torsion beam di belakang. Airbag tersedia empat.

Fitur yang biasanya baru ada di mobil lebih mahal. Yang paling menarik justru fitur keselamatannya.

T1 sudah membawa ADAS Level 2. Total ada 10 fitur ADAS. Ada kamera 540 derajat. Dan ada Automatic Parking Assist atau APA. Untuk mobil di kisaran Rp300 jutaan, ini cukup menarik.

Bukan karena parkir otomatis adalah fitur wajib. Tetapi karena fitur semacam itu biasanya baru terasa ketika mobil sudah lama dipakai. Parkir di tempat sempit. Masuk mal. Keluar dari parkiran yang penuh. Tinggal tekan. Mobil membantu mencari posisi dan mengarahkan kendaraan.

Ada pula Hill Hold Control, Hill Descent Control, Brake Energy Regeneration, Auto Hold, dan EPB.

Yang lebih menarik lagi: T1 punya V2V dan V2L. Artinya energi dari baterai tidak hanya untuk menggerakkan mobil. Bisa digunakan untuk kendaraan lain atau perangkat listrik lain. Mobil berubah menjadi sumber listrik berjalan.

Lalu soal harga? BAIC Indonesia memasang harga khusus Rp373 juta untuk 1.000 pembeli pertama. Harga normalnya Rp393 juta. Ini yang membuat pertarungan T1 menjadi menarik. Dolphin berada di kisaran Rp369 juta-Rp429 juta. Cloud EV Pro berada di kisaran Rp415 juta-Rp443 juta dalam materi pembanding.Tetapi jangan membeli T1 hanya karena harga. Karena kalau ukurannya tenaga dan kapasitas baterai, T1 memang kalah. Dolphin dan Cloud EV Pro lebih unggul di atas kertas.

Dolphin punya tenaga sekitar 201 dk dan torsi 310 Nm. Cloud EV Pro sekitar 214,5 dk dan 320 Nm. Baterai mereka juga sekitar 60 kWh. T1 hanya 42,3 kWh.

Jarak tempuh T1 425 km CLTC, sementara Dolphin diklaim 490 km dan Cloud EV Pro 495 km dengan standar pengukuran yang berbeda.

Jadi angka tersebut tidak sepenuhnya apple-to-apple.

T1 juga tidak memiliki beberapa fitur yang ditawarkan kompetitor seperti wireless charger, Wi-Fi connectivity, NFC key card, serta audio Dirac 6-speaker pada Dolphin. Cloud EV Pro menawarkan reclining bangku belakang hingga 135 derajat.

ADAS T1 juga 10 fitur. Cloud EV Pro 13. Jadi jelas. T1 bukan mobil yang menang di semua kategori. Tapi setelah hampir 200 km, ada satu kesimpulan

T1 bukan dibuat untuk menjadi mobil listrik paling kencang. Bukan juga untuk menjadi mobil dengan baterai paling besar. BAIC memilih ruang kabin, ground clearance, kenyamanan, efisiensi, dan kelengkapan fitur.

Dan setelah dibawa dari Alam Sutera sampai Bandung, pilihan itu jadi menarik.

Topik Menarik