Heboh! Mobil Bermesin Pesawat Bom Nuklir Nyaris Dilelang, Tenaganya Tembus 6.930 Tenaga kuda
JAKARTA, iNews.id – Dunia otomotif kembali menyoroti salah satu kendaraan paling unik dalam sejarah balap kecepatan darat, Flying Caduceus. Mobil jet legendaris yang ditenagai mesin bekas pesawat pembom nuklir Amerika Serikat itu sempat dijadwalkan dilelang dengan nilai mencapai 90.000 dolar AS atau sekitar Rp1,6 miliar, sebelum akhirnya ditarik secara misterius dari daftar penjualan.
Flying Caduceus bukan sekadar mobil balap biasa. Kendaraan yang dibangun pada 1960 itu dikenal sebagai salah satu pelopor mobil pemecah rekor kecepatan darat bertenaga jet pertama di dunia. Keberadaannya menjadi tonggak penting dalam perkembangan teknologi kendaraan berkecepatan ekstrem.
Mobil tersebut semula akan dilelang oleh Bonhams dalam ajang National Automobile Museum Auction di Reno, Nevada, Amerika Serikat. Estimasi harga antara 70.000 hingga 90.000 dolar AS, kendaraan bersejarah itu dijadwalkan dijual tanpa harga minimum. Namun, menjelang pelaksanaan lelang, pihak penyelenggara mengumumkan lot tersebut ditarik dari penjualan.
Keputusan itu memicu tanda tanya di kalangan kolektor dan penggemar otomotif. Sebab, Flying Caduceus memiliki nilai sejarah yang jauh melampaui harga jualnya.
Kendaraan ini dirancang oleh Dr Nathan Ostich pada akhir 1950-an. Saat mayoritas kendaraan pemecah rekor masih mengandalkan mesin piston konvensional, Ostich memiliki visi berbeda dengan memanfaatkan teknologi turbojet untuk menembus kecepatan lebih dari 500 mph atau sekitar 805 km/jam.
Ambisi tersebut bahkan tergambar pada speedometer mobil yang menunjukkan skala hingga lebih dari 700 mph. Namun, tantangan terbesar yang dihadapi bukanlah tenaga mesin, melainkan kemampuan ban untuk bertahan pada putaran ekstrem.
Berdasarkan catatan sejarah, Ostich dan timnya menyadari ban biasa akan hancur ketika digunakan pada kecepatan yang mereka targetkan. Untuk mengatasi masalah itu, perusahaan ban Firestone ikut terlibat dalam proyek pengembangan roda dan ban khusus yang mampu menahan gaya putar luar biasa besar.
Bongkar Kelakuan Ryan Wijaya setelah Nikah, Ranty Maria Sering Diperangkap dalam Selimut Dikentuti
Sumber tenaga Flying Caduceus berasal dari mesin turbojet General Electric J47-19. Mesin tersebut sebelumnya digunakan sebagai pendorong tambahan pesawat pembom strategis Convair B-36 Peacemaker milik Angkatan Udara Amerika Serikat pada awal era Perang Dingin.
Turbojet tersebut mampu menghasilkan daya dorong sebesar 5.200 pound. Jika dikonversi, tenaga itu setara dengan sekitar 6.930 horsepower (hp), angka yang sangat besar bahkan untuk standar kendaraan performa tinggi masa kini.
Mesin raksasa itu dipasang pada rangka tubular berdiameter empat kaki yang dibungkus bodi aluminium ringan. Flying Caduceus juga dilengkapi suspensi independen empat roda, rem cakram, dan parasut sepanjang delapan kaki yang berfungsi membantu proses pengereman setelah melesat pada kecepatan tinggi.
Meski tidak pernah berhasil mencapai target 500 mph, Flying Caduceus mampu mencatat kecepatan 359,7 mph atau sekitar 579 km/jam selama sesi pengujian. Pencapaian tersebut menjadi bukti bahwa konsep mobil kecepatan darat bertenaga jet benar-benar dapat diwujudkan.
Keberhasilan itu membuka jalan bagi lahirnya kendaraan-kendaraan pemecah rekor berikutnya, termasuk Spirit of America karya Craig Breedlove, program Thrust milik Richard Noble, hingga Thrust SSC yang dikendarai Andy Green dan masih memegang rekor kecepatan darat dunia hingga saat ini.
Meski namanya tidak sepopuler para penerusnya, Flying Caduceus memiliki peran penting dalam sejarah otomotif. Kendaraan ini menjadi fondasi bagi pengembangan mobil-mobil tercepat yang pernah dibuat manusia.
Kini, nasib Flying Caduceus masih menjadi misteri setelah penarikannya dari lelang. Namun satu hal yang pasti, mobil jet yang ditenagai mesin bekas pesawat pembom nuklir tersebut telah mengamankan tempat istimewa dalam sejarah balap kecepatan dunia.







