GoPro Sekarat: Dari Bintang Wall Street Rp198 Triliun Jadi Saham Receh
GoPro mengaku kepada investornya: mungkin tidak sanggup bertahan 12 bulan ke depan.
Pengakuan itu bukan main-main. Tertulis resmi. Dalam dokumen 8-K yang diserahkan ke otoritas bursa Amerika (SEC). Tanggal 1 Juni 2026.
Auditornya, PricewaterhouseCoopers (PwC), memberi peringatan keras: ada "keraguan substansial atas kemampuan perusahaan untuk melanjutkan usaha". PwC sudah mengaudit GoPro sejak 2011. Jadi mereka tahu betul kondisinya.
Alasannya: rugi operasi terus-menerus. Arus kas negatif. Dan utang yang jatuh tempo dalam setahun.
GoPro rugi bersih USD93,5 juta — sekitar Rp1,68 triliun — sepanjang 2025. Tahun sebelumnya lebih parah: rugi USD432,3 juta, atau sekitar Rp7,78 triliun, di 2024.Penjualan turun. Lalu ada beban baru: harga komponen memori naik 80 sampai 110 persen. Pasokannya pun berkurang — imbas krisis chip akibat ledakan AI. April dan Mei 2026 disebut "makin lesu".
Pasar langsung bereaksi. Saham GoPro (NASDAQ: GPRO) jatuh dari USD1,26 (sekitar Rp22.680) pada Jumat ke sekitar USD1,10 (Rp19.800) di Senin. Selasa pagi di kisaran USD1,11 (Rp19.980).
Ini saham receh. Penny stock. Padahal dulu lain ceritanya.
GoPro lahir dari karet gelang dan papan selancar. Pendirinya Nick Woodman. Lulusan seni rupa UC San Diego tahun 1997. Idenya muncul saat berselancar di Australia dan Indonesia pada 2002. Ia mengikat kamera 35 mm ke pergelangan tangannya. Untuk merekam dirinya sendiri di air. Modalnya pinjaman: sekitar USD235.000 (Rp4,23 miliar) dari orang tuanya. Sambil jualan kalung manik-manik dan kerang dari dalam mobil Volkswagen. Kamera GoPro pertama dijual sekitar USD30 — kira-kira Rp540.000.
Ini percobaan ketiga Woodman bikin startup. Dua sebelumnya gagal. Termasuk usaha gim bernama Funbug, yang ambruk pada 2001 dan menelan uang investor USD3,9 juta (Rp70,2 miliar). Ketakutan gagal lagi itulah, kata Woodman, yang membuatnya ngotot.GoPro melantai di bursa pada 26 Juni 2014. Harga perdananya USD24 (Rp432.000) per lembar. Investor suka konsepnya: perusahaan hardware yang sekaligus merek media. Videonya ditonton miliaran kali di YouTube.
Hari pertama saja sudah meroket. Ditutup di USD31,34 (Rp564.120). Nilai perusahaan hampir USD4 miliar — sekitar Rp72 triliun.
Intip Deretan Mobil Modifikasi di The Elite Showcase 2026, BBS Pamer Juara Audio Car Dunia
Puncaknya 7 Oktober 2014. Saham tembus rekor USD93,85 (Rp1.689.300). Nilai pasar GoPro lewat USD11 miliar. Setara Rp198 triliun.
Woodman sempat jadi CEO bergaji tertinggi di Amerika. Paket saham terbatasnya, di akhir 2014, ditaksir USD284,5 juta — sekitar Rp5,12 triliun. Nomor satu di Bloomberg Pay Index.
Lalu mulai merosot.Penyebabnya klasik. Kamera ponsel makin bagus. Orang biasa tak lagi butuh kamera terpisah. Pesaing murah menggerogoti dari bawah.
Taruhan besar GoPro untuk melebar gagal total: drone Karma. November 2016 ditarik dari pasaran. Sekitar 2.500 unit. Sebabnya: kehilangan daya saat terbang — sebagian jatuh dari langit. Lini drone itu dihentikan pada 2018. Saat itu, gaji tunai Woodman dipangkas jadi USD1 saja — Rp18.000. Lebih dari 20 persen karyawan dirumahkan.
Kini tekanan datang lagi. GoPro sudah memangkas 23 persen karyawannya. Juga sedang menimbang tawaran untuk menjual perusahaan.Tapi belum tentu kiamat.
Dokumen seperti ini tidak otomatis berarti bangkrut. GoPro sendiri menegaskan: belum ada rencana spesifik mengajukan kebangkrutan. Tanpa pendanaan baru atau transaksi strategis, kemampuan bertahannya memang terancam — tapi pintu belum tertutup.
Ada contoh harapan. Kodak mengajukan pernyataan serupa tahun lalu. Lalu melunasi utang lewat dana pensiun. Akhir tahun justru tumbuh.Dan ada satu hal yang luput dari dokumen itu: GoPro Mission 1. Seri kamera baru. Sensornya 1 inci, mampu rekam 8K. Baru mulai dikirim beberapa hari lalu. Termasuk varian Mission 1 Pro.
Produk baru itu tidak disebut dalam laporan keuangan. Bisa jadi penyelamat. Bisa jadi terlambat.
Cerita karet gelang dan papan selancar itu belum tamat. Tapi babak ini yang paling berat.
FAQ
Apakah GoPro akan bangkrut?
Belum tentu. Dalam dokumen 8-K ke SEC pada 1 Juni 2026, GoPro dan auditornya PwC menyatakan ada "keraguan substansial" atas kemampuan bertahan. Namun GoPro menegaskan belum ada rencana spesifik mengajukan kebangkrutan. Tanpa pendanaan baru atau transaksi strategis, kemampuannya bertahan memang terancam.Kenapa GoPro mengalami kesulitan keuangan?
Penjualan terus turun karena kamera ponsel makin bagus dan pesaing murah menggerogoti pasar. Ditambah rugi besar dua tahun beruntun, lonjakan biaya memori 80–110 persen, dan kegagalan diversifikasi seperti drone Karma.Berapa kerugian GoPro?
GoPro mencatat rugi bersih USD93,5 juta (sekitar Rp1,68 triliun) pada 2025 dan USD432,3 juta (sekitar Rp7,78 triliun) pada 2024.Siapa pendiri GoPro?Nick Woodman, lulusan seni rupa UC San Diego 1997. Ide GoPro muncul saat ia berselancar di Australia dan Indonesia pada 2002, dengan modal pinjaman sekitar USD235.000 (Rp4,23 miliar) dari orang tuanya.


