Langkah Berani VinFast Pasarkan Motor Listrik, Siapkan Tukar Baterai hingga Infrastruktur
JAKARTA - VinFast ikut meramaikan pasar motor listrik di Indonesia. VinFast hadir dengan sejumlah strategi untuk mempercepat adopsi motor listrik yang hingga kini dinilai masih terdapat sejumlah tantangan.
1. Tantangan Adopsi Motor Listrik
Pengamat otomotif, Yannes Pasaribu, mengungkapkan masih terdapat sejumlah tantangan untuk masyarakat beralih dari motor bensin ke motor listrik. Hal ini mulai dari capital expenditure (capex), infrastruktur, hingga baterai.
"Tantangan utama masyarakat beralih ke motor listrik masih berkisar pada Capex, kepastian infrastruktur di luar kota besar, konsistensi layanan purna jual, dan residual value yang belum stabil hingga kini," ujarnya kepada Okezone, dikutip Sabtu (15/8/2026).
Selain hal itu, tantangan lainnya masih berkutat pada baterai hingga pembiayaan. Selain itu, proses adopsi juga terhambat lantaran standardisasi baterai.
"Kebiasaan baterai harus dimiliki, pembiayaan ritel yang belum kompetitif, serta fragmentasi standar baterai antar merek juga masih menghambat proses adopsinya," ucapnya.
Yannes mengatakan, konsumen Indonesia juga masih sangat dipengaruhi bukti sosial. Ia melanjutkan, selama belum banyak pengemudi yang secara terbuka merasakan penghematan harian, adopsi massal akan lambat.
"Jadi, solusinya terletak pada fokus membangun bukti operasional nyata di jalanan, memperkuat ekosistem layanan, dan menyederhanakan akses pembiayaan agar perpindahan terasa aman dan menguntungkan," tuturnya.
Untuk mengatasi hal ini, ia menilai, perlu investasi yang besar dan waktu yang tidak sebentar.
"Untuk itu diperlukan investasi yang sangat besar untuk waktu yang cukup panjang antara 5-10 tahunan ya," ucapnya.
2. Motor Listrik VinFast
Di sisi lain, VinFast kini juga memasarkan motor listrik di Indonesia. Indonesia menjadi salah satu dari lima pasar prioritas dengan potensi pertumbuhan tinggi, bersama Filipina, India, Thailand, dan Malaysia, yang akan menjadi fokus percepatan ekspansi lini e-scooter VinFast mulai 2026.
Sebagai tahap awal, brand asal Vietnam itu meluncurkan 3 model, yaitu Evo, Feliz II, dan Viper. Ketiganya meluncur pada medio Juli 2026.
VinFast menargetkan spektrum konsumen yang luas, mulai dari pelajar, pekerja profesional, keluarga muda, hingga pekerja gig economy seperti pengemudi ride-hailing dan kurir.
Bagi kelompok pengguna ini, efisiensi biaya dan keberlangsungan operasional menjadi pertimbangan yang sangat penting dalam memilih kendaraan sehari-hari.
3. Strategi VinFast Pasarkan Motor Listrik
Terkait hal ini VinFast menghadirkan kebijakan baterai yang fleksibel, termasuk skema langganan baterai untuk menekan biaya awal pembelian serta solusi battery swapping guna meminimalkan waktu pengisian daya. Solusi ini dinilai relevan bagi pengguna dengan mobilitas tinggi karena dapat meningkatkan produktivitas sekaligus efisiensi biaya.
VinFast juga mengembangkan ekosistem terintegrasi guna menjawab berbagai tantangan utama dalam adopsi kendaraan listrik di Indonesia.
Salah satu fokus utama perusahaan adalah pembangunan infrastruktur baterai. VinFast akan mengimplementasikan model hybrid yang menggabungkan pengisian daya di rumah dan sistem battery swapping untuk memberikan fleksibilitas bagi pengguna dengan kebutuhan berbeda.
Jaringan battery swapping ini dikembangkan bersama V-Green, dengan stasiun percontohan yang saat ini mulai dihadirkan di Jakarta.
Pada 2026, VinFast menargetkan pembangunan ribuan stasiun battery swapping di Jakarta dan berbagai kota besar lainnya. Pengembangan infrastruktur ini dilakukan secara paralel dengan ekspansi jaringan dealer dan distribusi kendaraan untuk memastikan kesiapan operasional.
Dari sisi jaringan penjualan, VinFast telah menggandeng puluhan mitra dealer di sejumlah kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Bali. Perusahaan menargetkan ekspansi hingga ratusan outlet di seluruh Indonesia pada akhir 2026, dengan fokus pada kualitas layanan purna jual.
VinFast juga membuka peluang integrasi e-scooter ke dalam layanan mobilitas, termasuk potensi kolaborasi bersama mitra ekosistem, seperti Green SM. Strategi ini bertujuan menyeimbangkan penjualan ritel dan kebutuhan armada komersial agar pertumbuhan keduanya dapat berjalan beriringan.
Untuk menjaga daya saing di tengah dominasi pemain lama dengan rantai pasok lokal yang kuat, VinFast menerapkan strategi lokalisasi secara bertahap. Pada tahap awal, perusahaan akan menggunakan skema Completely Built-Up (CBU) sebelum beralih ke perakitan lokal Completely Knocked Down (CKD) pada 2027.
“Pada tahap awal, daya saing kami dibangun melalui efisiensi operasional dan pengelolaan rantai berskala besar,” ujar CEO VinFast e-Scooter Indonesia, Yordan Satriadi.
“Seiring meningkatnya tingkat lokalisasi, struktur biaya dan kemandirian rantai pasok kami juga akan semakin kuat,” ujarnya,
Melihat hal tersebut, VinFast tampaknya telah menyiapkan sejumlah strategi matang untuk memasarkan motor listrik. Mulai dari tukar baterai, pendirian stasiun battery swapping, integrasi layanan mobilitas, hingga lokalisasi.
"VinFast berani berinvestasi di sini," tutur Yannes Pasaribu.



