Laba Turun, Penjualan Anjlok! BYD Tetap Ngotot Jual 1,5 Juta Mobil di Luar China
Di tengah tekanan laba dan penurunan penjualan domestik, ambisi global BYD justru semakin agresif—menargetkan penjualan 1,5 juta mobil di luar China pada 2026.
Target ini naik sekitar 15 persen dari proyeksi awal 1,3 juta unit pada Januari, sekaligus menegaskan bahwa pasar internasional kini menjadi tumpuan baru. Bahkan, BYD meyakini lebih dari separuh bisnisnya di masa depan bisa berasal dari luar China.
Namun, optimisme ini datang di saat yang tidak ideal. Secara finansial, BYD mencatat penurunan laba bersih kuartal IV sebesar 38 persen—lebih buruk dari ekspektasi pasar. Secara tahunan, laba turun 19 persen menjadi 32,6 miliar yuan atau sekitar Rp554,2 triliun, penurunan pertama sejak 2021.
Di sisi pendapatan, perusahaan tetap mencatat rekor dengan total 804 miliar yuan atau setara Rp13.668 triliun, tumbuh 3,5 persen. Angka ini bahkan melampaui Tesla yang mencatat pendapatan 94,8 miliar dollar AS atau sekitar Rp1.611,6 triliun.
Namun, pertumbuhan pendapatan tidak mampu menahan tekanan profitabilitas. Kompetisi sengit di pasar domestik China menjadi penyebab utama. BYD bahkan mengalami penurunan penjualan selama enam bulan berturut-turut.Pada periode Januari–Februari 2026, total penjualan turun 36 persen secara tahunan menjadi 400.241 unit. Meski ekspor meningkat, hal itu belum cukup menutup lemahnya permintaan domestik.
Chairman BYD, Wang Chuan-fu, mengakui kondisi ini. “Kompetisi di industri kendaraan energi baru telah mencapai tahap ‘knockout’ yang brutal,” tulisnya.
Tekanan juga datang dari perang harga di China serta berkurangnya subsidi pemerintah untuk kendaraan listrik. Situasi ini memaksa produsen untuk mencari margin lebih tinggi di luar negeri.
Di sinilah strategi BYD berubah. Ekspor menjadi titik terang. Pada 2025, penjualan luar negeri melonjak lebih dari dua kali lipat menjadi hampir 1,1 juta unit, menyumbang 22,7 persen bisnis. Bahkan pada dua bulan pertama 2026, kontribusi ekspor sudah mendekati 50 persen.
BMW Pekerjakan Robot Humanoid di Pabrik Perakitan Baterai, Kerja Tanpa Istirahat dan Dibayar
Namun ekspansi global bukan tanpa tantangan. BYD harus menghadapi regulasi ketat, tarif impor, kebutuhan jaringan dealer, logistik, hingga membangun kepercayaan konsumen di pasar baru.Untuk itu, BYD menyiapkan investasi besar dengan membangun pabrik di Hungaria dan Turki, serta mempertimbangkan fasilitas ketiga. Bahkan, perusahaan membuka peluang mengakuisisi produsen otomotif lama untuk mempercepat penetrasi pasar global.
Dari sisi teknologi, BYD juga mencoba bangkit. Mereka meluncurkan generasi terbaru baterai “Blade” yang mampu mengisi hampir penuh dalam waktu sekitar sembilan menit—sebuah terobosan yang dapat menjadi senjata utama dalam persaingan global.
Selain itu, model-model baru diperkenalkan dengan teknologi terkini guna mengembalikan daya saing di pasar domestik.
Secara global, posisi BYD tetap kuat. Pada 2025, mereka menjual 2,26 juta kendaraan listrik, naik 28 persen, melampaui Tesla yang mencatat 1,64 juta unit dan turun 9 persen.
Namun, analis seperti Chris Liu dari Omdia menilai BYD tidak bisa lagi bergantung pada pasar massal EV untuk mempertahankan volume. Artinya, ekspansi global bukan sekadar opsi, melainkan kebutuhan.
Di tengah naiknya harga minyak akibat konflik global, minat terhadap kendaraan listrik diprediksi kembali meningkat. Ini menjadi peluang bagi BYD untuk memanfaatkan momentum, baik di pasar domestik maupun internasional.
Pada akhirnya, BYD kini berada di persimpangan: antara tekanan besar di rumah sendiri dan peluang luas di panggung global. Jika strategi ekspansi ini berhasil, peta kekuatan industri otomotif dunia bisa benar-benar bergeser dari Barat ke Timur.










