Agrinas Borong 70 Ribu Truk Tata Motors yang Sudah Terdepak dari Gaikindo dan Jualan 0 Unit di 2025

Agrinas Borong 70 Ribu Truk Tata Motors yang Sudah Terdepak dari Gaikindo dan Jualan 0 Unit di 2025

Otomotif | sindonews | Selasa, 24 Februari 2026 - 12:02
share

PT Agrinas Pangan Nusantara sudah meneken kontrak pengadaan 105.000 kendaraan niaga impor dari India senilai Rp 24,66 triliun untuk operasional Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Dari total tersebut, Tata Motors bak mendapat durian runtuh dengan memborong porsi pesanan terbesar, yakni 70.000 unit yang terdiri dari 35.000 unit Tata Yodha Pick-Up dan 35.000 unit truk ringan Ultra T.7. Sementara 35.000 sisanya diisi oleh merek India lainnya, Mahindra Scorpio Pik Up.

Pesanan 70.000 unit ini bukan sekadar angka kesepakatan dagang biasa, melainkan langkah luar biasa sepanjang sejarah Tata Motors di Tanah Air. Sebagai perbandingan skala, 70.000 unit ekuivalen dengan total volume penjualan Tata Motors di seluruh dunia dalam 1 satu bulan.

Kritik tajam langsung tertuju pada rekam jejak eksistensi merek ini di Indonesia. Bagaimana mungkin sebuah megaproyek logistik nasional yang vital diserahkan kepada pabrikan yang secara de facto "mati suri" di pasar domestik?

Merek “Hantu” yang Terdepak dari Gaikindo

Faktanya, sebelum pesanan raksasa ini turun pada Februari 2026, Tata Motors melalui agen pemegang mereknya, PT Tata Motors Distribusi Indonesia (TMDI), berada di titik nadir. Pada Agustus 2025, Tata Motors dikabarkan resmi keluar dari keanggotaan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo).Sekretaris Umum Gaikindo, Kukuh Kumara, menjelaskan bahwa pemutusan keanggotaan dipicu oleh ketidakpatuhan merek tersebut dalam melaporkan data penjualan. Keengganan melapor tersebut sangat beralasan jika kita melihat rapor merah penjualan mereka. Angka wholesales (distribusi pabrik ke diler) Tata Motors pada periode Januari hingga Juli 2025 tercatat persis di angka nol (0) unit.

Untuk melihat kontras yang mencolok, berikut adalah sejarah kelam penurunan tajam data penjualan Tata Motors sejak masuk ke Indonesia:

2016: 976 unit (Awal peluncuran)2017: 1.065 unit2018: 1.111 unit (Puncak penjualan)2019: 810 unit2020: 235 unit2021: 173 unit2022: 205 unit2023: 31 unit2024: 1 unit2025: 0 unit (Berdasarkan data Januari - Juli)

Bom Waktu Layanan Purnajual

Di balik euforia Direktur PT TMDI, Asif Shamim, yang mengklaim bahwa "pesanan ini mencerminkan penerimaan yang berkelanjutan terhadap kendaraan komersial India di pasar internasional dan kepercayaan pelanggan," tersimpan ancaman krisis purnajual (after-sales) yang nyata di lapangan.

Sayangnya, kepercayaan diri Tata Motors berbanding terbalik dengan fakta dilapangan. Menurut data resmi perusahaan, Tata Motors di Indonesia saat ini hanya ditopang oleh 10 jaringan diler yang tersebar sangat terbatas: tiga diler di Jakarta, serta masing-masing satu diler di Bandung, Banyumas, Semarang, Lampung Selatan, Kalimantan Barat, dan Balikpapan.

Mengawal operasional harian 70.000 unit kendaraan niaga pekerja keras yang tersebar di pelosok desa seluruh Indonesia hanya dengan 10 bengkel resmi adalah sebuah kemustahilan logistik. Di tengah jalanan pedesaan yang menuntut keandalan tinggi, kelangkaan suku cadang dan lambatnya respons servis dari merek India ini berisiko besar mengubah aset triliunan rupiah milik negara menjadi rongsokan besi dalam waktu singkat.

Keputusan Agrinas menunjuk pabrikan dengan riwayat penjualan nol unit dan jaringan servis prematur sebagai tulang punggung logistik Koperasi Merah Putih pada akhirnya bukan hanya membunuh potensi industri perakitan lokal, tetapi juga mempertaruhkan keberhasilan distribusi pangan nasional itu sendiri.

Topik Menarik